Pertemuan Pertama

“Asslm. Akh antum ana rekomendasikan jadi tutor di tutorial mata kuliah agama islam untuk mahasiswa S1 ya.. bisa kan?”

SMS di sore itu bikin kaget, saking kagetnya baru saya balas selepas isya, itupun setelah menanyakan kedua kawan yang lain, U mengiyakan di hari Minggu, dan A tidak mengiyakan. Saya agak ragu, mengingat jadwal PPL yang lumayan menyita waktu, ditambah kegiatan asrama yang kadang bikin kaget, khawatir ketika mengiyakan malah nanti lalai pada pelaksanaan. Lalu terpikir, Ah, dicoba dulu saja, in sya Allah pasti ada jalan. (kayak lagu aja). Selepas Isya, saya balas.

“in sya Allah bisa, tapi jadwalnya ane cuma bisa Sabtu Minggu”

“Jadwalnya memang sabtu minggu akh.. sip deh, abg daftarin ya”

“oke sip”

Sudah begitu saja, tidak ada keterangan lebih lanjut dari beliau. Ini yang membuat saya deg-degan. Teringat terakhir punya binaan itu tahun 2012, sebelum berangkat ke Kupang, itupun baru dua kali. Di Kupang sudah jarang ikut tarbiyah, baru aktif saat balik ke Lampung dan lanjut di Bandung, di Bandung pun baru beberapa minggu aktif. Dheg..!! Jir, gimana nanti ya. Waduh, sudah mengiyakan lagi. Masih kurang ilmunya, pantes gak nih.

Semalaman pikiran galau kayak gitu. Butuh penguatan. Keinget dulu pernah juga ngerasaain kayak gini, sewaktu disuruh ikut training calon tutor, yang isinya ikhwah-ikhwah yang sudah ‘mantap’ banget jadi tutor, yang membuat saya mnider dan merasa gak pantas. Kemudian telepon ustadz yang kasih ilanat. Beliau pun kasih penguatan biar gak mundur dan minder.

Akhirnya kepikiran untuk menghubungi beliau lagi, cari di kontak hape, gak ada, lupa kalau dulu kontak hape hilang bersama hilangnya ‘perkakas’ saya. Kemudian cek kontak BBM, dan memberanikan diri BBM Dr. Abe. Berkeluh kesah dengan panjang lebar di pesan, beliau jawabnya kayak gini.

“untuk kebaikan gak usah nunggu jadi kiyai dulu val… lama itu mah… pantes itu learning by doing… hehe”

ceeeesssss…. Adem.

Kayaknya emang I think too much about it. In sya Allah, niatnya untuk kebaikan, dan Allah pasti kasih jalan. Maka saya pun tidur nyenyak malam itu.

*****

Aslkm. akh Naufal, tutorial kita di s1 UPI kekurangan tutor, kelompok kita diminta jadi tutor. Antum segera daftar ya, hubungi bg N. Ayo kesempatan amal sholih”

“Wa’alaikum salam. Iya Kang, bbrp hari lalu beliau udh sms ane, ane jg udah mengiyakan, cuma memang bisanya sabtu minggu saja”

“Khair jzkh..coba kontak lagi beliau ya, tanyakan kelanjutannya”

“oke siap”

Sudah seminggu memang setelah sms pemberitahuan yang pertama, tidak ada kabar lagi, saya pikir tidak ada kelanjutannya, dan sudah mencukupi, jadi gak perlu lagi ada tutor tambahan.

“www kemarin g dpt sms y? naufal td abg liat hari sabtu jadi tutornya. pekan kedua besok sabtu dtg ya.. Nt sore kita liqo seperti biasa ya Fal”

“Gak dapat smsnya bang, jadi mulai minggu depan atau gimana? In sya Allah nanti sore  berangkat”

“Oo gitu pdhl no hp naufal udh distu. iya minggu depan akh”

******

Hari yang dijadwalkan pun tiba, sehari sebelumnya saya banyak tanya pada U yang ternyata ngisi pada pekan pertama setelah dapat sms dari biro tutorial, bahkan sudah mendapat kelompok dan buku tutor. Tanya tentang pelaksanaan tutorial di sini. Dan ternyata sistemnya berbeda dengan di kampus saya dulu. kalau di sini praktikan wajib datang tutorial dan mentoring di hari sabtu dan minggu, mengiikuti kuliah dhuha, baru mentoring. Secara administrasi memang lebih rapih dan terkontrol, karena digabungkan dalam dua hari tersebut. Beda dengan halnya waktu saya dulu, jadwal adalah hasil kesepakatan praktikan dan tutor, sehingga agak sulit memang untuk pengontrolan.

Selepas belajar bersama, saya langsung berangkat menuju Al-Furqan, dan mendatangi panitia yang menjaga di pintu ruang utama masjid. Tanya soal daftar praktikan, mereka menyuruh saya ke sekretariat tutorial.

Di sana juga rame, rame dengan praktikan yang masih nanya soal kelompoknya, totur yang nanya kelompoknya juga. Saya kemudian menyampaikan maksud kedatangan saya. Dicari di daftar nama, tidak satupun tertulis Ahmad Naufal Umam. Masa iya masuk ke daftar tutor akhwat. hahaha.. Kemudian dicari lagi ke tiap file, ketemu hanya nama saja dan nomor telepon, tanpa kelompok. Nah loh. Saya bingung. Panitia juga bingung. Mereka malah tanya,

“Dulu dapat sms kelulusan dari siapa Kang?, nanti ya Kang, tunggu biro tutornya, masih keliling untuk kontrol”

“oh ya sudah”

Sekitar setengah jam, baru orang yang dimaksud datang.

“siapa namanya Kang?

“Ahmad Naufal”

“akang dapat sms kelulusan tutor dari siapa ya?

Bingung juga ditanya seperti itu, karena saya pribadi gak pernah merasa ikut seleksi tutor, hanya sms yang mengatakan kekurangan tutor, dan saya mengiyakan. Setelah menjelaskan seperti itu, baru ketua biro tersebut mengerti, dan curhat.

Oh iya kang, kita memang kekurangan tutor, banyak totur yang lolos seleksi, cuma kurang komunikasi ke kita, mereka bilangnya bisa hari ini, tapi pas pelaksaanan mereka tidak bisa hadir, dan memberitahunya telat sekali, sehingga kita kesusahan mencari pengganti. jadi kacau”

“belum stabil ya?”

“iya kang belum.”

“jadi gimana?”

“Akang bisa gak untuk  hari ini mengisi kelompok yang tidak hadir tutornya, nanti kalau misalnya tutor tersebut emang gak bisa hari sabtu, akang yang megang kelompok tersebut. gimana kang?”

“banyak yang tidak hadir tutornya?”

“banyak kang”

“ya sudah kalau gitu”

“hayuk akang ikut ke atas”

Maka sepanjang perjalanan saya mendengar curhatan sang ketua biro. Saya cuma mengiyakan sambil manggut-manggut. Sambil terpikir, ‘luar biasa ikhwan satu ini, ngurusin yang beginian pasti pusing banget, tiap minggu lagi’

Setelah mengecek ke sana ke sini, akhirnya saya mendapat kelompok yang berisi 10 orang dari fakultas teknik. 10 orang yang masih kelihatan sekali wajah-wajah pembawaan SMA nya, polos.

silakan kang, nanti tolong ditulis nama-namanya ya kang, kasih ke ana lagi”

“iya, haturnuhun”

“mangga Kang”

Sang ketua biro pun pergi, saya gak sempat menanyakan nama beliau, ah nanti pas lapor akhir nanti saya tanya namanya”

Maka pertemuan pertama saya sebagai tutor di sini dimulai, setelah perkenalan dan penjelasan tentang mentoring, kamipun mulai mentoring, dengan tilawah dan diskusi kecil. Walau nerveous, rasanya senang sekali, seperti mengobrol saja dengan adik sendiri, Sudah lama tidak merasakan yang seperti ini. Dan tak terasa, pengumuman dari muadzin tentang waktu dzuhur menghentikan diskusi kami. Mentoringpun ditutup, saya mengingatkan mereka tentang materi diskusi tadi, dan berharap kelompok kami tidak ada perubahan pekan depan.

Saya pergi laporan ke sekretariat, menyerahkan daftar nama kelompok, sang ketua biro memberi tahu akan ada kelanjutan kabar kelompok tadi secepatnya, saya mengiyakan dan pamit untuk dzuhur dan pulang ke asrama.

Sepanjang perjalanan pulang, saya tak hentinya tersenyum, memikirkan pengalaman tadi. Jadi inget dulu sewaktu jadi praktikan semester awal. Mungkin sama lugu dan polosnya seperti mereka. Semoga kelak mereka betah dengan tarbiyah dan mau melanjutkan ke level yang lebih lagi. Plus, mulai minggu depan akan ada kegiatan tambahan bagi saya, mengisi mentoring, tentu akan tambah sibuk saja. Berdoa saja semoga Allah kasih kesehatan dan keistiqomahan untuk melaksanakan amanah ini.

Amiiin..

Jir, lupa minta nama dan nomor hape ketua biro tadi. -__-

– Bandung, 12 Oktober 2014, Malam setelah hari pertama

Advertisements

2 thoughts on “Pertemuan Pertama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s