Masalah yang Sama, Kondisi yang Berbeda

Dear Rita Puspitasari,
You’ve made my imperfections seem perfect
and all my shortcomings appear complete.
I don’t know how I’ll ever be able to thank you
for everything you’ve done.
But I promise, I’ll never stop trying.
I love you.

Your husband,
Ahmad Naufal Umam

Beberapa bulan yang lalu, ketika dihadapkan dengan berbagai masalah, saya akan cenderung diam, enggan untuk menceritakan permasalahan itu kepada orang, bahkan cenderung menutup diri. Mencari solusinya sendiri, walau beberapa orang berpendapat, saya bukanlah tipe orang yang pintar menyembunyikan apa yang sedang alami.

“you are like an open book, fal. Everyone can notices what you feel and what you deal with” Rangga pernah sekali berceloteh.

Hal ini tidak bisa hilang sama sekali, bahkan ketika sudah menikah. Ketika dihadapkan kepada permasalahan, lagi-lagi saya cenderung diam. Menutup diri. Bersembunyi di dalam gua.


Tapi bedanya sekarang, saya sudah memiliki seseorang yang memang sudah seharusnya tempat saya berbagi. Namun, untuk bisa terbuka dan share anything itu belum bisa sama sekali. Saya cenderung belum berani untuk membagi beban saya. Khawatir istri saya ikut terbebani.

Ya, pada akhirnya itu pemikiran egois saya. Bertolak belakang sekali pada kenyataannya.

Singkat cerita, saya dihadapkan pada permasalahan yang menurut saya klasik, dan sedari dulu saya biasanya akan ‘galau’ dengan permasalahan semacam ini, menentukan pilihan.

Global Madani, tempat saya mengajar saat ini, membuka peluang untuk promosi bagi guru dan pegawainya. Saya yang masih berstatus honorer terus ditanya apakah akan lanjut berkarir di sini atau menghabiskan masa kontrak.

Sementara itu, peluang untuk menjadi PNS melalui GGD sudah terdengar desas-desusnya, bahkan Pandeglang menjadi salah satu kabupaten sasaran.

Maka galau-lah saya. Pada awalnya saya hanya bercerita sekilas kepada istri. Tentang kedua pilihan tersebut. Kita tidak mendiskusikan ini secara serius. Saya juga tidak mau ambil pusing, nanti saja, seperti biasa, saya memasukkan permasalahan ini ke dalam folder ‘not too urgent’ di dalam otak saya. Maka terpendinglah urusan ini.

Makin hari, ternyata pilihan saya terus dipertanyakan oleh Kepsek dan Waka SMA. Saya makin galau. Dan luar biasanya, dengan segala kegalauan ini, laptop saya rusak, layar hape saya pecah terinjak.

Ya Rabb, kasih urusan kok berbarengan.

Saya sempat jengkel dan senewen, dan hal ini terbaca oleh istri saya. Dia tidak banyak komentar. Sepertinya memang sudah paham bahwa saya juga sudah tahu how to deal with the problems.

Seperti biasa, saya pribadi memang tahu teori, tapi praktiknya jarang menjalani. Yang ada jadi beban pikiran.

Sampai suatu malam. Kami berdua tahajud berjama’ah. Dan entah kenapa saya pengen baca Surat Al-Baqarah, dari awal. Hingga sampai ke ayat 45-46.

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Yaitu (mereka) yang yakin bahwa mereka akan menemui Rabb-nya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.

Selepas shalat, saya senyum. Dan membacakan terjemah ayat tersebut. Istri saya tersenyum. “Nah, itu sudah tahu jawabannya”. Saya pun tersenyum malu.

Pagi harinya, istri saya mengajak saya jalan pagi berdua. Berkeliling lingkungan rumah. Sambil berjalan, sayapun menceritakan apa saja yang saya rasakan beberapa hari ini, terutama tentang kegalauan saya dalam memilih.

Luar biasanya, istri mengajak saya untuk menganalisis tiap pilihan dengan analisis SWOT. Ilmu yang saya dapat waktu aktif di organisasi, tapi jarang, bahkan tidak pernah saya terapkan di dalam kehidupan sehari-hari.

Maka sepanjang perjalanan itu saya menguraikan analisis masing-masing pilahan, istri mendengarkan.

“Buat apa A, mapan finansial kalau misalnya hati kitanya tidak tentram dan merasa terpaksa”
“Jadi Ayang tidak apa-apa dengan kondisi kita yang seperti ini?”
“Gak apa-apa A. Yang penting sama kamu”
Saya cuma tersenyum malu. AlhamduliLlah.

***
1 Maret 2016
Promosi guru dan pegawai Global Madani. Saya kebagian interview pukul 14.30. Saat di ruang tunggu, saya sempatkan mengirim BBM kepada istri saya.
“semoga Allah lancarkan”
Saya tersenyum.. Amiiin..

Ah…. Beda sekali sekarang. Permasalahan yang sama, kondisi berbeda. Memang permasalahan bila dipikirkan oleh satu kepala akan terasa lebih ringan. Dan kemungkinan solusipun lebih banyak. Selain itu, kita juga jadi memiliki penguatan.

Ah….. Memang, menikah itu nikmatnya. Dan saya yakin. Apapun permasalahan yang akan dihadapi di masa yang akan datang, tidak akan membebani. Karena sekarang saya berada di kondisi yang berbeda, saya memiliki seseorang yang melengkapi satu sama lain.

Ah…… Jadi muncul semangat yang membara dan keinginan untuk berusaha menjadi suami yang bisa diandalkan bagi keluarga kecil kami.

In syaa Allah.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s