Sakit Itu Cinta

Dua pekan ini merasakan kembali apa yang disebut ujian kesehatan, dan memang sudah lama semenjak badan ini merasa sakit yang luar biasa. Terakhir kalau tidak salah saat kena infeksi saluran kencing, itupun masa awal-awal di asrama, sekitar satu tahun lebih.

Yang dirasa? Awalnya hanya pusing yang saya biasa rasakan kalau kecapekan, “ditidurin juga sembuh”,  karena gak merasa terlalu pusing, dari Ahad sudah kerasa memang, tapi gak terlalu digubris. Senin subuh, badan menggigil, tidak seperti biasanya, padahal suhu udara juga gak terlalu dingin–sempat nengok termometer ruangan–“mungkin kena flu, siang juga sembuh”.

Akhirnya ke kantor dengan badan yang memang kurang enak. Seharian bolak-balik dengan kepala kleyeng-kleyeng, “ah, kecapekan biasa, pulang istirahat, in sya Allah sembuh”. Seharian terus mensugesti diri supaya kuat sampai akhir hari. Waktunya pulang, ingat mesti mampir dulu ke tempatnya Bayu. Dan niatnya cuma sebentar di sana, malah diajak ifthor jama’i dengan binaannya Bayu. Yah, pada dasarnya saya tipe yang tidak bisa nolak kalau diajak makan-makan. hehehe…

Pulang selepas Isya, badan sudah gak karuan. Coba untuk rebahan beberapa kali, sudah gak genah. Dibuat tidurpun, terbangun beberapa kali. Sudah tidak jelas lagi karena saking pusingnya, badan dibungkus sarung masih juga tetap menggigil. Semalaman tidak bisa tidur. Esok harinya, tinggal pusing saja, karena khawatir tambah parah, akhirnya memutuskan untuk meliburkan diri. Sore makin kerasa badan gak genah, kepala semakin pusing, nafaspun tersenggal, dan badan mulai menggigil lagi. Akhirnya minta antar Zaky ke klinik.

Diagnosisnya kecapekan biasa, diberi obat penurun panas dan pereda sakit kepala. Ya, in sya Allah besok sembuh.

Besok pagi memang sembuh, setelah semalaman lagi-lagi berjuang dengan demam dan sakit kepala. Makin siang, kepala semakin pening kembali, badan juga mulai menggigil. “Ah, butuh banyak istirahat”. Rabu itu seharian di rumah, nothing to do. Setelah izin tidak mengajar dan ngantor.

Kamis pagi mencoba pergi ke kantor, karena siangnya Bapak dan para pimpinan mau pergi ke Papua. Ditahan seharian, baik pusing di kepala dan panas di badan. Seharian ditahan, hingga sore datang, langsung kabur ke kosan Mahfudz. Maghrib sampai isya, pusing saja kerasa. Oh iya, pusingnya itu makin parah kalau kepala bergerak, terutama kalau jalan dan naik tangga. Seolah kepala tidak boleh berubah posisinya. Kan repot juga. Apalagi saat shalat, SubhanaLlah, kalau bisa kepala dicopot dulu aja kalau mau shalat.

Mengobrol bentar, Mahfudz nyuruh istirahat, akhirnya ndusel-ndusel di kasur, eh malah mulai kerasa, kepala rasanya kayak dipukulin palu, “jdug jdug”.  Badan sudah tidak bisa ngapa-ngapain.

Badan rasanya susah digerakkan. Kepala yang terus berdenyut dengan kerasnya, membuat mata tak kuat menahan tangis. Saya beberapa kali mengucap kalimat tahlil dan tahmid, karena tidak kuasa dengan rasa sakit yang menyerang. Je yang memang sengaja datang juga ikut repot. Saya yang belum makan dari sore itu, makin kerasa lemesnya. Setelah dirayu agar makan, akhirnya Je balik bawa bubur ayam.

“Mau makan sendiri atau disuapin?”

Sebenernya dengan kepala yang luar biasa sakit, saya masih bisa makan sendiri, cuma sedikit usil, kapan lagi disuapin Mahfudz,

“disuapin”

Air mata terus mengalir, bukan hanya karena menahan sakit di kepala tapi juga karena merasa bersyukur, bersyukur karena Allah mengirimkan rasa sakit sepaket dengan penyembuhnya. Tidak ada penyembuh rasa sakit yang lebih manjur dibanding kasih sayang sahabat. Je dan Mahfudz mengurus saya semalaman itu. Sampai akhirnya panaspun turun dan badan saya mulai enakan.

Jum’at pagi, saya mulai bingung mau ‘numpang’ dimana lagi. Mahfudz harus ngisi kuliah, sore sudah balik ke Metro. Dan tidak mungkin numpang di tempatnya Je karena ada mba-nya di sana. Akhirnya bbm ummi, minta izin istirahat di rumah beliau, kebetulan si Faruq juga sendirian. Akhirnya meluncur ke sana, dan benar saja, Faruq maen PS sendirian aja. Maka sambil menunggu waktu shalat jum’at, kami berdua asyik dengan Rampage. Dalam hati, “bolehlah sesekali menghabiskan waktu kayak gini” Beres jum’atan, saya kembali bingung. Faruq mau pergi baksos dengan kawan-kawan bimbelnya. Dan gak mungkin stay di rumah Ummi hanya berdua dengan Bi Ijah saja. Akhirnya meneguhkan hati untuk menembus hujan ke kantor Eduspot.

Seperti biasa, ngobrol-ngobrol. Streaming-an, dll. Kepala dan badan masih gak ‘genah’. Cuma berusaha nampilin sebaik-baiknya keadaan. “Kamu pucat Kang”. Dibilang kayak gitu, saya senyum aja. Makin sore makin parah sakit yang dirasa, dan luar biasanya, masih kuat diajak makan ayam geprek pedas di jalur 2 Unila dan masih sempat juga ‘nyeruput’ coklat hangat.

Luar biasa, kalau soal makanan gratis aja dikuat-kuatin. hihihi….

Makin petang, badan makin gak genah. Akhirnya memutuskan periksa ke klinik lagi, minta tes darah. Khawatir DBD.

Hasil tes darah, luar biasa bikin shock. Saya yang tidak punya riwayat jatuh beberapa hari ini, harus mengalami pergeseran tulang rusuk, dengan tambahan trombosit yang anjlok, peradangan di tenggorokan, lambung yang bermasalah. Luar biasa.

“Kalau sampai dua hari tidak ada perubahan, mau tidak mau Mas Naufal harus dirawat”

DHEG!!! Ini penyakit serius broh, saya baru ngeh, beberapa hari ini merasa paling kecapekan biasa. Tahu hasil diagnosis dokter ini, lumayan bikin drop. “what should I do?”. Kalau nda bilang ke orang tua, kalau sampai dirawat gimana. Kalau bilang orang tua, pasti heboh banget. Akhirnya minta saran Ummi, “Udah bilang aja sama kakak yang di Menggala, kalau bilang orang tua kasian, kejauhan”. Oh iya, saya masih punya kakak di Menggala. hehehe..

Sebelum besok dijemput ke Menggala, niatnya menghabiskan malam di kantor Eduspot. Tapi Fadhil ngajak di kosannya. “Dingin kak kalau tidur di kantor”. Maka dengan senang hati, semalaman itu dirawat Fadhil di kosannya. dan Alhamdulillah, saat pagi, sudah mulai enakan kakak dan keluarga datang menjemput. Saya yang masih dalam keadaan lemas dan pusing, tanpa pikir panjang langsung naik mobil, duduk di kursi bagian belakang. Ponakan-ponakan yang biasanya senang lihat pamannya, kali ini menjauh, mereka sudah merasakan aura saya yang non-friendly.

Setelah 4 jam menahan sakit di kepala dan mual di perut, sampai juga di rumah kakak.  Langsung berbaring di kamar depan–tempat saya tidur kalau mampir di sini–

Selama beberapa hari, saya dirawat oleh kakak ipar di sini. Bahkan hampir sebagian besar keluarga ipar kakak saya datang menjenguk. Saya tidak pernah menyangka akan banyak yang peduli pada keadaan saya.

Makin hari, keadaan saya semakin pulih. Dengan banyaknya istirahat dan asupan makanan yang bergizi, badan juga mulai sehat kembali. Dan ada banyak hal yang menjadi bahan renungan saya selama mengalami sakit ini.

Pertama, bahwa Allah memang akan menguji makhluknya. Bukan untuk menguji kemampuan, tetapi untuk menguji kesungguhan. Karena kemampuan setiap makhluk Allah sudah paham. Maka ketika ujian diberikan, Allah ingin tahu hamba-Nya yang mana yang sungguh-sungguh taat dan bertawakal kepada-Nya.

Kedua, bahwa sakit adalah cara Allah mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hak-hak tubuh kita. Saya sadar, beberapa minggu belakangan. Saya banyak memporsir badan saya. Kurang makan makanan yang bergizi. Kurang beristirahat. Kurang berolahraga.

Ketiga, sakit adalah cara Allah menegur kita tentang dosa-dosa yang telah lalu. Sakit memang menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu, dan karena itu saya bersyukur lewat sakit ini, saya kembali mengingat dosa-dosa yang telah saya lakukan dan terlupa untuk memohon ampunan Allah atas dosa-dosa tersebut.

Keempat, sakit membuat saya ingat bahwa saya tidak sendirian di dunia ini. Masih banyak kawan-kawan yang peduli, masih banyak sahabat yang sepertinya tidak rela melihat badan ini meringkih, melihat badan ini menahan sakit. Masih banyak sahabat-sahabat yang begitu peduli. Dan saya yakin, saya tidak akan pernah bisa membalas mereka, terkecuali doa semoga Allah yang membalas setiap kebaikan yang telah dilakukan pada diri ini.

Kelima, sakit membuat saya makin merenungkan dengan serius masalah jodoh. I really need someone to rely on. Bukan bermaksud bergantung pada orang lain, tapi memang untuk hal seperti ini, saya merasa sudah saatnya saya tidak berjuang sendirian, sudah saatnya ada yang menemani. Karena, sendirian itu menakutkan broh. 😦

Keenam, sakit ini membuat saya yakin, bahwa Allah Maha Pencemburu. Benar-benar Maha Pencemburu. Biar untuk alasan yang satu ini, saya simpan sendiri. 🙂

Overall, setelah hampir 2 pekan bedrest, akhirnya badan mulai membaik dari hari ke hari. Saya sudah tidak sabar kembali menjalani aktivitas-aktivitas seperti sediakala.

Sungguh tidak sabar.

Ah… tidak sabar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s