Dialog Ayah dan Anak

Malam itu, di sebuah masjid. Duduk termenung seorang pemuda, memandang ke arah mimbar. Sementara jama’ah yang lain sedang bertafakur dan melaksanakan sunnah rawatib. Menunggu muadzin mengumandangkan iqomah.

“Kunaon ngalamun kitu?”

Sang pemuda terjaga dari lamunannya, dilihatnya sumber suara itu, orang yang dia kenal selama hidupnya, orang yang paling dia hormati sepanjang hidupnya, sang Ayah.

Pemuda tersebut tersenyum, “teu nanaon Beh”

Sang Ayah berdiri di samping pemuda tersebut, mereka sibuk dengan pikirannya

“Allahu akbar.. Allahu akbar…”

Suara iqomah mengisi ruang utama masjid, pemuda tersebut berdiri menuju shaf pertama, sementara sang ayah tepat berada disampingnya.

Dalam shalatnya, sang pemuda berusaha khusyu’, karena yang menjadi lamunan tadi terus berada dalam benaknya, hingga untuk berkonsentrasi pada bacaan imam saja sulit.

Selepas shalat, hatinya semakin bergemuruh, ada kata yang ingin tersampaikan, ada hasrat yang ingin disampaikan, ada niatan yang ingin dimengerti, oleh pria yang duduk disampingnya. Sang pemuda melafalkan doa yang diucapkan pemuda kahfi, berulang-ulang.

Selepas rawatib, dia mengulurkan tangannya pada sang ayah, berharap salim takzim yang dia lakukan bisa membuat Sang Ayah paham apa maksud dalam hatinya, lewat osmosis.

Ah… Harus malam ini.. harus malam iini disampaikan, sepanjang jalan menuju rumah dia terus bergumam dalam hati.

Di rumahpun, hatinya terus bergemuruh, menunggu Sang Ayah datang dari masjid. Terus bergemuruh, saat Sang Ayah membersamai pemuda dan ibunya menonton TV. Terus bergemuruh, hingga tanpa disadari dia terus-terusan bolak balik dari dapur, ke ruang tamu, ke kamar, ruang TV, hingga adiknya yang saat itu asyik dengan serial The Simpsons terganggu.

“Aa bolak-balik bae ti tadi”

Pemuda tersebut hanya tersenyum, menampilkan ‘sengiran kuda’,

“Aa mau beres-beres barang-barang”

Dia kembali masuk ke dalam kamar sambal membawa beberapa pakaian yang hendak dia bawa untuk perjalanannya besok. Satu persatu pakaian dia lipat rapih, masuk ke dalam carier yang di dalamnya sudah penuh oleh buku-buku bacaan.

Piikirannya terus melayang, ada rasa khawatir, ada rasa takut, ada rasa yang campur aduk. Bukannya dia tak mau mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya pada sang Ayah, bukannya dia tidak punya niatan baik, hanya saja dia khawatir bila diungkapkan lagi obrolan itu, akan menyakiti hati sang Ayah dan ibu seperti terakhir kali yang dia lakukan. Dia kahawatir, akan timbul lagi adu argument, debat, yang berakhir pada tangisan kedua orang yang paling pemuda itu sayang.

Dia takut, akan menyakiti kedua orang tuanya lagi.

Pakaian sudah lepas dia rapikan dalam Carier, dia kembali bolak-balik lagi seperti setrikaan. Mencari kata yang tepat, mencari momen yang tepat, memilih diksi yang baik, memilih kalimat yang sesuai. Seolah sel-sel otaknya berdialog satu sama lain.

“Aya naon A?”

Sang Ayah sepertinya paham, ada yang ingin putranya sampaikan.

“Nggak beh.”, pemuda tersebut berjalan menuju ruang tamu dan duduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada dinding yang dingin. Ayahnya mengikuti dan duduk di atas kursi.

“Beh, kapan Aa bisa nikah?”

Pemuda tersebut tak berani menengok wajah ayahnya, dia tertunduk, khawatir seperti yang lalu-lalu. Khawatir reaksi yang timbul tidak sesuai harapannya.

“Ya Babeh mah terserah Aa, aa mau kapan. Kan babeh udah bilang waktu itu, yang penting aa udah kerja dulu, udah ada pegangan. Mau tahun 2017 atau 2016, terserah Aa”

“aa maunya tahun ini Beh, tahun 2017 atau 2016 kelamaan”

“Ya maksud babeh, sekarang aja aa belum ada kerjaan, gimana mau ngeyakinin keluarga calon, kalau sekarang Aa aja belum kerja”

“Tapi dulu Pak Abe juga belum dapat kerjaan tetap waktu ngalamar istrinya”

“itu mah dulu a, jangan disamain sekarang mah. Bisa jadi akhwatnya bagus, bisa nerima, belum tentu orang tuanya terkondisikan. Bisa jadi orang tuanya bagus, akhwatnya yang sudah mengenal materi mah susah nerima Aa yang belum kerja. Orang tua sekarang pengen kepastian kalau anaknya bisa ternafkahi dengan baik, aa siap?”

“Aa siap beh, in sya Allah”

“Tapi da gimana, aa nya juga belum ada kerjaan, sekarang mah aa pastiin dulu mau kerja dimana. Bayangan babeh mah bisa tahun 2017 atau 2016”

“Aa mau tahun ini Beh”

‘Ya itu bayangan Babeh, melihat aa yang sekarang kerjaan aja belum ada. Paling cepet tahun segitu, ya bisa aja nanti akhir tahun ini kalau diusahakan”

Pemuda itu terdiam, hatinya ingin berontak, tak terasa air mata menetes di kedua pipinya, dia tertunduk.

“Sekarang pastiin aja aa kerja dimana. Kan hukum nikah mah bisa jadi wajib, Sunnah…”

“Aa udah ngarasa wajib Beh, Aa udah ngerasa waktunya buat Aa. Aa gak mau jadi fitnah dan zina. Aa pengen segera, biar bisa dihadirin sama babeh.”

Sang pemuda tertunduk kembali, air matanya mengalir dengan deras. Dia khawatir apa yang dia katakan akan menyakiti hati Sang Ayah.

Ada jeda lama di sini. Sang ayah menghela nafas. Hati pemuda tersebut bergemuruh, dia makin menundukkan kepalanya. Air mata terus mengalir, tak terbendung.

“Ya udah, kalau memang aa ngerasa udah wajib. Babeh persilakan, asal aa pastiin dulu kerja dimana. Nanti gampang babeh yang bilang ke kakak-kakak. Biar ngebantu. Ya, nanti kalau misalnya bisa walimah saja juga gak apa-apa, resepsi mah nanti bisa nyusul. Mau sama orang mana juga silakan, babeh gak nuntut apa-apa, kayak ke kakak-kakak, yang terpenting babeh mah bagus dan taat agama”

Pemuda tersebut terdiam.

“Sebenarnya, si adek juga udah nelepon babeh kemarin, nanyain kalau dia boleh gak nikah sama pacarnya yang sekarang, nikah sama orang Kalimantan, dia ngerasa udah banyak dibantu, ngerasa hutang budi sama pacarnya yang sekarang. “

Pemuda tersebut teringat adiknya yang sedang studi S1 di satu PTN di Kalimantan Timur.

“Ya, babeh mah mau gimana lagi, kalau misalnya harus orang sana jodohnya, ya silakan. Cuma kadang hati babeh menjerit, apa memang harus begini nasib babeh, ditinggal jauh semua anak-anak babeh, harus begini nasib babeh, apa nanti kalau tiba waktu babeh, pada bisa datang ke sini. Kakakmu sudah stay di Lampung, tetehmu juga udah di Bekasi, Kakakmu yang di sini, walau deket juga sibuk dengan keluarganya.”

Jleb… Nada suara sang Ayah tercekik, seolah menahan tangis.

“tapi, babeh ridho kalau memang ini takdir dari Allah. Kalau memang babeh harus ditinggal anak-anak, babeh ridho. Yang terpenting komunikasi tidak susah, yang terpenting bisa pulang kalau ada apa-apa”

“In sya Allah beh, aa memilih stay di bandarlampung juga biar gampang kalau pulang”, Sang pemuda menahan tangis yang semakin jadi.

“Iya, babeh mah dimana juga ridho, buat apa dekat di rumah kalau gak berkembang. Babeh bangga kalau punya anak-anak yang sukses”

Sang pemuda tak kuasa menahan tangis, dia paham sekarang kesepian yang dirasakan oleh sang Ayah. Jeda lama di sini. Ibu datang menengok ke ruang tamu, melihat kedua pria di dalam ruangan tersebut sedang hanyut dalam haru dan tangis, beliau kembali masuk. Sang pemuda hanya melihat sekilas dibalik tangisnya.

“Udah sekarang itu keputusan babeh, pastiin dulu kerjaan aa, nanti kalau sudah pasti, babeh yang bilang ke kakak-kakak yang lain. Itu keputusan babeh, jangan aa tanya- tanya lagi”

“uhun Beh, haturnuhun.”

Sang ayah pergi meninggalkan pemuda yang larut dalam pikirannya.

22.30, pemuda tersebut masuk ke dalam kamar. Dia tertidur, sedih sekaligus lega.

Sedih karena dia tahu selama ini Ayahnya merasa kesepian. Lega karena hasratnya sudah tersampaikan dan mendapat respon yang lumayan baik.

Dia tertidur, menyiapkan energi untuk perjalanan esok hari, menyempurnakan ikhtiar, melaksanakan syarat dari Sang Ayah.

In sya Allah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s