21 Januari yang ke-25

00.13
Tak terasa waktu melejit begitu cepatnya, padahal baru saja saya mengantri makan, menginstal Corel, dan mencoba melayout buku kenangan asrama.
Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa juga, kalender sudah merubah angka nol di belakang 2 menjadi 1.
Ah… 21 Januari yang ke-25.
Saya menghentikan kerjaan sejenak, meraih handphone, merespon notif yang masuk, lalu bermonolog dalam hening, mecoba mengais satu persatu mozaik kehidupan yang telah saya lalui sampai saat ini.

Beberapa hal, saya sangat syukuri, bahwa Allah senantiasa memperhatikan saya melalui banyak hal. Dari kesempatan menjadi seorang guru, dengan segala baik buruknya, dengan segala manis pahitnya, dengan segala hal yang membuat saya yakin, bahwa inilah jalan saya untuk mengabdi kepada-Nya.

Dari kesempatan membersamai orang-orang yang baik, yang selalu memberikan pelajaran, hikmah, nasehat, dan yang paling saya syukuri adalah penjagaan-Nya kepada saya melalui orang-orang yang senantiasa mengingatkan diri pada Allah. Sungguh nikmat yang tiada terkira.

Dari kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri waktu ke waktu melalui cobaan dan ujian yang Dia berikan. Saya tahu, sepertinya saya tak pernah lulus ujian yang Dia berikan, belum bisa menjadi hamba yang senantiasa yakin, sabar, ikhlas, dan tawakkal terhadap segala ketentuan-Nya. Belum bisa menjadi hamba yang ridho akan setiap ketetapan-Nya. Belum bisa menjadi hamba yang senantiasa memberikan yang terbaik sabagai bukti cinta kepada Allah dan rasul-Nya.

Beberapa hal, yang kemudian saya syukuri juga, bahwa Allah memberikan Bapak nomor satu di seluruh dunia. Yang senyumnya meneduhkan hati, yang nasehatnya menyejukkan amarah, yang diamnya membuat hati gemuruh, dan marahnya membuat diri bertafakur, bahwa ada yang salah pada diri. Walau sering ego ini terlalu angkuh mengakui.

Allah juga telah memberikan Mama yang luar biasa. Dengan marah-marahnya, dengan omelan-omelannya, saya tahu cinta dan kasihnya dia berikan dengan tulus. Walau sering diri ini tak menyadari hal itu.

Allah juga memberikan keluarga yang super. Yang selalu ada, lewat doa-doa mereka, lewat dukungan mereka. Walau sering diri ini lebih banyak meminta dimengerti ketimbang mengerti.

Ah.. 21 Januari yang ke-25
Saya masih ingat di tahun pertama masuk SD, Almarhumah Mama UUm yang begitu sibuk mempersiapkan perlengkapan sekolah, bahkan beliau membawa saya ke studio foto untuk memotret Naufal kecil yang akan masuk SD.
Namun, Allah punya rencana lain, beliau tidak sempat melihat saya masuk sekolah.

Saya masih ingat, saat saya merengek meminta masuk ke Ponpes selepas SD, karena teman akrab saya yang diterima di sana. Namun, sepertinya Allah menetapkan saya untuk menjadi siswa madrasah.

Saya masih ingat tetangga saya berkata,
“si nofal mah naon teu resep ngaji” (Si nofal mah gak suka ngaji)
Ketika saya menentukan pilihan untuk melanjutkan sekolah di SMA jauh dari rumah, dibandingkan teman-teman seangkatan yang memilih masuk ponpes.

Saya masih ingat ketika pertama mengajukan formulir IPB ke Bapak. Beliau tidak setuju, dan akhirnya Bandarlampung jadi tempat saya berkuliah.

Saya masih ingat ketika berada di tengah wisudawan yang lain, dan sebuah sms masuk,
“Bapak bangga ka ofal”

Saya masih ingat saat beradu argumen dengan Bapak dan Mama mengenai SM-3T. Yang pada akhirnya mereka izinkan walau dengan berat hati.

Ah.. 21 Januari yang ke-25
Terkadang saya masih sering berpikir, apa jadinya bila saya menjalani hal yang berbeda. Seperti apa saya sekarang? Dan pada akhirnya saya bersyukur untuk tahun-tahun yang luar biasa yang telah Allah berikan. Namun rasanya saya belum juga bertambah dewasa. Masih menjadi anak yang suka merengek ini-itu. Masih menjadi anak yang kurang bersyukur. Masih menjadi anak yang mudah kepancing amarahnya. Masih menjadi anak yang sempit pemikirannya. Masih menjadi anak yang sering melukai hati orang tua dan orang sekitarnya. Masih menjadi anak-anak yang belum dewasa.

Maka kepada Allah, saya takkan pernah berhenti meminta perlindungan, dari sikap yang merugikan diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Meminta kekuatan agar tidak lelah untuk senantiasa memberbaiki diri. Meminta kesabaran agar tegar dalam menghadapi ujian hidup. Meminta hidayah agar hidup ini tak dibutakan oleh dunia semata. Meminta diri yang semakin dewasa dalam menghadapi permasalahan hidup.

Semoga…

—- Bandung, 21 Januari 2015, Kamar 117

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s