Teruntuk Saudari Kami, Teh Winda

Banyak hal yang ingin saya tulis, banyak hal yang ingin saya ceritakan, banyak hal yang ingin saya bagi, banyak hal juga yang ingin saya kisahkan pada dunia, tentang teteh, tentang bagaimana luar biasanya teteh. Tentang arti pengabdian yang teteh tunjukkan pada kami.

Saya tahu, saya paham.. saya tak begitu mengenal teteh, baru saja bertemu, dalam hitungan bulan. Kita tak pernah ‘duduk’ dalam satu almamater. Apalagi menjadi teman seperjuangan dalam meraih gelar sarjana… hanya hitungan bulan, saya mengenal teteh…

Tapi entah kenapa hitungan bulan itu, begitu berkesan, begitu bermakna, begitu banyak yang bisa saya ambil pelajaran, begitu banyak inspirasi yang teteh radiasikan kepada kami. Begitu banyak kenangan yang teteh bagi, semuanya begitu berkesan…

Satu persatu, saat berita itu sampai ke beranda Mess kami, sampai musibah itu mencengangkan kami, membuat kami merasa ini semua bagai mimpi.. satu persatu mozaik-mozaik kenangan tentang kalian termuat ulang… tergambar kembali, seolah baru kemarin teteh bersama kami, baru saja kita saling membalas komen tentang delivery bakso iga-iga dari Aceh Timur ke Kupang… baru saja teteh membersamai kami..

Teh Winda,

Masih ingatkah pertama kita bertemu? saya takkan pernah lupa, kelas A pukul 11.00, tes wawancara dengan 8 orang lain. Tak ada yang special tentang teteh, saya ingat, hanya saja jawaban yang teteh ungkapkan tentang alasan mengikuti program ini seolah masih terngiang di telinga,..

“Saya ingin mengubah kembali paradigma saya tentang pengabdian. Saya rasa hidup lama di kota besar membuat saya teracuni oleh penyakit yang ada di sini, apa-apa dinilai dengan uang. Maka dari itu saya mengikuti program ini, untuk membuktikan dan  mengembalikan apa yang saya yakini dulu”

Kurang lebih seperti itu. saya rasa itu luar biasa, luar biasa sekali. Maka dari itu saya berharap bisa berkawan baik dengan teteh, bagi saya pribadi, sangat luar biasa bisa berkawan dengan orang yang mempunyai visi hidup luar biasa seperti teteh.

Maka dari itu, saat kita bertemu di hari pertama prakondisi, saat saya sapa teteh, dan menanyakan penempatan dimana, teteh senyum dan berucap,

“wah.. berpisah dong.. selamat ya”

Itu saja..

Tak bermaksud marah, tapi jawaban yang kurang ramah itu membuat saya agak menghindar dari teteh. Tapi kemudian tak bertahan lama, tak bertahan lama saat kita berkumpul bersama dengan peserta lain, menikmati makan siang, teteh bertanya,

“Fal, kamu ‘kan udah jadi Asdos di Unila, kenapa ikut program ini?” “Ada aja”

Jawab singkat saya, berusaha untuk menutupi, karena saya yakin, alasan saya sebenarnya tak perlu banyak orang yang tahu.

Jawaban singkat itu, menjadi boomerang, menjadi semacam penyesalan bagi saya pribadi. Karena  semakin saya mengenal teteh, semakin saya tahu bahwa teteh tulus bertanya seperti itu. Tulus ingin mengetahui alasan-alasan dari peserta lain, menjadikannya pelajaran dan semangat untuk teteh pribadi. Saya menyesal tidak bisa bercerita lebih banyak.

Hari berganti hari di prakondisi,

Saat kawan-kawan teteh diluar sana mempersiapkan wisudanya, mempersiapkan perayaan selesainya masa kuliah. Teteh membersamai kami, mengikrarkan diri untuk mengabdi, merelakan selebrasi sekali seumur hidup, untuk sebuah kata, pengabdian. Dan dengan sedikit sedih teteh selalu menjawab,

“Saya yakin Allah punya rencana lain yang indah buat saya.”

Ya teteh, Allah telah merencanakan sebuah cerita yang indah untuk teteh. Sangat indah. :’)

Hari berganti hari di prakondisi,

Teteh menginspirasi sekaligus menghentak kami oleh sesuatu hal yang harusnya kami sadari dari dulu, harusnya kami luruskan sedari kami memutuskan untuk mengikuti program ini, niat.

Niat utama kami mengikuti program ini, niat utama kami memilih mengabdikan diri jauh dari kampung halaman. Dengan lantangnya, malam itu, teteh bercerita tentang masa muda teteh di kampung, tentang bagaimana teteh mengumpulkan pundi-pundi hasil hadiah perlombaan-perlombaan yang teteh juarai sewaktu sekolah untuk modal kuliah, bagaimana teteh bercerita tentang program yang akan dilakukan, mencari bibit unggul di daerah 3T agar bisa meneruskan mimpinya, agar bisa terus bisa mengembangkan potensinya, melalui jaringan-jaringan yang kita punya di tanah Jawa, melalui beasiswa-beasiswa. Satu hal yang saya pahami malam itu, teteh tak ingin generasi-generasi emas di daerah 3T redup sinarnya oleh permasalahan yang klasik, biaya.

Niat dan rencana yang luar biasa, terlebih luar biasa saat kami mengetahui bahwa semua itu keluar dari pemikiran seorang lulusan terbaik UPI Wisuda Oktober 2012, dengan IPK 3,98. Subhanallah, saya hanya bisa menyimpan rasa kagum dalam hati. Teteh, engkau memberikan bukti pada saya pribadi bahwa orang cerdas dan peduli itu masih ada.

Teh Winda,

Begitu banyak kenangan yang engkau bagi dalam selang yang singkat ini. Begitu banyak pelajaran yang engkau beri kepada kami. Begitu banyak inspirasi yang engkau radiasikan kepada kami. Ingin kami, engkau tetap membersamai kami, berjuang bersama sampai akhir masa pengabdian ini. Malah saya sempat berharap kita bisa PPG di LPTK yang sama, supaya makin banyak yang bisa saya pelajari dari teteh. Supaya selalu bersemangat seperti teteh.

Namun, kita berencana, tetap Allah lah yang memiliki rencana paling indah.

Rencana Allah sungguh luar biasa, rencana yang sangat luar biasa. Sampai saat inipun, saya masih tak menyangka. Baru saja mengenal, baru saja berjuang bersama, baru saja.. teteh sudah meninggalkan kami. Dan kami yakin ke tempat yang lebih baik di sisiNya. Mungkin Allah begitu sayang pada teteh sampai memanggil di saat teteh sedang melaksanakan tugas.

Teh Winda,

Bolehkah kami menangis? Menangis sebentar saja, walau teteh tahu, tangis saya yang paling keras di antara peserta lain, dan tak bisa sebentar. Heheh..

Tapi bolehkah kami menangis  teh? Menangis karena kepergian teteh, menangis karena teteh tidak bisa membersamai kami sampai akhir pengabdian ini, menangis karena kami akan kehilangan saudari kesayangan kami, menangis karena kami akan kehilangan senyum penuh semangat itu, langkah yang selalu ceria itu, dan kata-kata penyemangat yang selalu terasa hangat saat itu keluar dari lisan teteh. Bolehkah kami menangis untuk itu semua? Bolehkah teh? Walau sebentar saja.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Karena kami masih punya tugas yang lain, saudara kita teh, kang geugeut masih belum ditemukan. Saudara yang membersamai teteh, dalam musibah ini. Masih belum ditemukan.  Ane tahu, harapan itu kecil. Tapi kita tak boleh hilang harapan kan? Tak ada yang tak mungkin bagi Allah kan? Karena itu, kami akan terus berdoa untuk keselamatan beliau.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Karena tugas kami masih begitu banyak. Perjuangan ini masih harus dilanjutkan. Kami berjanji, doa kami takkan putus untuk teteh dan kang geugeut. Takkan putus karena kalian berdua memberikan bukti nyata arti pengabdian.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Karena apa yang telah teteh ajarkan pada kami, apa yang telah teteh bagi untuk kami, inspirasi yang teteh radiasikan kepada kami, serta kenangan-kenangan yang kita lewati bersama, akan terus menjadi penyemangat kami. Akan terus ‘menyengatkan’ diri kami untuk terus berjuang semaksimal mungkin.

Kami janji, kami akan menangis sebentar saja. Jadi bolehkah kami menangis sekarang teh?

karena walaupun berat, bibir ini mau tak mau harus berucap…

Selamat jalan teh winda…

Selamat jalan, wahai pahlawan….

di tanah Timor dan tanah Rencong, semangat teteh akan tetap membersamai kami…

****

Ditulis 2 tahun lalu, November sebentar lagi, tidak terasa, kami merindui kalian, Teh Winda, Kang Geugeut.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihi wa’fu anhum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s