21 Januari Yang Ke-26

21 Januari 2016

Tulisan ini aku tulis di atas bus, dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh armada bis yang kami gunakan untuk educational trip sekolah.

Sebenarnya banyak hal yang ingin aku utarakan via tulisan ini, terlalu banyak, sungguh.

Tentang hidup sejauh ini, tentang rasa, tentang kebimbangan, tentang kekhawatiran, tentang mimpi-mimpi. Tentang semuanya.

Maka biarkan aku memulainya dengan syukur kepada Sang Penentu, kepada Dia yang telah memberikan begitu banyak nikmat sampai saat ini, sampai saat aku bisa merasakan kembali tanggal 21 januari untuk ke 26 kalinya.

AlhamduliLlah.. Allahumma anta rabbi wa ana ‘abduka.

Karena Dia-lah, aku bisa sampai pada titik ini. Titik, yang bila aku lirik ke belakang, yang mengharuskan aku memperjuangkan hal yang aku yakini, menempuh berbagai ujian dan cobaan, berdarah, bernanah, berpeluh, berkeringat, berisak tangis. Titik yang karenanya aku harus melukai diri sendiri, orang yang  kucintai, orang-orang di sekelilingku. Titik yang penuh tinta hitam kesalahan, kekhilafan, kesalahpahaman.

Ya. Dia-lah yang membuat aku sampai pada titik ini.

Lalu biarkan aku juga melanjutkan syukur kepada-Nya, yang senantiasa memberikan sakit lengkap dengan penawarnya. Keluarga yang senantiasa menerima aku apa adanya. Sahabat yang selalu membersamai. Orang-orang di sekitar yang senantiasa menginspirasi. Terlebih lagi, Dia juga telah menganugerahi dirimu, penyejuk mataku.

Ah… terlalu banyak nikmat yang Dia berikan, sedikit sekali yang aku sadari, lebih sedikit lagi yang aku syukuri. Dan kuharap kau mau mengingatkanku tentang hal ini.

21 Januari yang ke-26.

Apa yang aku rasakan saat ini adalah letupan-letupan emosi, antara senang bercampur sedih. Antara bahagia bercampur khawatir.

Ingat kejadian tadi pagi? Selepas subuh sebuah kejutan yang memang kamu siapkan, membuatku semakin takjub pada sosokmu yang luar biasa. Lelah dengan kegiatan di sekolah, aktivitas dakwahmu, kerjaan di rumah, tapi masih menyempatkan untuk memberikan kejutan yang membuat diri ini tak bisa berkata banyak. Ada doa yang tersimpan dalam hati, yang akan menjadi rahasiaku dengan-Nya.

“Kalau doanya tidak diketahui orang lain, lebih besar potensi terijabahnya”

Antara setuju tidak setuju sebenarnya, karena janji-Nya akan selalu mengabulkan doa hamba yang meminta kepada-Nya. Tak ingin berargumen saat itu. Melihat senyummu lebih penting dari soal setuju tidak setuju.

Yah.. Having you beside me and smiling all around is just enough.

Sejenak, aku bertanya pada diri, apa yang membuatku layak mendapatkan kebahagian ini. Membuatku sedih bahwa terlalu banyak kesalahan di masa lalu, kekeliruan yang membuatku malu pada diriku sendiri.

Tapi kau tahu, aku berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terus ingatkan aku juga akan hal ini.

21 Januari yang ke-26.

Aku merasa bahagia, tidak hanya kamu yang memberikan kejutan. Tadi rombongan educational trip berhasil membuatku menangis. Berhasil memberikan kejutan yang membuatku bahagia tak terkira. Anak-anak yang biasa menjadi obrolan kita di rumah, yang biasa membuatku bercerita dengan semangatnya bila mereka melakukan hal yang membanggakan, yang biasa membuatku bercerita dengan kening berkerut dan helaan nafas panjang karena tingkahnya. Anak-anak yang selalu kau dengarkan ceritanya dariku, membuat sebuah kejutan yang berhasil membuatku menangis. Tentu saja dibantu oleh seluruh panitia. Ya, aku sepertinya nyaman dengan lingkungan kerjaku saat ini.

Terima kasih untuk jalan pagi kita waktu itu tentang hal ini. Atas pandanganmu. Atas penguatanmu. Atas keyakinanmu pada diriku. Teruslah seperti itu, kuatkan aku, yakin padaku.

21 Januari yang ke-26

Masih ingat mimpi itu? Yang aku ceritakan sambil malu-malu. Tadi pagi saat kucek email, sebuah universitas di sana memberikan pemberitahuan. Ada berkas yang harus dikirim untuk melengkapi aplikasiku, yang sayangnya telah lewat tenggat waktu. Ah… belum saatnya mungkin aku sampai pada mimpi itu.

Maka lagi-lagi, jangan biarkan diri ini lupa akan mimpinya. Karena kelak, saat mimpi itu tercapai, aku ingin kau ada di sampingku.

21 Januari yang ke-26

Ada banyak kekhawatiran di kening ini, ada banyak beban di pundak ini. Ada banyak. Namun, aku tahu semenjak kita bersama dalam deras hujan waktu itu, semua kekhawatiran itu, semua beban itu, tidak akan terasa.
Karena kau menemaniku.

Ya, tetaplah seperti itu. Menemaniku seperti itu.

21 Januari yang ke-26
Aku masih muda,
dengan segala keterbatasanku sebagai seorang nahkoda,
meminta kesediaanmu untuk senantiasa menjadi navigatorku,
mengarungi hidup ini,
menapaki tiap tangga,
menuju surga-Nya.

–dengan sepenuh cinta,
suamimu.

Ahmad Naufal Umam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s