Tentang Sebuah Keyakinan

Ribuan malam menatap bintang dan harapan
dan ribuan siang menahan terik penantian.
Mungkin Tuhan ingin kita sama–sama tuk mencari
saling merindukan dalam doa–doa mendekatkan jarak kita. —

Halaqah Cinta by Kang Abay

28 Januari 2016

Satu bulan berlalu semenjak saya memegang erat tangan Papa, mengucap qobal atas ijab yang beliau sampaikan. Satu kali ucapan dengan sekali helaan nafas. Mungkin kamu tidak tahu apa yang saya rasa waktu itu. Tapi yang saya tahu pasti, di dalam kamar, doa dan dzikir tak lepas dari bibirmu.

Saya tahu pasti itu.

“Abah, kertas gambarnya mana?” Panggilan salah satu siswi memecah lamunanku. Saya kembali tersadar dimana posisiku saat ini. Bukit Seruni, Gunung Bromo, Jawa Timur.

Ah.. Sudah lebih dari satu pekan saya meninggalkanmu di rumah.

Mungkin ini yang dinamakan rindu.

Saya raguh saku, temukan pena. Segera saya dekati Adel yang saat itu asyik ber-selfi ria. “Del, abah minta kertasnya”. Dengan sedikit tergesa, saya tuliskan beberapa kalimat, tanpa menghiraukan “cie-cie-cie” yang keluar dari anak-anak kelas.

Berlatar Gunung Bromo dengan letusan, saya pegang erat kertas tersebut, Taufik memotret.

“HEY, RITA PUSPITASARI. SALAM RINDU DARI GUNUNG BROMO”

 

Awal Juli 2015

Satu pekan berlalu semenjak ta’aruf yang telah kita laksanakan. Belum ada kabar, baik dari ustadz s maupun dari pihak keluargamu. Kesepakatan waktu itu mengharuskan saya untuk datang terlebih dahulu ke rumah, untuk berkenalan dengan kedua orang tuamu. Hanya saja, tidak mungkin bertamu di bulan Ramadhan. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Akhirnya saya fokuskan waktu ini untuk kembali ‘merayu’ keluarga tentang proses yang kita jalani.

Hasil ta’aruf sudah saya sampaikan ke Bapak dan Mama, namun mereka sepertinya masih meragu dengan pilihan yang saya ambil. Mereka kembali meminta saya untuk membawamu ke rumah, untuk diperkenalkan selayaknya calon menantu, dan tentu saja saya kembali menolak. Kembali menjelaskan proses tersebut

saya terus berusaha berhusnudzon tentang tanggapan keluarga. Ya, mungkin karena saya putera kesayangan mereka, mereka tidak mau saya salah memilih. Bahkan berkali-kali A’ye menelepon menanyakan keseriusan untuk menikah di tahun ini. Berkali-kali pula saya meyakinkan bahwa adiknya ini sudah memantapkan hati untuk berumah tangga. Dan sepertinya alasan tentang menjaga diri dari zina dan fitnah menurut kakak-kakak kkurang masuk akal. Maka berkali-kali juga saya menjelaskan alasan tersebut.

Ah. Sungguh sangat melelahkan. Keluarga yang biasanya mendukung, kali ini rasanya seperti memojokkan. Menghadirkan husnudzon dalam hati sungguh tidak mudah. Terkadang merasa tidak adil. Saat mereka melihat orang-orang yang berpacaran sudah sampai melewati batas, mereka selalu memberikan nasihat kepada orangtuanya agar segera dinikahkan. Sedangkan saya, yang notabene putera atau adik kandung, meminta menikah agar terhindar dari zina dan fitnah, sepertinya tidak mendapat restu. Apa harus berpacaran sampai melewati batas dulu baru dinikahkan?

Astaghfirullahaladzim…

Saya juga tidak bisa menyalahkan mereka seutuhnya, aku paham betul kesalahan juga ada di pihak saya. Saya yang belum mapan secara finansial membuat mereka ketar-ketir. Bagaimana nanti biaya resepsi? Bagaimana nanti uang seserahan? Bagaimana nanti setelah menikah? Bagaimana nanti menghidupi anak orang?

Ya, ini murni kesalahan saya. Persiapan di sisi ini memang belum ada. Saya yang baru saja mengajar di Global Madani mana mungkin sudah memiliki cukup tabungan untuk membiayai resepsi. Apalagi sewa rumah untuk tinggal setelah menikah nanti.

Saya tak berani meminta tolong kepada kakak-kakak.

Saya berkali-kali mengeluhkan hal ini kepada Bapak, dan beliau hanya menghela nafas, “Ya semoga ada rejeki dan pertolongan dari Allah”.

Itulah yang kemudian menguatkan keyakinan yang saya miliki. Tidak, mungkin bukan keyakinan, tapi sebuah kenekatan.

***

Terkadang keyakinan yang dimiliki juga naik turun seiring dengan adanya gesekan dengan keluarga. Sungguh melelahkan. Lebih melelahkan lagi ketika sama sekali tidak memiliki seseorang yang bisa diajak untuk bercerita atau memberikan motivasi. Saya tidak berani menceritakan masalah kesiapan finansial kepada Abi. Tidak berani juga menceritakan ini kepada teman terdekat. Bahkan kepada kakak-kakak sekalipun. Semuanya saya pendam sendiri. Hanya tangis di malam-malam sunyi. Saya senantiasa menagih pertolongan dari-Nya. Menagih janji-Nya. Menagih dan menagih.

Maka, saat secara tidak sengaja saya lihat beranda, kamu memposting sebuah potongan ayat yang sangat ‘mengena’, saya merasa yakin lagi.

Faidza ‘adzamta fatawakkal ‘alaLlah

Ya, ikhtiar, doa, dan tawakkal.

Pertengahan Juli 2015/ Akhir Ramadhan 1436 H

I’tikaf tahun ini berbeda dari biasanya. Entah kenapa lebih terasa khidmat, walau memang ngobrol-ngobrol sesama jama’ah yang lain tidak terlewat. Terlebih lagi dengan jama’ah yang sudah langganan beri’tikaf di wasi’i.

Ada bahasan yang semakin menarik di antara kami para bujang angkatan 2008, proses walimah. Saya tidak banyak berkomentar saat kawan-kawan dengan semangatnya menceritakan tentang ta’aruf, khitbah, dan lain sebagainya. Mengomentari seperlunya.

Cuma saat hanya berdua dengan Endin, kawan satu angkatan yang baru saja menikah, saya banyak meminta nasihat. Mulai dari proses, sampai kepada masalah seserahan dan resepsi. AlhamduliLlah, beliau banyak memberikan masukan dan pencerahan.

***

“Afwan, Ustadz dan Ummi..
Orang tua ana mulai menanyakan, kapan akh naufal bisa ke rumah?”

Sebuah pesan di dalam grup cukup mengagetkan. Saya yang dari awal menanti kepastian, ternyata ditanyakan kepastiannya.

“In syaa Allah, setelah Ramadhan ana bisa”

“Kalau misalnya sekalian mengajak keluarga dan khitbah, in syaa Allah keluarga ana sudah siap menerima”

DHEGG..!!!

Saya langsung galau segalau-galaunya. Saya bingung sebingung bingungnya orang bingung. Saya yang tadinya kepikiran untuk tidak melakukan khitbah dalam waktu dekat ini, merasa kaget bukan kepalang dengan pernyataan tersebut. Okelah kalau hanya ketemu orang tua, tapi kalau sudah mengajak orang tua dan khitbah, perlu banyak sekali persiapan.

Pesan tersebut tidak saya jawab.

Saya segera menelepon Bapak di rumah. Beliau tidak banyak berkomentar,
“Kalau kamu sendiri gimana maunya?””Ya, opal sih pengennya kayak gitu juga, tapi dengan keadaan opal kayak gini, gak mungkin Pak. Opal gak ada untuk tanda pengikat, apalagi seserahannya.”

Bapak terdiam.

“Coba kamu telepon ka ipat”
“Gak mau Pak”
“Hubungi ka ipat dulu. Kamu cerita semuanya”, suara Bapak sedikit tinggi, tanda bahwa saya tidak bisa mengelak lagi.
“Uhun Pak”
Saya tutup telepon. Mengecek kontak. Menekan dial ketika nama Ka Ipat muncul di layar.
Ah… Bakal jadi sore yang panjang.

***
“Yang terpenting orang tua antum datang, kalau memang bisa, ada tanda pengikatnya, kalau seserahan semampunya antum”
Pesan yang masuk di sore itu sedikit banyak menentramkan.
“Iya ukh, tapi ana masih agak kesulitan meyakinkan kakak saya yang pertama”
Saya lalu menjelaskan hasil telepon yang memanaskan kuping tadi sore. Saya tidak merasa heran dengan tanggapan kakak pertama saya. Karena memang orangnya seperti itu, keras tapi perhatian.

Satu jam lebih mengobrol, atau lebih jelasnya mendengarkan ka ipat berkomentar tentang semua hal, dan memang semuanya benar. Sedikit banyak saya merasa malu dan kesal pada diri saya sendiri. Bahwa saya memang belum siap secara finansial untuk mampu melakukan resepsi dan menafkahi setelah pernikahan. Terlebih beliau juga menyinggung tempat tinggal saya yang masih menumpang di rumah taufik.

Ah… Malu.
Tapi, saya juga berkali-kali mempertahankan keteguhan saya. Meyakinkan beliau bahwa saya siap menanggung resiko, dan syukur Alhamdulillah beliau menyampaikan persetujuannya, walau dengan sedikit keras menegaskan kalau beliau tidak bisa membantu penuh.
Ah.. Setidaknya beliau sudah setuju. Tinggal nanti saat di rumah, kumpul keluarga saya harus memastikan persetujuan seluruh anggota keluarga.

***
Setelah berkali-kali mengubah jadwal, akhirnya 25 Juli dijadikan sebagai hari kedua keluarga bertemu, juga hari pelaksanaan khitbah. Says tidak bisa banyak berkomentar, hanya saja berat rasanya untuk menyediakan dana, dengan alasan yang saya utarakan sebelumnya.
Ah… Saya butuh kawan untuk berbagi.

***
Malam itu saya duduk berdua di teras rumah Abi. Berdua saja. Abi banyak mendengarkan apa saja keluhan dan kekhawatiran saya, walau memang tidak secara gamblang, Abi bisa menangkap apa maksud kedatangan saya malam itu.
“Kalau memang harus meminjam, kamu harus siap dengan resiko.”
“In syaa Allah Bi, itu memang rencana terburuk. Saya berharap kakak-kakak bisa Bantu. Tapi saya tidak enak kalau harus membebani mereka.”
Abi terdiam. Saya tidak berani membawa obrolan ini lebih jauh. Waktu sudah lumayan larut, saya akhirnya pamit untuk kembali bermalam di wasi’i.

***
Sehari Sebelum Idul Fitri 1436 H

Saya tertunduk di antara kakak-kakak dan orang tua. Layaknya seorang pesakitan yang sedang diinterogasi. Saya terdiam saat masing-masing kakak mengeluarkan pendapatnya tentang proses yang sedang saya jalani.
“Jadi gimana ceritanya Fal?”
Saya menghelas nafas, kembali menjelaskan semuanya dari awal. Dari mulai mengirimkan proposal ke Abi, sampai terakhir ta’aruf. Sedetail mungkin yang saya bisa. Bahkan tentang keluarga Rita sendiri. Keluarga kembali berdebat tentang bagaimana seharusnya. Saya kembali menghela nafas. Ah.. Andai saja saya sudah mapan finansial, tidak akan seperti ini. Ah…
“Ya sudah, emang salah opal, salah opal semuanya. Dari awal opal memutuskan ikut SM-3T, sampai sekarang, jadi sekarang opal gak punya apa-apa”
Saya sedikit keras mengeluarkan pendapat. Bukannya apa, saya sudah kesal dengan segala perdebatan ini. Sudah tidak merasa nyaman dengan kondisi ini. Kalau memang keluarga tidak bisa membantu, ya sudah, yang terpenting sekarang adalah dukungan dan doa mereka.
“Bukannya gitu, Pal. Kamu terlalu mendadak bilangnya”
“Lah, opal tidak mendadak, opal sudah komunikasi ke Bapak semenjak awal tahun ini”
Saya melirik Bapak. Beliau hanya terdiam.

Ah… Bapak belum cerita ke kakak-kakak.
“Ya sudah, emang salah Bapak.”
Nah.. Kenapa beliau menyalahkan diri sendiri.
Ah…
Saya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tertunduk dalam-dalam menahan tangis.
“Ya sudah, nanti Bapak dan Mama setelah lebaran berangkat dengan kami saja. Tapi kami tidak bisa mengantar sampai ke lokasi, kami antarkan ke Bandarlampung saja.”
Suara Ka Ipat membuyarkan keheningan malam itu. Aku mendongak ke arah beliau.
“Ya gitu aja. Nanti biar Bapak, Mama, dan Opal yang ke sana.” Bapak setuju dengan usulan Ka Ipat.
Saya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi, saya kembali ke kamar, menahan sakit di dada.

Ya Rabbi limaa anzalta ilayya min khorin fakiir.
Ya Rabbi… Bukan hamba tidak yakin akan setiap janji-Mu, tapi kapankah pertolongan-Mu akan sampai?

 

25 Juli 2016

“Jadi gimana Bu Sevni, sudah oke?” Saya menyerahkan teks susunan acara pembukaan Orientasi Siswa. Untuk pertama kalinya saya menjadi bagian acara di kepanitian sekolah.
“Oke Pak Naufal. Pak Naufal buru-buru?” Bu sevni membaca gestur saya yang sedari tadi menatap jam dinding. “Mau khitbah juga?” Bu sevni menebak asal.
Saya tersenyum, kemudian menunduk. ” Iya Bu.”
“Serius Pak? Kok bisa bareng sama Pak Taufik? Kalian ini bener-bener kompak banget, Khitbah aja tanggalnya sama, jangan-jangan di Lampung Barat juga?”
“Bukan Bu, saya di Lampung Utara. ”
“Oh gitu, kenapa gak izin dari pagi aja loh, Pak. Kayak Pak Taufik”
“Kasian Bu Sevni nanti nda ada yang bantu persiapan Oriesis. Lagian saya dekat juga kok”
“Wih Bapak ini. Ya sudah Pak, Bapak pulang duluan saja. Biar saya bereskan semua persiapannya. ”
“Eh, Bener Bu?”
“Iya sudah pak. Biar Bapak bisa siap-siap”
Segera saya rapikan buku dan pena ke dalam ransel, tersenyum dengan rasa terima kasih yang sangat besar kepada Bu Sevni.
“Makasih banyak bu.”
Good Luck Pak Naufal.” Bu Sevni mengepalkan tangannya ke udara
Thanks Bu Sev, that’s very nice of you” . Saya bergegas meninggalkan ruangan menuju parkiran.

***
Ribuan malam menatap bintang dan harapan
dan ribuan siang menahan terik penantian
Mungkin Tuhan ingin kita sama–sama tuk mencari
saling merindukan dalam doa–doa mendekatkan jarak kita

“Ganti sih uq lagunya” Saya mulai jengah dengan lagu sama yang diputar terus menerus dalam mobil.
“Gak apa-apa sih Bang, cocok sama kondisi lu sekarang”
“Ah lu mah”
Saya melirik ke bangku belakang. Bapak dan Mama terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing, menatap berhektar-hektar kebun singkong yang sedang kami lewati.
“Jauh amat Pal” Bapak melihat saya dengan muka lelah. Saya bisa merasakan apa yang beliau rasakan sekarang. Kemarin siang beliau baru sampai ke Bandarlampung, sekarang harus menempuh perjalanan yang panjang lagi. Saya tahu Bapak dan Mama merasakan lelah yang luar biasa.
“Uhun Pak” Saya tersenyum, coba menenangkan.
“Iya Pak, masih jauh. Kita belum lewati Kotabumi.” Wira ikut berkomentar, dia memang sengaja saya ajak untuk menemani karena rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat yang sedang kita tuju. Saya sama sekali buta daerah Lampung Utara.

***
“Antum sudah sampai mana?” Suara yang saya ingat sekali dengan jelas saat ta’aruf dulu. Ini pertama kalinya Rita menelpon saya.
“Gak tahu ini. Kami sudah lewat tugu. Sekarang ada di depan rumah makan” Saya menengok keluar jendela”
“Oh bentar lagi, lurus aja terus. Rumah yang ada pohon mangga dan warungnya”
“Oke. ”
I can’t describe what the beats in my heart mean.
Ketika Xenia putih Faruq parkirkan tepat di depan rumah dengan cat berwarna krem.
I can’t describe why my feet feel like floating
Ketika kaki saya langkahkan keluar dari mobil
I can’t describe what I feel.
Khawatir, takut, bahagia, sekaligus syukur. Semuanya bercampur menjadi satu. Saya tidak menyangka sudah sampai pada tahap ini. Now, it’s really serious, no turning back, no excuse. Allah has written this for me long time ago, even before I born to this world.

Faidza ‘adzamta fatawakkal ‘alaLlah
Hati ini telah beradzam, tentang sebuah proses.
Maka biarkan dia juga berawakkal, pada sebuah keyakinan.
Bahwa janji Allah benar adanya.
dan Dia tidak pernah ingkar, tidak pernah aniaya.
Rabbi Inni limaa anzalta ilayya min khoirin fakiir.
Apapun hasil pada hari ini, tentu saja yang terbaik dari-Mu, Ya Rabb.

***

12573739_10206985665592107_8639793282612016450_n

Finally, 2 become one

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s