When they call me “Abah”

The essence of our effort to see that every child has a chance must be to assure each an equal opportunity, not to become equal, but to become different – to realize whatever unique potential of body, mind and spirit he or she possesses

–John Fischer

Selepas HRT meeting sore tadi, saya kembali ke kelas dengan terburu-buru, mengejar shalat ashar dan pertemuan pertama dengan anak-anak rohis. Dari kaca pintu Room 309, kelas XI MIA 2, tampak siluet beberapa anak. Langkah makin saya percepat, ketika pintu saya buka dengan serentak tiga siswi menatap saya dan tersenyum.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam, Abah”
“Kok belum pulang? Kalian gak sholat?”
“Nah kan, bener gue bilang, pasti abah lupa kita lagi udzur” Adel berceloteh sambil menempel hiasan di information board.

Saya cuma tersenyum. Mereka sepertinya paham sekali dengan tabiat pelupa yang saya miliki.
“Ini loh Bah, kelasnya belum selesai didekor. Tadi itu kelas gak kondusif banget” Lutvia menghentikan kerjaannya, menatap saya dengan muka mengiba.
“Iya loh bah, tadi kelas kita rame banget” Adit menambahkan.
“Tadi itu anak kelas sebelah pada masuk ke kelas kita semua, AC kelas mereka mati, jadilah kelas ini lautan manusia. Tadi juga yang anak-anak akustik gak pada latihan.”
“Lah, emang Arya kemana?” Saya duduk di kursi HRT, packing peralatan ke dalam ransel.
“Gak tau itu Bah, Arya tadi ngilang. Oh iya Bah, maaf ya tadi Adel merapikan meja Abah.”

Saya tersenyum, lagi-lagi mereka paham sekali dengan tabiat saya, yang pelupa dan juga ‘kurang’ rapih. Meja sekarang sudah di hias dengan gambar motif batik Lampung.
“Iya Adel, makasih ya.”

Saya kembali merapikan barang-barang, memasukkan ke dalam ransel. Sementara mereka asyik melanjutkan mendekor kelas sambil mengobrol.
“Kalian belum mau pulang?”
“Kami mau nginep di sini, Bah!!”
“Emang boleh?”
“Via becanda aja, Bah”
“Mendekornya dilanjut nanti lagi saja.”
“Tapi belum selesai, Bah”
“Sudah kalian pulang, dibuat saja apa-apa yang mau ditempel. Nanti yang menempel temen-temen yang lain besok”
Muka mereka menampakan kekecewaan.
“Iya deh Bah, kami pulang ya”

Saya juga bergegas pulang, mengecek setiap bagian ruang kelas, memastikan tidak ada sampah. Banyak terjadi perubahan di dalam kelas. Salah satunya papan karya di depan meja saya. Papan yang dulu hanya hitam polos, sekarang penuh dengan hiasan kertas origami yang sudah dibentuk menjadi kupu-kupu, dibingkai dengan pita berwarna merah putih, dan tepat di tengahnya potongan kertas warna-warni di rangkai sedemikian rupa.
Mata saya tertuju pada tulisan yang terdapat pada kertas-kertas tersebut, tertulis “Abah Noval” di satu kertas, dan nama-nama penghuni kelas di kertas lainnya.
Saya tertegun.

Little Surprise


1 Juli 2015

Hari pertama saya menjadi guru di SMA Global Madani. Kami guru-guru dan staf yang terekrut di unit SMA dikumpulkan di Principal Office untuk mendapatkan pengarahan dan pembagian tugas mengajar serta tugas tambahan. Ketika nama saya disebutkan sebagai salah satu HRT (Homeroom Teacher) untuk siswa kelas XI, saya mencelos.

Di satu pihak, saya tahu amanah ini akan memberikan banyak pengalaman dan banyak ilmu. Serta pastinya akan memberikan nuansa baru bagi saya sebagai seorang guru. Terlebih lagi dengan sistem HRT di sekolah ini yang berbeda dengan HRT di sekolah lain, terutama di sekolah negeri. Di pihak yang lain, karena perbedaan inilah yang akan banyak menuntut saya untuk banyak menghabiskan energi dan waktu bagi kelas binaan saya.

Abi Tri, mengulang pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali setelah menjelaskan apa saja tugas HRT.
“Masih mau pak, bu jadi HRT?”
“In sya Allah siap Bi”

Bismillah.. Saya yakin Allah punya rencana yang luar biasa buat saya.


29 Juli 2015

“Saya harap kalian menjadikan kelas ini sebagai your second home selama setahun kedepan”
“Kita butuh nama kesayangan buat manggil mister”
“Iya apa ya?”
“Mister aja”
“Abi aja”
“Papa”
“Daddy aja”
*saya senyum sendiri*
“Abah aja”
“Nah, boleh itu. Kebetulan saya orang Sunda, saya akan senang sekali dipanggil abah.”
Maka setelah itu, ada
“Assalamu’alaikum Abah”
“Abah, jurnal kelasnya dimana ya?”
“Abah, aku izin ke toilet”
“Biar aku aja yang bikin kotaknya, bah”
Agak ganjil awalnya, tapi baik saya maupun mereka mulai terbiasa sedikit demi sedikit.

Kejutan di Belakang Meja HRT


Awal Agustus 2015

Sepulang sekolah sekarang badan terasa sekali capeknya, menjadi HRT ternyata memang menghabiskan banyak energi, lebih dari saya mengajar kelas sebagai guru biasa. Begitu banyak kerjaan yang harus dilakukan. Mengecek shalat Dhuha, melakukan circle time, membimbing mereka muroja’ah, menasehati mereka bila melakukan pelanggaran, menggiring mereka untuk shalat dzuhur dan ashar, melakukan closing time, belum lagi kalau mereka mulai bertingkah yang aneh-aneh, yang memang membuat saya kehabisan suara ketika harus mengulang peringatan yang sama. Serta harus memasukkan setiap pelanggaran ke dalam daftar inkonsistensi punya sensasi tersendiri. Terkadang saya tidak tega kalau harus mengurangi ExcellApreciation mereka, tapi terkadang juga saya ingin mereka jera dan tidak mengulang pelanggarannya lagi.

Ah… luar biasa menjadi HRT. Terlebih setelah kejadian pergantian siswa dari kelas XI MIA 1, mereka seperti yang melakukan pemberontakan kepada saya, tidak menghiraukan apa yang saya perintahkan.

Ah.. luar biasa..

Saya mencoba berusaha untuk berhusnudzon, Allah punya rencana yang luar biasa buat saya. Saya yang memang tidak bisa marah, tidak bisa bersikap tegas, tidak bisa memberikan peringatan kepada siswa dengan baik, kurang bisa menguasai kelas. Mungkin Allah ingin saya belajar memperbaiki semua itu.


Selepas isya, saya mengaktifkan kembali hape yang sedari siang mati. Begitu banyak notif yang masuk, penyumbang terbesar adalah grup bbm Eleva-Two, grup kelas XI MIA 2. Semuanya sibuk berbincang tentang dekorasi kelas. Saya tersenyum sendiri membaca bagaimana mereka saling berkomunikasi. Membuat saya mengingat kejadian beberapa minggu ini.

Farhan yang tiba-tiba datang ke depan saya sambil membawa gitar, “Saya mau nyanyi buat Abah” lalu memainkan lagu Ayah dengan merdunya.

Arya yang memimpin closing time berseru, “Give Thanks to our Abah..!!!” dan dengan serentak seluruh penghuni kelas berteriak, “Thank you Abah..!!”

Evi yang dengan malu-malu mendatangi saya, “Abah, maaf ya aku belum maksimal jadi sekretarisnya”

Wulan yang saya kira pendiam tetiba berteriak, “Ih.. Abah kepo” saat saya bertanya kepada Elza tentang alasan dia adu argumen dengan Ihsan.

Rizal yang selalu tersenyum dan menaikkan alis, saat saya tegur ketika terlalu banyak berkaca dan menyisir rambut di dalam kelas.

Ridho yang suka gak jelas mengirim BBM, “Abah” di malam hari, dan tak pernah membalas ketika saya jawab.

Nisa dan Sofi yang punya hobi baca novel dan selalu mengutarakan kata dengan diksi yang yang berbeda dengan teman-temannya

Lingga si pendiam yang jago gambar selalu malu jika saya dekati.

Oci si hafidzah yang bersuara merdu namun kurang mau unjuk bakatnya.

Chelda sang atlit tenis meja yang ceria dan selalu memberikan ide-ide dengan senyumnya yang khas.

Lutvia, Adel, dan Adit, trio angels yang paling aktif di kelas. Apapun mereka ‘oprek’.

Hadid yang malu-malu ketika saya bimbing saat mau tampil untuk memberikan kultum selepas dzuhur.

Diana yang begitu lincah dan ekspresif, yang terkadang membuat saya heran, kapan nih anak habis baterainya.

Lavy dengan cara berbicaranya yang terstruktur dan ‘r’ yang tidak jelas.

Zannuar si murid baru yang sopan namun banyak gaya

Niko yang jago di bidang akademik dan musik.

Ayun yang tiba-tiba datang ke meja saya dan memberikan kupu-kupu dari kertas origami yang dia buat.

Ah… Rasanya baru kemarin mereka memanggil saya Abah untuk pertama kali. Semakin saya berinteraksi dengan mereka, semakin saya yakin bahwa memang setiap individu siswa memiliki keunikan tersendiri, yang membuat saya semakin ingin menggali lebih dalam, ingin belajar lebih banyak cara menghadapi siswa yang berbeda.

Ah… Selalu ada positif dan negatif untuk setiap Allah berikan, termasuk amanah menjadi HRT. Jari saya mengetik di layar General Chat dari grup Eleva-Two.

“Please wear sport uniform for tomorrow”
“Oke Abah”
“Iya Bah”
“Abah seragam kami di laundry asrama”

Saya tersenyum lagi, there is indescribable feeling when they call me “Abah”.

Advertisements

2 thoughts on “When they call me “Abah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s