Pendidikan Karakter Hanya Tugas Guru?

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka . Oleh sebab itu hendaklah bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (An-Nisa’ : 9)

Sungguh bahasan yang luar biasa diskusi wawasan keislaman malam ini. Diskusi yang biasa diadakan di Al-Furqon pada malam selasa dan jum’at kali ini membahas tentang khoiru ummah, ummat-ummat terbaik, dengan mengambil contoh bagaimana menjadi ummat-ummat terbaik seperti keluarga Ibrahim a.s dan Zakariyya a.s.

Ustadz kala itu, saya lupa namanya, menceritakan bagaimana Siti Hajar yang ridho ditinggalkan antara Shafa dan Marwah bersama bayi Isma’il karena perintah dari Allah. Isma’il yang ridho disembelih oleh ayahnya karena perintah dari Allah. Dan Zakariyya yang senantiasa percaya bahwa kelak dikaruniai putra walau dalam keadaan umur yang tidak muda dan istri yang mandul. Itulah ummat-ummat terbaik, yang senantiasa percaya bahwa Allah sebaik-baik penolong, bahwa Allah sebaik-baik tempat meminta.

Pertanyaannya kemudian, pendidikan seperti apa yang bisa menghasilkan ummat-ummat dengan karakter demikian?

Maka diskusipun dimulai. Penanya pertama menyinggung bagaimana agar tetap istiqomah. Dan ustadz kemudian memaparkan hal-hal yang berkaitan tentang pendidikan tauhidullah, dimana tugas kita agar senantiasa istiqomah adalah untuk senantiasa mendidik diri dengan pendidikan Tauhidullah.

Dari sini moderator menambahkan bahwa kurikulum 2013 memang dirancang untuk mendidik anak-anak kembali mempelajari science tauhidullah, sains yang berlandaskan pada Ketauhidan Allah. Bagaimana sebagai calon pendidik kita harus siap mendidik peserta didik, tidak hanya substansi keilmuan, tetapi karakter juga. Sesuai motto UPI yang religius.

Penanya kedua menanyakan perihal tafsir dari ayat yang ustadz kutip, bahwa mengapa urutan yang disebutkan dalam ayat tersebut untuk mengajak kebaikan, melarang kepada keburukan, dan beriman kepada Allah. Dan menanyakan perihal hikmah dari urutan tersebut. Saya pribadi memiliki pendapat sendiri tentang hal ini, dan saya percaya bahwa urutan ini memang memiliki hikmah, seperti pada awal surat Ar-Rahman (disebutkan bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an, menciptakan manusia, dan mengajarkan bagaimana menyampaikan) yang nanti suatu saat akan saya bahas tersendiri.

Tanggapan terakhir datang dari profesor, beliau menambahkan bahwa memang tugas guru untuk memperbaik karakter siswa. Dan tugas UPI untuk mendidik calon-calon guru yang siap dengan tugas demikian.

Di sini saya mulai kurang sepaham. Seolah-olah penanaman nilai-nilai adalah tugas guru thok. Tugas yang sangat berat, karena guru diminta untuk menanamkan nilai-nilai pada siswanya dalam rangka pendidikan karakter tadi. Memang tugas ini tidak mustahil, dan luar biasa seandainya guru berhasil melaksanakan ini. Dan tentu saja pahala yang sangat besar untuk guru yang berhasil melakukan ini.

Namun sungguh tak adil bila tugas yang berat ini hanya dilimpahkan kepada guru. Tugas yang kaitannya dengan keberhasilan siswa di dunia dan akhirat diserahkan seutuhnya kepada guru. Lalu pertanyaannya kemudian, dimana peran orang tua?

Realitas yang saya lihat adalah sekolah bagaikan penitipan anak saja. Orang tua sepertinya ‘berpuas hati’ dengan menyekolahkan anaknya di sekolah terbaik se-kota dan beranggapan bahwa di sanalah anaknya akan dididik karakternya. That’s true. Memang sekolah diharapkan menjadi place to learn to know, learn to do, learn to be, and learn to live together. Menjadi tempat penanaman nilai-nilai karakter yang baik bagi anak. Namun, tidakkah percuma jika semua itu sendiri tidak sejalan dengan apa yang terjadi di rumah, di keluarga. Dimana siswa menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. Rasanya aneh jika sekolah mengajarkan tanggung jawab sementara si anak masih diantarkan barang-barangnya dan tugas-tugasnya yang tertinggal ke sekolah oleh orang tua. Rasanya aneh jika sekolah mengajarkan kemandirian jika si anak masih harus diantar jemput oleh orang tuanya. Rasanya aneh jika sekolah mengajarkan kedisiplinan tapi orang tua dengan tenangnya mengantarkan si anak ke sekolah dan mengatakan bahwa anaknya terlambat karena mengantar ayahnya ke bandara.

Rasanya sekolah bagai penitipan anak saja. Orang tua menitipkan anaknya ke sekolah, selesai urusan. Tanpa ada peran dari orang tua untuk menguatkan nilai-nilai yang coba ditanamkan oleh sekolah kepada siswa. Dan luar biasanya, mohon maaf, ini dilakukan oleh orang tua-orang tua yang memiliki kualifikasi pendidikan yang tinggi.

Realitas kedua yang saya lihat adalah baik guru maupun orang tua minim teladan. Kita selalu ingin anak kita melakukan hal-hal yang baik, secara lisan, tapi tidak mencontohkan praktisnya. Sebagai contoh, bagaimana kita bisa menyuruh anak kita mengaji kalau kita sendiri tidak bisa mengaji? Bagaimana kita bisa menyuruh anak kita shalat berjama’ah ke mesjid bila kita sendiri tidak pernah sholat? Bagaimana kita menyuruh anak kita disiplin sementara kita sendiri jauh dari nilai-nilai kedisiplinan. `

Sungguh tugas pendidikan karakter adalah tugas yang sangat berat, tidak bisa hanya dilimpahkan kepada guru saja, tapi orang tua juga memiliki andil yang sangat besar. Hingga akhirnya cita-cita kita untuk menjadi ummat yang terbaik adalah keniscayaan. Hingga akhinya kita meninggalkan anak-anak kita tidak dalam keadaan lemah. Karena bukankah Ibrahim dan Zakariyya juga mendidik sendiri keluarganya?

Sungguh tugas yang berat, tapi bukannya tidak mungkin, semangat mencari ridha Allah adalah kuncinya dan Surga adalah tujuannya. Karena kita semua tahu, tidak ada lagi yang berguna sesudah kita tiada, kecuali tiga hal : Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Bandung, 25 September 2014, unek-unek yang tidak tersampaikan saat diskusi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s