Terkadang Kita Lupa

Alkisah, hiduplah seekor kelinci bersama dengan neneknya, berdua saja. Karena orang tua kelinci telah meninggal bertahun lalu, diburu pemilik tanah, itu cerita nenek, meninggalkan kelinci hanya dengan nenek, berdua saja di sarang sempit dekat danau.

Hidup berdua saja dengan nenek tentu membuat hidup mereka serba kekurangan. Hidup yang sangat sulit, bahkan untuk sekedar makan 3 kali sehari saja mereka kesusahan. Sangat kesusahan. Kelinci dan Nenek tak pernah mengeluh, mereka menjalani hari selalu dengan penuh syukur, dengan penuh semangat. Mereka tempuh hidup dengan penuh suka cita.

Satu hal yang membuat Kelinci bertahan dan terus ceria adalah dongeng nenek setiap menjelang tidur. Dongeng yang selalu memberikannya semangat untuk meraih mimpi, semangat untuk merubah nasibnya, semangat untuk menjadi seekor kelinci yang sukses. Bukan dongeng sebenarnya, itu kisah tentang paman kelinci nan jauh di pulau seberang sana. Kisah tentang paman kelinci yang telah sukses setelah mengalami berbagai macam kesulitan dalam hidup.

Nenek selalu bercerita bagaimana dulu paman kelinci semasa kecil. Dia giat bekerja, rajin beribadah, senang membantu orang tua. Bahkan nenek juga bercerita bagaimana paman kelinci bisa bersekolah, berjuang untuk bisa mendapat pendidikan seperti hewan-hewan lain yang lebih berada, berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari tetangga-tetangga.

Nenek juga selalu bercerita bagaimana kesulitan-kesulitan yang dihadapi paman kelinci. Penolakan-penolakan, hinaan-hinaan, bahkan tak jarang pengusiran. Hanya saja semua tidak menurunkan semangat paman kelinci. Hingga akhirnya paman kelinci diberi kesempatan untuk merantau ke pulau seberang, dan di sanalah dia berhasil menjadi seekor kelinci yang sukses.

Nenek terus bercerita, itu dan itu, setiap malam. Memberikan kelinci semangat. Memberikan kelinci mimpi, bahwa hidup tidak melulu susah seperti ini. Maka kelincipun berjanji, akan terus semangat berjuang, akan terus semangat mengejar cita-citanya.

Dia ingin sukses, seperti paman kelinci.

Tahun berlalu, kelinci semakin dewasa. Tiap tantangan dia hadapi, tiap cobaan dia lewati, semuanya dengan ikhlas, semuanya dengan penuh ketekunan. Walau terkadang dia terjatuh dan nenek selalu berhasil memberikannya semangat untuk bangkit dan memulai lagi.

‘Ya, aku ingin sukses seperti paman, untuk Nenek’

pikirnya dalam hati.

Tahun berlalu, kelinci semakin dewasa. Dia semakin paham mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang baik dan mana yang salah. Dia selalu ingat pesan nenek bahwa hidup harus berusaha dengan sebaik-baiknya. Maka diapun selalu berusaha dengan sebaik-baiknya dalam segala hal. Dan nenek selalu mendukung serta mendoakan kelinci.

Tahun berlalu, kelinci sudah dewasa. Dia menjadi guru sekarang, itu cita-cita nenek dulu yang tidak kesampaian. Maka kelincipun menjadi guru dengan berusaha sebik-baiknya untuk menjadi guru yang baik. Berusaha sebaik-baiknya, agar nanti dia bisa menjadi sukses untuk nenek, seperti paman kelinci.

Tahun berlalu, kelinci sudah dewasa, dia mendapat tawaran kerja, jauh di sana. Nenek hanya memberikan doa. Sedih memang meninggalkan nenek seorang diri. Tapi ini untuk jalan kesuksesannya, jalan yang sudah dia niatkan dalam hati semenjak kecil.

Ingin sukses seperti paman kelinci.

Maka diapun meninggalkan nenek seorang diri, di lubang sempit dekat danau. Dalam hatinya, akan kukunjungi nenek setiap hari raya.

Tahun berlalu, kelinci mulai terbiasa dengan pekerjaannya di tanah rantau. Dan saat libur akan tiba, dia memang akan pulang, menjenguk nenek. Namun kabar itu datang, bersama kumpulan hewan yang datang ke tanah seberang.

‘Nenek terjatuh, dan sekerang sakit, tak bisa berdiri lagi’

kabar bangau kepada kelinci.

Kelincipun, saat itu juga berpulang menjenguk nenek, dalam hatinya dia sangat merasakan kegalauan. Merasakan ketakutan yang sangat dikhawatirkan selama ini.

Nenek tidak bisa melihatnya sukses seperti paman kelinci.

Namun, dia selalu berpikir positif, bahwa nenek pasti akan sembuh lagi.

Sampailah kelinci di luang sempit dekat danau. Terkejut dia melihat keadaan nenek yang sudah udzur. Kering kerontang di atas tempat tidur, ditemani Bu marmut dan anaknya, tetangga mereka. Tak ada yang bisa menahan tangis yang keluar. Kelinci menciumi tangan nenek, menangis sejadinya, meminta maaf, bahwa dia baru datang sekarang.

Nenek, hanya menatapnya dengan sendu.

“oh kamu nak, kamu sudah datang, sehat saja kamu nak?”

Kelinci kaget, Nenek sudah tidak mengenalinya lagi. Alih-alih dia menyebut kelinci dengan nama pamannya. Kelinci tak dapat menahan tangisnya. Tak dapat sama sekali.

Dari itu dia tersadar, sangat sadar. Ada yang salah dengan hidupnya. Dia terlalu sibuk dengan tujuannya, terlalu sibuk hingga dia melupakan bahwa nenek juga butuh perawatan dan perhatian.

Lalu, bagaimana dengan hidup pamannya? Apakah salah juga? Dia teringat, pamannya begitu sibuk, sangat sibuk, dengan kerjaannya, dengan keluarganya. Selama berpuluh tahun, kelinci ingat bahwa paman kelinci hanya menjenguk nenek sebanyak 3 kali. Tak lebih dari itu. Dan sampai saat nenek dalam keadaan udzur pun, paman kelinci tidak dapat datang. Apakah hidup pamannya salah?

Apakah salah jika kita mengejar impian kita?

Apakah hidup seperti itu salah?

Kelinci menjadi kalut, impiannya selama ini. Mimpi yang ingin digapainya. Cita-cita yang dia harapkan. Bahkan jalan hidupnya, semuanya salah.

Apakah hidupnya salah?

Tidak..!!!

Tidak salah jika kita mengejar impian kita, jika kita mengejar cita-cita kita, mengejar apa yang menjadi tujuan hidup kita.

gumam kelinci.

Hanya saja, kita harus selalu ingat tentang orang-orang yang kita sayangi, orang tua kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita. Mereka juga butuh perhatian kita. Mereka juga butuh kasih sayang kita. Akan sangat sedih nanti bila kita berhasil tapi tidak dapat membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Akan sangat sia-sia hidup seperti itu.

pikir kelinci.

Aku tidak akan menyalahkan pamanku, dan bagaimana dia menjalani hidupnya. Itu jalan hidup yang dia pilih. Aku takkan menyalahkannya. Hanya saja, aku tidak ingin seperti itu. Pengertian sukses antara aku dan paman sangat berbeda. Aku ingin berhasil, menjadi seekor kelinci yang sukses, dan tetap bersama dengan orang-orang yang kusayang.

Ya, aku ingin sukses, tidak seperti pamanku.

Digenggamnya tangan nenek dengan erat, air mata tak jua berhenti.

5 Ramadhan 1434 H

Ya, terkadang kita memang seperti itu, menyibukkan diri kita dengan dunia, membuat berbagai targetan-targetan dalam hidup, berusaha keras untuk mencapai cita-cita, tapi melupakan orang-orang yang kita sayang, dengan alasan untuk membahagiakan mereka

Apakah dengan sukses terlebih dahulu kita baru mau membahagiakan mereka?

Lalu kapan kita sukses?

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar mimpi kita, sementara orang tua sendiri merindukan kita di masa senjanya.

Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan hidup kita, sementara orang tua kita telah terlebih dulu dipanggil-Nya.

Ya, terkadang kita terlalu sibuk tumbuh dewasa, melupakan fakta bahwa orang tua kita juga bertambah tua.

Semoga kita termasuk anak-anak yang senantiasa birrul walidain, senantiasa berbakti kepada orang tua kita, kapanpun, dimanapun, dalam keadaan bagaimanapun. Aamiin…


In sya Allah, pada Mama dan Babeh, saya tidak akan melakukan hal tersebut.
Karena saat Nenek menghembuskan nafas di depan kami untuk terakhir kali, akan menjadi pengingat bagi saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s