Merantaulah, dan kau kan tahu apa arti rindu sesungguhnya.

Sore itu, selepas pulang dari kantor, dengan sedikit lelah dan lesu mengendarai si abu-abu melintasi gang-gang di kampung baru. Beberapa kali terkantuk, hampir menabrak kendaraan dan pembatas jalan, mata memang sudah tidak bisa lagi dikompromi. Sampai di jalan utama, teringat bahwa di rumah belum ada ta’jil untuk maghrib ini. Maka saya bawa si abu menuju pasar di dekat rel kereta. Tepat menuju tukang gorengan.

Setelah beberapa kali ditanya mba pedagang gorengan, tentang jumlah gorengan yang hendak dibeli, akhirnya deal juga. Entah kenapa, serasa kabur, mungkin mba tersebut juga heran dengan pembelinya. Ditanya kok ngelamun terus. Ditanya kok galau terus. Beli gorengan aja kok kayak milih pasangan hidup.

Selepas beli gorengan lanjut ke rumah, masih dengan perasaan yang sama. Sampai-sampai hampir kelupaan gang senen, dan berhenti mendadak di tengah jalan, konstan membuat pengendara yang lain di belakang nge-klakson keras.

ah… bloody hell, what’s wrong with me.?

Sampai ke rumah, tak ada satupun tanda-tanda penghuni, syukur sudah duplikasi kunci, bener kata kyai, akan kerepotan kalau saya sendiri tidak membawa kunci.

Setelah dengan berat hati melepas sepatu, memasukkan si abu ke dalam rumah, dan mengganti pakaian, saya rebahkan badan di atas karpet di ruang depan. Menatap layar handphone dengan kebas.

Babeh, tangan dengan refleks menekan tombol panggil.

“Hallo Assalamu’alaikum..”

Ah.. suara yang saya rindukan.

“Wa’alaikum salam..”

“Kumaha kabar na a?”

“damang. babeh gimana?”

“Alhamdulillah damang. Aya naon a?”

“Nggaak…. Aa hoyong telepon we”

“Oh… ini babeh baru nganterin si dede dari dokter, mencret terus dari semalam”

“eh.. makan naon emang beh?”

“gak tau si dede, nih coba ngobrol sama si dede”

“Haloo… Apa A?”

Ah…. Suara yang juga membuat kangen.

“Kunaon de? dede makan naon emang?”

“Gak makan apa-apa. Dede cuma makan kacang aja semalam, dikit doang”

“Hati-hati makan teh. Minum obat na nanti.

“Uhun A”

“Mana babeh?”

“Apa A?”

“Nggak beh”,

Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh lisan ini, tapi entah kenapa lidah kelu.

“Kemarin si adek telepon, dia jadi wisuda september ini, gak tau tanggalnya kapan, babeh dan mama jadi berangkat ke sana”

“Ahh.. aa mau ikutlah”

“enak we”

“wios atuh, kan babeh juga gak ada yang nganter ke sana”

“iya, liat nanti aja”

“Mama mana beh?”

“Mama keluar a, Aa gimana di sana? kapan mulai ngajar?”

“Aa mulai ngajar Juli nanti Beh”

“Terus kegiatan aa naon ayeuna?”

“Di dekanat aja beh, bantu-bantu Abi di sini”

“Oh, bagus kalau gitu mah. Kerjain dengan baik setiap tugas yang dikasih”

“uhun beh”

Saya tahu babeh ingin putranya pulang, terasa dari jeda yang terjadi, saya tahu beliau ingin putranya tinggal di rumah, menemani beliau, menemani keluarga. Saya tahu, sama halnya dengan saya yang ingin pulang juga. Sama halnya dengan saya yang merindukan beliau juga.

Namun, beliau tahu, beliau tak pernah bisa memaksa putranya yang keras kepala ini, tak pernah bisa meminta putranya yang keras kepala ini, untuk bisa pulang sejenak, membersamai mereka.

Dan, sayapun tahu, saya terlalu tega, terlalu jahat, tidak menyisakan waktu sedikitpun untuk membersamai mereka, karena selepas PPG, saya tidak langsung pulang ke rumah, langsung menuju Bandarlampung. Sama seperti halnya dulu, selepas kuliah langsung pergi ke Kupang. Sama seperti halnya dulu, selepas dari Kupang langung ke Bandarlampung, kemudian ke Bandung untuk PPG.

Dan, sayapun tahu, saya terlalu egois, saya terlalu ambisius, saya terlalu arogan, untuk mengakui bahwa saya juga merindukan beliau. Merindukan pelukan beliau, merindukan usapan halus tangan beliau di pipi ini, merindukan tangan beliau untuk dicium, dan bibir beliau berucap, “Barakallah”

Sayapun tahu, saya rindu beliau, seperti sekarang.

“Ya udah a, nanti kasih kabar aja ya”

“uhun beh”

“Asalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam”

Masih dalam keadan terlentang di atas karpet, dada semakin sesak. Ada rasa yang ingin disampaikan, ada rasa yang ingin yang terucap, tentang rindu yang mengisi dada. Namun begitu susahnya lidah ini mengucap, betapa sulitnya lisan ini berbicara.

Betapa sulitnya mengatakan, Aa rindu babeh. Aa rindu mama. Aa kangen rumah. Aa ingin pulang.

Betapa sulitnya mengatakan kata yang sederhana itu.

Adzan maghrib memenuhi udara. Menghentikan lamunan.

“Laka shumtu, Ya Rabbi, Wabika Amantu”

Tetes pertama air membasahi kerongkongan, dalam hati berdoa

“Ya rabbi, tolong jaga mereka, seperti Engkau senantiasa menjaga hamba”

Saat melangkahkan kaki menuju mesjid, benarlah apa kata orang,

“Merantaulah, dan kau kan tahu apa arti rindu sesungguhnya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s