Kota Agung dan Berhijrah

Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat… Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus ke berapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Peta itu…. bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sungguh Indah. Sama sekali tidak rumit. — Tere Liye

“Jadi lu mau ikut gw balik, Uq?”
“Bolehlah, gw pengen maen ke Banten, pengen kenal ortu lu juga Bang, Kali aja kalau lu kenapa-kenapa, ortu lu nanti ngehubungi gw”

Ini anak, pikirannya ada-ada aja, lagian juga kalaa ada apa-apa, ortu saya pasti menghubungi kakak saya yang di Tulang Bawang. Kami berjalan menyusuri dermaga yang ketiga, dermaga yang belum rampung, terlihat dari masih banyaknya berkarung-karung pasir dan timbulnya besi penopang dermaga.

“Kayak si Hanif, dia kan kalua pergi sama ceweknya sampai malam, ortunya nelepon gw, nanyain dia kemana” Faruq duduk di pinggiran dermaga, saya mengikuti, duduk di sampingnya. “wah, si Hanif punya cewek juga, Uq?” Saya agak heran, mengingat kawan sebangku Faruq itu setelannya bukan seorang yang berpacaran.
“Punya lah Bang, dia itu ahli banget ganti-ganti cewek. Banyak duit juga dia itu, ke Mall aja maenannya. Dia itu ponakannya Rektor”
“Ooooo….” Saya merasakan nada tidak senang saat Faruq menjelaskan, ya namanya anak muda.
“Kawan-kawan gw itu, Bang. Tajir-tajir, tapi ya itu, diajak sholat jama’ah itu susah banget. Kemaren-Kemaren aja dia orang rajin solat dhuha, sholat dzuhur berjamaah karena mau UN dan SNMPTN. Dulu-dulu mah gw ajakin ada aja alasannya”. Saya menahan tawa, aktivis rohis SMANDA senewen. “Ooo….”

“Ya, gak apa-apa sih uq. Masih syukur mereka pada mau sholat. Tapi ya, sayang juga, sholatnya punya tujuan tertentu, bukan nyari ridho Allah”. Saya menghela nafas, memperhatikan garis pantai di seberang dermaga yang pertama. Pasir putih menggoda untuk disinggahi, pasir putih menggoda untuk didatangi.

“Ya, untuk seukuran mereka mah gak apa-apa, Bang. Itu masih mending, ada kawan gw dari kelas lain. Tahu-tahu dia orang jama’ah di shaf pertama. Abis sholat gw tegor, ‘tumben lu shalat’. Dia bilang, ‘ssttt.. gw disuruh cewek gw’. Gw cuma geleng-geleng kepala”

Saya lebih geleng-geleng kepala lagi mendengar kelakukan anak ini, berani betul ceplas-ceplos, menegur kawannya yang baru shalat.

“Disuruh ceweknya aja mau sholat” Faruq terlihat sewot. Saya senyum-senyum saja mendengar dia bercerita.”
“Gw tahu uq rasanya seperti itu, Dulu juga gw kayak gitu, jaman-jaman SMA. Jaman Jahiliyah” Perahu dengan tenangnya mendekat ke arah dermaga dua, membelah hamparan biru di depannya. Menimbulkan buih dan cipratan yang tampak begitu ramai. Saya menarik nafas, melanjutkan cerita.

“Jaman SMA, gw pacaran dengan seorang cewek. Sudah dari kelas 2 SMP sama dia, baru putus awal semester kuliah.” Faruq seolah menatap gw heran, “Untung gw dulu SD dan SMP nya di IT, jadi gak kayak gitu”

“Iya uq, beruntung lu sekolah di IT.” Saya tersenyum sendiri mendengar tanggapan Faruq. Masih memerhatikan perahu yang semakin mendekat ke dermaga di seberang sana. “Ya, gw juga dulu sama kayak temen lu. Tiap hari sms-an, telepon-an, bahkan tiap malam gw nganterin dia makan, dan dia nemenin gw makan. Gw pernah cerita kan, gw mulai kost semenjak SMA. Kosan gw kebetulan dekat sama kosan dia.”

Hati sepertinya enggan menceritakan kisah hidup saya yang ini. Namun, birunya langit menyiptakan atmosfer yang mendukung. Saya tak sama dengan saya yang dulu, in Sya Allah.

Birunya langit dan laut menciptakan simfoni, indah

Birunya langit dan laut menciptakan simfoni, indah

“Tiap malam, nganter dia ke kosannya. Baru pulang kalau sudah jam 10 malam. Kalau sudah bapak kost nya ber-ehm dari dalam rumah. Sampai sekarang kalau gw maen ke sekolah, terus ketemu bapak itu, dia pasti nanya, ‘ai si neng kemana, Pal?’ gw biasanya tersenyum aja ditanya gitu”
“Ya, lu jawablah, lu udah hijrah”
“Hahahaha…. Bener juga ya, uq. Harusnya gw jawab kayak gitu”. Lagi, anak ini membuat saya terheran dengan cara berpikirnya. Tapi, Ya, saya sudah hijrah, saya bukan saya yang dulu.

“Gw baru tarbiyah awal semester kuliah. Dari situ banyak perubahan yang gw alami. Ya, walaupun pada perjalanannya sampai sekarang, masih sering naik-turun. Pengalaman di Kupang makin memantapkan gw, kalau gw harus ajeg dengan tarbiyah gw. Gimanapun caranya.”
“Wah, untung gw dulunya sekolah di IT.”
“Iya, Uq. Untung lu sekolah di IT”, saya kembali tersenyum. “Dan gw uq, merasa gw punya potensi tergoda yang besar, juga potensi menggoda yang besar. Makanya, gw masih perlu banyak belajar dalam banyak hal, dan melalui tarbiyah itulah gw merasa nyaman untuk memperbaiki diri” Saya menghela nafas, mengusap mata yang mulai berair, haru, lalu melanjutkan, “Tarbiyah mengajarkan gw banyak hal. Dari mulai mengenal Allah sampai indahnya ukhuwah. Gw merasa perlu tarbiyah”

“Iya, Bang. Memang kalau orang yang sudah tersentuh hatinya oleh tarbiyah akan kembali lagi mentarbiyahi diri, walapun sudah jauh berubah, pasti dia kembali lagi.” Lalu Faruq menceritakan kawan SMP nya yang dulu rajin, tapi kemudian SMA berubah drastis, tapi akhirnya kembali ke guru mereka, merasa lelah dengan kehidupan yang jauh dari tarbiyah, merasa lelah dengan kehidupan yang dia rasa amburadul untuk kembali tarbiyah.

“Kadang gw juga sedih, uq. Melihat teman-teman gw seperjuangan ada yang melepaskan diri dari lingkaran, berubah sikap dan pola pikir, karena merasa kecewa dengan jama’ah. Kalau Abi bilang sih, memang tergantung niat dari awal gabung tarbiyah tujuannya apa”

“Semoga kita senantiasa diberikan keistiqomahan, Bang. Makanya lu buruan nikah, dakwah yang bener. Biar gak galau terus”
Saya menengok Faruq dengan heran, lah ini anak malah mengalihkan topik ke situ. Faruq tertawa puas. Akhirnya kami saling mengolok tentang masalah satu ini. Saling mengatai satu sama lain dengan sebutan jomblo ngenes.

“Jam berapa uq? Balik yuk, mbah sudah nunggu pasti itu”
“Ya, kita juga emang nunggu pesanan Ummi.” Faruq memandang jam tangan yang dia kenakan sekilas.”Ya udah, balik yuk.”

Kamipun meninggalkan dermaga yang belum rampung itu, kembali menuju kantor bea cukai Pelabuhan Kota Agung. Kembali melewati pasir putih, beberapa perahu yang belum rampung di tepi pantai, dan beberapa orang nelayan yang dengan ramahnya menyapa kami.

Pikiran saya masih pada obrolan tadi, tentang siapa saya di masa lalu, siapa saya di masa ini. Pikiran itu menjawab pertanyaan saya bertahun-tahun lalu. Pertanyaan yang saya sering kemukakan dengan kemarahan dan kejengkelan, “Kenapa saya harus menurut Bapak untuk kuliah di Unila?”

Pertanyaan yang baru terjawab setelah 7 tahun terlewati.

Allah telah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat sempurna. Allah telah merencanakan jalan hidup saya dengan sebaik-baiknya jalan. Terbayang bila saya menghabiskan masa kuliah di sana, bukan di sini. Mungkin akan banyak kisah dan pengalaman yang tidak akan saya alami seperti yang saya alami di sini. Hidup ini memang hubungan sebab-akibat, yang telah Allah rencanakan dengan sebaik-baiknya rencana. Saya sangat bersyukur untuk orang-orang yang telah Allah tempatkan untuk merubah garis kehidupan saya. Orang-orang yang menyebabkan terjadinya hijrah dalam hidup saya. Walaupun saya tahu, masih banyak, bahkan terlalu banyak yang harus dibenahi dalam diri ini. Sayapun berharap, saya bisa menjadi orang yang Allah tempatkan untuk merubah garis kehidupan orang lain. Menjadi penyebab seseorang berhijrah.

Semoga.

Overwhelming views in Kota Agung' Port

Overwhelming views in Kota Agung’ Port

Kantor berwarna jingga sudah tampak, mbah dan nenek dengan segera berdiri dari duduknya ketika melihat kami mendekat. Kamipun bergegas pulang. Ah, hari yang luar biasa di kota pelabuhan ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s