We All Make Choices, But In The End Our Choices Make Us

Sungguh, rumput tetangga itu selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Padahal bisa jadi rumput yang lebih hijau itu bukanlah rumput yang sebenarnya, rumput sintetis yang biasa dipakai di lapangan futsal. Bisa jadi seperti itu.

Namun, tidak bisa dipungkiri, terkadang kita lupa, terkadang kita khilaf, saya pribadi sering merasakan seperti ini, lupa dan khilaf untuk bersyukur atas setiap karunia yang Allah berikan dalam hidup. Sehingga, pada akhirnya kita hanya melihat di sekitar kita begitu kekurangan, sedangkan di luar sana begitu kelebihan.

Wah, bahasannya berat banget. Heheheheh…

Semenjak menyelesaikan PPG dan kembali ke Bandarlampung. saya mulai merasa minder. Perasaan yang membuat saya tidak mau banyak bergaul bahkan jadi sedikit pendiam–yang sama sekali bukan sifat saya. Saya juga merasa ada yang salah dengan diri saya, makanya saya pernah membahas tentang krisis percaya diri pada posting sebelumnya (disini) dan memang berhasil untuk beberapa minggu. Tapi entah kenapa, krisis yang saya alami tidak pernah benar-benar hilang, terkadang terbangun di pagi hari, I ask my self, “why am I here?”. Begitu terus menerus.

Usut punya usut, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri. Ada banyak hal, yang bila dijabarkan akan menghasilkan artikel dengan tebal yang luar biasa, tapi intinya adalah saya merasa tidak yakin dengan pilihan hidup yang saya pilih dari beberapa tahun ini.

Amanah dari Pak Abe untuk membantu beliau menyusun buku tentang pembelajaran dan menjadi bagian dari staf bagi riset beliau membuat saya harus banyak menghabiskan waktu saya di gedung dekanat. Tidak ada masalah bagi saya pada awalnya, karena memang semenjak bekerja dengan beliau beberapa tahun lalu, saya sudah terbiasa dengan aktivitas di bagian akademik dekanat. Terlebih saya sudah akrab dengan staf-staf di sini, terutama di unit database dan publikasi ilmiah.

Hanya saja, semenjak Pak Abe diangkat menjadi Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kerjasama, saya banyak menghabiskan waktu di ruangan beliau, yang ternyata sering sekali ‘dikunjungi’ oleh dosen-dosen untuk berkonsultasi. Sering juga didatangi para mahasiswa Pascasarjana untuk bimbingan tugas akhir.

Hal yang membuat saya kurang enak adalah ketika Pak Abe sudah mulai diskusi dengan dosen-dosen mengenai sesuatu hal. Saya yang tidak mempunyai basic pendidikan formal yang sama dan pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan tentang riset dosen, rasanya angong. Susah mengikuti apa yang mereka diskusikan, susah mengikuti apa yang mereka bicarakan, susah mengikuti apa yang mereka pikirkan. Susah sekali, dan rasanya kalau sudah seperti itu, saya memilih diam dan mengalihkan fokus pada hal yang lain. Secara tidak langsung, ternyata saya mulai menarik diri dari pembicaraan.

Kembalinya saya ke kampus juga membuat saya masuk ke dalam kelompok tarbiyah di kampus lagi. Hanya saja dengan status saya yang sudah bukan mahasiswa, saya akhirnya masuk dalam kelompok tarbiyah yang berisi dosen-dosen dari beberapa universitas di Bandarlampung. Sama halnya dengan yang terjadi di dekanat, saya kembali menarik diri dari pembicaraan. Merasa tidak seimbang dengan kelompok saya sendiri.

Saya jadi mempertanyakan pilihan saya untuk mengikuti SM-3T dan PPG, alih-alih melanjutkan studi dan memilih karir sebagai seorang dosen. Saya mempertanyakan segala hal yang saya lakukan selama beberapa tahun ini, dan mulai berpikiran, “what if ?”

Kemudian, saya juga mempertanyakan keputusan saya untuk mengambil kontrak kerja dengan GM, selama 2 tahun, tanpa diperbolehkan mengikuti kesempatan-kesempatan yang lain. Padahal, di luar sana masih banyak kesempatan: semerbaknya GGD, harumnya mengajar di Malaysia, CPNS, bahkan Pak Agus menawarkan pekerjaan sebagai guru di Tokyo.

Saya jadi mempertanyakan pilihan saya sendiri, dan ketika orang-orang mempertanyakan hal ini, saya biasanya hanya tersenyum dan bilang, “saya cuma mau jadi guru.”

Saya memang ingin jadi guru, dan sepertinya keputusan saya untuk tidak mengikuti berbagai kesempatan tadi, yang jelas-jelas lebih menghasilkan uang, membuat orang lain merasa heran. Saya sendiri merasa heran.

Siang itu kami duduk di kantin depan dekanat, saya bersama bersama 2 kawan saya yang juga staf di dakanat. Kami mulai bercerita banyak hal. Bahkan tentang pilihan-pilihan hidup. Saya yang tadinya tidak mau ikut menambahi, akhirnya bercerita juga. Saya jelaskan semua yang tadi saya jelaskan kepada mereka di awal. Mereka terheran-heran.
“Jadi lu selama ini merasa seperti itu, kak?”
Saya mengangguk.
“Wah, berat banget kak. Tapi gw senangnya lu itu galaunya gak hanya digalauin saja, tapi dijalani, cepat ambil keputusan, gak banyak mikir”
“Ya, gw sih gak bisa lama-lama nunggu, kayak temen-temen gw yang bisa nunggu beasiswa atau bukaan cpns dan GGD, gw gak bisa lama-lama nunggu”
“Iya juga sih, tapi lu gak bisa nunggu karena lu udah punya rancangan ke depannya mau gimana, sedangkan temen-temen lu mah mungkin belum ada”
“Iya, memang gw udah ada rancangan sampai beberapa tahun ke dapan mau kemana arahnya. Tapi terkadang, hal-hal tadi bikin gw bimbang sama keputusan dan rencana gw. Apa gw bener. Apa gw salah”
“Ya udahlah kak, lu jalanan aja apa yang ada di depan lu sekarang. Gak usah tengok kanan kiri. Setiap jalan yang lu ambil pasti yang terbaik”
“Iya ya, yang terpenting komitmen dengan apa yang gw pilih”
“Nah, itu..”

Saya pun mulai memikirkan hal-hal yang sudah saya rencanakan untuk beberapa tahun ke depan. Ya, semuanya hampir berjalan sesuai dengan apa yang saya rencanakan. Hebatnya, saya baru sadar bahwa akan hal ini setelah dapat obrolan tadi. Satu persatu apa yang saya jalani mulai berjalan ke arah yang saya rencanakan, kenapa saya masih galau dan bimbang?


Kegiatan rutin pagi hari baru-baru ini, setelah beres dengan rutinitas subuh, saya pergi ke pasar, membeli sayur dan lauk untuk makan orang rumah satu hari ini. Ya, di tempat yang baru, tanpa ada SK tertulis dan terucap, sepertinya saya didaulat mengurusi urusan perut orang-orang seisi rumah. Mulai dari belanja dan masak. Entah mungkin karena masakan saya yang enak, atau mungkin karena hanya saya yang kerajinan, tidak tega melihat orang serumah saya pulang mengajar tapi tidak menemukan makanan. Yang jelas, saya pribadi enjoy dengan tugas ini.

Ah.. Andai saya tidak memiliki pengalaman satu tahun di tempat tugas, tidak bertemu Teh Siti dan Kak Sinta, saya mungkin tidak akan punya keahlian seperti ini. Dan mungkin dari awal, saya juga sudah malas bila diminta untuk menjadi juru masak untuk orang-orang di rumah.

Kemudian, dipinggir rumah mereka sibuk membersihkan tanaman jagung yang kami tanam. Saya juga ikut bergabung dan mulai menanam bibit timun suri yang baru kami dapatkan. Ah.. kalau saya tidak ikut SM-3T, saya tidak akan punya hobi baru ini, hobi bermain tanah seperti ini.

Pohon Jagung Sudah Mulai Tumbuh

Sambil menanam, sayapun mulai menghitung hal-hal apa saja yang saya dapatkan berdasarkan keputusan yang saya ambil beberapa tahun ini. Semuanya ternyata memberikan rasa haru dan syukur yang tidak terkira, “AlhamduliLlah”

Setiap keputusan yang saya ambil ternyata memberikan pengaruh, baik langsung maupun tidak langsung terhadap diri saya, yang syukurnya, sebagaian besar memberikan pengaruh postif. Setiap keputusan yang saya ambil beberapa tahun belakangan, sedikit banyak telah membentuk saya yang sekarang.
“We all make choices, but in the end our choices make us”

Bibit Timun Suri Siap Ditanam

Ah.. Ya Allah,
betapa kerdilnya diri ini, jauh sekali dari rasa syukur.
Jauh sekali, sehingga terkadang melupakan apa yang ada di diri ini juga merupakan karunia dari-Mu.
Ah.. Ya Allah,
Tak ada lagi yang diri harapkan selain hati yang selalu cinta dan mensyukuri setiap jalan yang Engkau siapkan.
Maka tetapkanlah hati dan diri ini, termasuk ke dalam hamba-Mu yang senantiasa bersyukur.


Bandarlampung, 12 Juni 2015.

Advertisements

2 thoughts on “We All Make Choices, But In The End Our Choices Make Us

  1. Alhamdulillahh… Opal masih diberikan banyak amanah sm Allah. Artinya Allah masing sayang opal. Justru keren, bisa bergabung dan berada diantara para dosen. Artinya sekali lagi opal diberikan kepercayaan lebih oleh orang2 itu. 🙂 semangattt opal 😀

    Like

    • Terkadang memang susah mengenali apa yang kita punya dan tidak punya pi, ibaratnya kayak melihat pundak orang lain, tapi sangat susah melihat pundak sendiri. hehehe..
      In sya Allah tidak akan menyiakan kesempatan yang diberikan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s