Resonansi

bidadari itu ternyata tidak  bersayap.
Dan senyumnya manis sekali.

Jemari menari di lembar putih,
Setiap harinya.
Mengurai tiap hal yang kita lewati dalam kata, dalam kalimat, dalam frase.
Terkadang aku tertegun,
mengambil jeda,
memilih diksi yang sesuai,
dengan apa yang aku rasa, sedikit berasumsi tentang apa yang kamu rasa,
Tentang yang kita rasa.

Mencocokan dua pribadi yang pada dasarnya berbeda, tak pernah mudah.
Dan memang tidak akan pernah cocok.
Maka kita belajar.
Menjamu panas dan dingin,
Meramu asin dan tawar,
Meracik senyap dan ramai,
Menjadi sejuk, payau, harmoni.
Kemudian beresonansi.

Semuanya merupakan proses,
Proses yang kuyakini mendewasakan jiwa kita.
Juga mengasah hati kita.
Bahwa ada permintaan tolong di balik kalimat berita,
Bahwa ada keluhan di balik cerita,
Bahwa ada kekecewaan di balik senyum,
Yang semuanya itu belum pernah kita pelajari sebelumnya.
Maka berkali-kali kita kembali menyamakan frekuensi,
Kemudian beresonansi.

Semuanya memang bagian dari proses.
Dari awal kita tidak pernah berharap kesempurnaan dari diri kita masing-masing.
Layaknya menatap cermin.
Kekurangan sebenarnya ada di kita, maka kitapun berusaha memperbaiki diri.
Menambal yang bolong,
Menambah yang kurang,
Mengobati yang cacat.
Amal terbaik selalu diusahakan hadir.
Sembari menyamakan frekuensi,
Lalu beresonansi.

Semua ini adalah proses.
Bukan akhir, tetapi awal.
Maka kitapun belajar, belajar, dan terus belajar, menjadi pasangan hidup yang melengkapi satu sama lain.
Yang menggenapkan satu sama lain.
Karena cita-cita tertinggi yang menghujam hati, pulang bersama ke surga-Nya.

Jemari terus menari tiap harinya,
Tentang senyummu yang mengingatkanku akan manisnya surga,
Tentang marahmu yang mengingatkanku akan perihnya neraka.
Tetaplah seperti itu, senyum dan marah padaku.

Jemari juga terus menari di atas kertas putih, setiap harinya.
Tentang pangeran dan puteri, yang menikah.
Tidak hidup bahagia selamanya.
Hanya saat musibah datang mereka bersabar.
Saat nikmat bertamu mereka bersyukur.

Jemari menari, juga tentang kenyataan bahwa, bidadari itu ternyata tidak  bersayap.
Dan senyumnya manis sekali.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s