Untuk Sosok yang Kita Nanti

The guys who fear becoming fathers don’t understand that fathering is not something perfect men do, but something that perfects the man. The end product of child raising is not the child but the parent. —Frank Pittman

Aku tidak tahu harus memulai darimana, beberapa minggu ini rasanya dunia terasa terbalik. Ragu bercampur senang, takut bercampur bahagia. Tapi semuanya aku yakini memang sudah Allah takdirkan untuk kita.

Beberapa minggu lalu, rasanya bepergian berdua menggunakan sepeda motor sesuatu hal yang menyenangkan. Makan di ‘luar’ menjadi hal yang memang aku tunggu tiap pekannya. Menghabiskan waktu hanya kita berdua saja.

Aku belajar bagaimana menjadi suami yang baik untukmu, dan kurasakan kamu juga berusaha dengan caramu untuk menjadi istri yang baik untukku. Kita sangat menikmati tiap proses perkenalan yang sejati, tentang siapa sebenarnya aku, tentang siapa sebenarnya kamu, tentang siapa sebenarnya kita.

Allah kemudian memberikan sesuatu kejutan, yang memang kita tunggu-tunggu sebenarnya, sosok yang mulai berkembang dalam perutmu. Dan hari-hari kitapun mulai berubah.

Maaf, bila pada awalnya aku banyak melakukan kesalahan, dan aku usahakan tidak akan terulang.

Ya, takkan terulang. Seperti yang aku sampaikan, aku bingung tentang bagaimana harusnya aku bersikap. Aku bingung dengan perubahan yang terjadi pada dirimu. Aku bingung dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini. Yang pada akhirnya, aku ketahui bahwa semua ini adalah sebuah fase yang memang harus kita lalui dalam kehidupan rumah tangga kita.

Kamu yang memang cenderung menyimpan masalah sendiri, yang sudah mulai aku pahami perlahan, berubah menjadi seseorang yang lebih perasa akhir-akhir ini. Bodohnya, sikap tidak peka yang ada pada diriku sama sekali tidak berubah.

Kamu yang selalu tersenyum, berubah menjadi seseorang yang pelit senyum, cenderung terdiam, dan tak banyak bicara saat kuajak mengobrol.

Kamu yang selalu bersemangat bila kutanya, “makan apa kita malam ini?”, berubah menjadi seseorang yang hanya menjawab, “tidak tahu”, “tidak nafsu makan”, yang membuatku kebingungan, bahkan sempat beberapa kali menahan marah.

Kamu… Ah, aku merasa tidak mengenal kamu yang saat ini.

Hingga pada akhirnya, aku sadar, inilah yang dulu disampaikan oleh Ustadz Cahyadi, bahwa kita tidak akan pernah mengenal pasangan kita seutuhnya, karena kita berproses, begitu juga pasangan kita. Maka kita tidak boleh berhenti untuk mengenal pasangan kita.

Ya, aku juga harus mengenal kamu yang seperti ini. Dan jujur saja, aku sama sekali tidak tahu harus bagaimana menghadapi keadaan yang kita alami, hingga harus meminta saran kepada orang lain. Bahkan menelepon Bapak di rumah. Karena memang tidak tahu harus bagaimana.

Sedikit demi sedikit, aku belajar. Sikap perasa yang ada pada dirimu sekarang adalah pengaruh perubahan hormon. Senyum yang hilang itu karena harus melawan rasa mual dan lemas yang kamu rasakan. Nafsu makan yang tidak stabil karena kamu merasakan sesuatu di dalam perutmu.

I know it now.

Aku berusaha belajar, sungguh berusaha. Untuk menjadi orang yang bisa kamu andalkan di saat kamu mengalami hal-hal seperti ini. Berusaha menjadi orang yang peka bagi setiap apa yang kamu rasakan. Berusaha memahami tiap perubahan yang kamu alami. Berusaha ikut merasakan sakit yang kamu lalui.

Aku berusaha, sungguh berusaha. Memenuhi semua keinginan-keinginanmu, yang terkadang membuatku menahan senyum, dengan sebaik mungkin. Memberikanmu waktu yang kupunya semaksimal mungkin (walau untuk yang satu ini aku belum bisa berusaha dengan baik).

Aku berusaha, sungguh berusaha. Mempelajari apa yang harus aku pelajari. Meningkatkan apa yang harus aku tingkatkan. Memperbaiki apa yang harus aku perbaiki.

Sosok di dalam perutmu itu, menanti kita menjadi orang tua yang sholeh/sholehah. Sosok itu menanti kita menjadi tauladan yang baik, maka kita (terutama aku) mesti banyak memperbaiki diri. Sosok itu menanti, layaknya kita menanti hadirnya di dunia.

Ah.. Aku takut dan gelisah, bila teringat bahwa di akhir tahun ini akan lahir sosok yang menjadikan kita memiliki amanah yang sangat berat untuk sepanjang hidup kita, menjadikan kita sebagai orang tua.

Maka, wahai Jauzatii, aku meminta kesediaanmu, untuk bersabar. Bersabar dengan segala rasa sakit dan tidak enak pada tubuhmu. Bersabar menghadapi diriku yang masih perlu banyak belajar. Bersabar untuk kita. Bersabar untuk sosok yang kita nanti.

Untukmu doa yang terindah, wahai Jauzatii, Semoga Allah mengganti apa yang kamu rasakan saat ini dengan pahala yang berlimpah.

Amiin Ya Rabbal ‘alamiin.

— Bandarlampung, 13 April 2016, di remangnya lampu tidur wajahmu terlelap.

IMG_20160326_004614

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s