Tentang Ujian

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” (AlAnkabut 2)

Tak kurang 1 bulan lalu, saya merasakan ujian yang membuat saya berpikir bahwa memang beginilah cara Allah menunjukkan kasih sayang pada hamba-Nya, menunjukkan bahwa hamba-Nya telah melalui jalan yang salah, menunjukkan bahwa Dia peduli tentang apa yang dilakukan dan apa yang ada dalam hati hamba-hamba-Nya.

Satu bulan lalu, masih terasa bahwa shubuh itu saat mendengar suara beliau di ujung telepon, “kecelakaan, bapak cuma lecet-lecet saja di muka dan kaki”

Hati mencelos, langsung terbayang bagaimana keadaan beliau, dan saya yakin beliau hanya membuat agar hati saya tenang dengan menambahkan kata ‘cuma’ saat menjelaskan keadaan yang beliau alami. Hati mencelos, langsung terbayang bagaimana kronologisnya, saat beliau menceritakan bagaimana beliau terlempar dari motor, tak sadarkan diri, sedangkan kakak kedua saya memeluk beliau sambil menangis.

Hati mencelos, saya tersedu, menangis, menyalahkan semuanya. Menyalahkan Bapak yang memaksakan diri pergi menyalahkan Kakak yang tidak hati-hati, menyalahkan sepupu yang berkhitbah hari itu. Termasuk diri saya sendiri yang tidak bisa berada di sana saat beliau membutuhkan. Maka dalam hatipun berteguh, selepas pelatihan pembina pramuka saya akan pulang ke rumah.

Dan Allah punya rencana lain saat itu, di perjalanan pulang ke rumah, saya mendapat kejutan lain dari Allah. Sudah terlalu larut saat saya tiba di terminal Serang malam itu, bis menuju Labuan sudah tidak ada lagi, maka seperti biasa saya putuskan untuk bermalam di masjid di terminal pakupatan, menunggu waktu shubuh sebelum melanjutkan ke rumah. Seperti yang biasa saya lakukan bila pulang dari saat kuliah dulu. Mungkin karena terlalu capek, saya yang biasanya terjaga di perjalanan, malam itu pulas di teras masjid, Adzan shubuh yang membangunkan. Dan saat tersadar ransel yang saya bawa lenyap. Hanya menyisakan kantong plastik berisi ransel hadiah untuk adik saya, yang saya jadikan bantal tidur. Lirik kanan kiri, tidak ditemukan sama sekali.

Bertanya pada petugas mesjid, mereka menyalahkan saya yang tidak menitipkan barang kepada mereka. Ah.. sudahlah, sudah hilang, saya kemudian mengambil wudhu dan ikut berjama’ah. Sementara petugas mesjid sibuk mencari ransel saya yang hilang. Selepas shalat, saya mulai memeriksa apa saja yang hilang. Tas beserta isinya, lengkap semua Llaptop, hardisk, tablet, buku kuliah, buku hadiah untuk adik saya . Termasuk dompet yang entah kenapa pada malam itu untuk pertama kalinya saya masukkan ke dalam ransel. Merogoh saku tinggal sisa handphone jadul. Tadinya saya tidak mau menelepon orang rumah, tapi karena sudah tidak ada uang lagi, ya. Terpaksa membawa kabar buruk.

“Pak, tas ofal hilang?”

“Hilang dimana?”

“Di terminal”
“Emang Ofal dimana?”
“Di Serang, mau pulang ke rumah”
“Gimana kejadiannya?”

“….”

“ada uang buat ongkos?”

Merogoh saku jaket, ternyata ada uang sisa 20 ribu. Cukup untuk ongkos ke rumah.

“Ada”

“ya udah, bapak tunggu di rumah”

Tanpa tengak-tengok saya langsung meninggalkan mesjid, meninggalkan petugas dan beberapa warga di situ yang kayaknya heboh dengan kejadian hilangnya ransel saya.

“Ya sudahlah, sudah bukan rejeki” gumam dalam hati.

Di sepanjang perjalanan pun tidak terpikir apa-apa, kecuali bagaimana saya bisa tampil peer teaching besok sedangkan semua data ada di laptop dan hardisk yang hilang, dan memang alasan saya membawa ‘perkakas’ yang saya punya adlah agar bisa menyelesaikan tugas di rumah. Menelepon kawan di asrama adalah tindakan tepat, Rangga mengusahakan keringanan kepada Pak Parlindungan agar penampilan saya bisa ditangguhkan, saya coba bilang tidak, karena bila ditangguhkan saya harus menunggu seminggu lagi dengan harus menampilkan materi yang belum saya kuasai betul. Saya bertekad saat itu, di sepanjang perjalanan saya bisa handle semua.

Tapi sesampainya di rumah, tekad saya luntur, saat untuk pertama kali, melihat bapak dengan luka-luka yang membuat pilu. Wajah yang dulunya bersih putih kini membengkak sebelah dengan bekas luka yang lumayan berat. Kakinyapun diperban, 12 jahitan begitu cerita beliau. Tekad yang tadinya kuat, luntur seketika. Saya kembali menyalahkan semuanya, menyalahkan semuanya. Menyalahkan Bapak yang memaksakan diri pergi, menyalahkan Kakak yang tidak hati-hati, menyalahkan sepupu yang berkhitbah hari itu. Termasuk diri saya sendiri yang tidak bercerita akan pulang, yang tidak menitipkan barang, yang tidak hati-hati. Menyalahkan diri sendiri yang harusnya datang menghibur Bapak, malah datang dengan membawa masalah baru.

Saya menyerah. Saya memutuskan untuk tidak kembali ke Bandung. Teringat semua barang yang hilang, semua data yang hilang, saya merasa tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Saya menyerah.

“Harusnya yang kudu marah, jengkel, dan kesal itu Bapak, Fal. Sudah takdirnya seperti ini, kalau kamu mundur karena hal ini, Bapak mah kecewa, jadi selama ini mendidik anak teh gak berhasil, gak tegar.”

Bapak melengos meninggalkan saya yang masih tergelak lemas di kamar. Meninggalkan saya yang larut dalam pikiran saya sendiri. Memikirkan barang-barang yang hilang, memikirkan data-data yang hilang, memikirkan saya yang harusnya datang menghibur bapak, malah datang membawa kabar buruk.

Larut dalam pikiran sendiri, bahkan beberapa kali berteriak tak jelas. Saya masih belum terima keadaan.

Hingga akhirnya saya pun tersadar, saya pernah mengalami seperti ini, hal-hal yang diluar kendali saya sendiri, hal-hal yang memang Allah takdirkan. Ujian yang Allah siapkan untuk saya. Seperti saat dulu, saat diusir dari kontrakan di awal kuliah, saat ditodong oleh preman, saat kecelakaan, saat data hilang, saat…

Ah… semuanya sama saja, dan kalau tidak ada perubahan, maka saya tidak mengalami perbaikan sama sekali, tidak mengalami pendewasaan sama sekali, tidak mengalami perbaikan diri sama sekali saat menghadapi masalah.

Saat itulah saya merasakan turning point, saya tahu hati saya kebas, badan saya lemas, dan pikiran saya kacau, saya cuma harus melakukan sesuatu.
“Pak, Ofal berangkat sekarang ke Bandung”

Bapak tersenyum. Saya langsung memikirkan langkah apa yang harus diambil. Dan langsung terpikir yang pertama adalah meminta maaf kepada Pak Abe, laptop yang hilang merupakan laptop pemberian beliau, yang beliau percayakan.
“Gimana ceritanya Fal?”
“…..”

“wah, sudah nikmati aja, memang orang kalau mau naik tingkat diujinya kayak gitu. Nimati aja prosesnya, Ya sudah nanti saya kirimkan laptop saya, gak bisa kamu kuliah gak ada laptop. Kirim lewat BBM alamat kamu di Bandung. Nikmati aja.”

AlhamduliLlah, bersyukur sekali saat itu.

Saat hendak berangkat, bapak mengusap pipi saya, di bagian matanya yang tidak bengkak, bulir-bulir air mata jatuh.

“Mesti tegar kayak bapak”. Saya peluk beliau sambil tersedu.

“Uhun Pak, Hampura Ofal”

Di perjalanan saya belajar banyak hal dari kejadian hari itu. Tentang bagaimana seharusnya menghadapi suatu ujian. Bahwa memang semuanya telah ditakdirkan oleh Allah, kita tidak bisa menangguhkan apalagi berpaling dari apa yang sudah Allah tetapkan. Tinggal bagaimana kita mensiasati diri dan hati kita dalam menghadapi setiap ujian.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat ujian dan cobaannya?” Nabi Saw menjawab, “Para nabi kemudian yang meniru (menyerupai) mereka dan yang meniru (menyerupai) mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya tipis (lemah) dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa. (HR. Bukhari)

Yakin akan takdir Allah, yakin akan selalu ada hikmah di setiap kejadian. Yakin dan terus yakin. Bahwa ujian adalah cara Allah menaikkan derajat kita. Bahwa ujian adalah cara Allah menghapus dosa-dosa kita. Bahwa ujian adalah tanda cinta dan sayang-Nya pada kita.

Apabila Allah menyenangi hamba maka dia diuji agar Allah mendengar permohonannya (kerendahan dirinya). (HR. Al-Baihaqi)

Inilah aku Ya Rabb, belajar untuk ridho akan setiap takdir-Mu, agar Engkau Ridho padaku.

— Bandung, Pertengahan Ramadhan 1435 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s