Aku Merindukan Kalian

Aku merindukan kalian, saudaraku.
Merindukan kita yang berkumpul di 207,
Selepas isya, dengan memegang mushaf masing-masing,
Berkomat-kamit,
Mencoba mengingat kembali apa yang kita hafal,
Sebelum tiba waktunya setor hafalan.

Aku merindukan kalian, saudaraku.
Merindukan kita yang berdiskusi,
Yang terkadang berakhir pada adu argumen,
Yang terkadang berakhir pada tawa,
Yang terkadang berakhir pada salah satu dari kita menyimpulkan.
Yang terkadang tidak ada kesimpulan sama sekali.

Aku merindukan kalian, saudaraku.
Merindukan mereka yang menyebut kita Geng Tahfidz.
Sedikit banyak aku senang,
Karena itu adalah doa,
Untuk kita bertujuh.
Untuk kita bertujuh.

Aku merindukan kalian, saudaraku.
Merindukan pribadi kalian yang begitu berbeda,
Begitu bersimpangan satu sama lain,
Namun saling melingkapi satu sama lain pula.

Aku merindukan saudaraku,
Dengan kepeduliannya,
Dengan kecuekannya,
Dengan muka ngantuknya,
Selalu paham bahwa dialah yang paling tua dan harus memberikan contoh yang baik pada yang lain.

Aku merindukan saudaraku,
Dengan keluguannya,
Dengan kebaikan hatinya,
Dengan kenarsisannya,
Selalu memberikan respon yang positif pada apa yang ditujukan padanya.

Aku merindukan saudaraku,
Dengan kelembutan hatinya,
Dengan gaya bossy-nya,
Dengan semangatnya,
Selalu tak segan memberikan pujian dan apresiasi kepada orang lain.

Aku merindukan saudaraku,
Dengan sikap tawadhu-nya,
Dengan diamnya,
Dengan keistiqomahannya,
Selalu berhasil membuat diri ini larut dalam tangis mendengar tilawahnya saat mengimami sholat.

Aku merindukan saudaraku,
Dengan sikap tegasnya,
Dengan tak mau pedulinya,
Dengan keteguhannya,
Selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat kita berdiskusi.

Aku merindukan saudaraku,
Dengan pengetahuan fiqihnya yang luas,
Dengan kemampuannya berkomunikasi,
Dengan nasihatnya yang mengena,
Selalu menjadi penengah dan memberikan sudut pandang baru tentang suatu hal.

Ya, aku merindukan kalian, saudaraku.
Kalian membuatku yakin,
Benarlah bahwa menjadi muslim adalah bagai kain putih,
Yang Allah celupkan dalam warna-warni pelangi.
Dan kutahu warna dalam diri ini tak sejernih dan sejelas warna yang kalian punya.

Aku merindukan kalian, saudaraku,
Merindukan diri ini bercermin pada kalian,
Merindukan saat kita berkumpul,
Yang membuat satu tahun di asrama menjadi luar biasa.

Aku merindukan kalian, saudaraku.
Telah banyak pelajaran yang kalian berikan, tapi rasanya diri ini masih saja merasa kurang.
Masih butuh bimbingan kalian,
Masih butuh sanjungan kalian,
Masih butuh nasihat kalian,
Masih butuh teguran kalian,
Masih butuh untuk bersama kalian.

Aku merindukan kalian, saudaraku.
Terlalu banyak diri ini berbuat salah,
Sementara kalian tak henti menerima diri ini apa adanya,
Terlalu banyak diri ini khilaf,
Sementara kalian tak lelah mengingatkan.

Aku merindukan, sungguh merindukan kalian.
Takkan henti doa terbaik untuk kalian,
Dan semoga kelak kita bisa berkumpul lagi,
Di dunia,
Di surga-Nya.

Aku merindukan, sungguh merindukan kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s