Anak Abah 2.0?

Tahun akademik 2015/2016 telah berakhir. Jujur saja saya menikmati aktivitas saya belakangan ini. Sebagai guru fisika, sebagai wali kelas, sebagai tutor, dan tentu saja sebagai a father-to-be. Walaupun mulai getar-getir, khawatir malah merasa nyaman dan lupa akan tujuan awal kenapa saya menunda untuk melanjutkan studi. Afterall, I’m enjoying my life currently. 

Kegiatan yang penuh di sekolah memaksa saya mulai melonggarkan aktivitas riset dengan Pak Abe. Lumayan membuat rasa tidak enak. Harapannya, tim mengerti dengan keadaan saya yang sekarang, dan saya sendiri sadar. Kalau dengan 3 job sekaligus dalam sehari, badan rasanya sudah tidak karuan ketika pulang ke rumah. Tapi kalau soal silaturrahim, tetap jalan. Saya masih sering mampir ke dekanat untuk menyapa Abi, Mr.B, Bu Diah, dan tim yang lain. Walau memang tidak serajin dulu, setidaknya masih bisa mengobrol menjelang sore.

Balik lagi ke cerita di sekolah, para pimpinan sedang sibuk dengan penempatan tiap guru, pembagian jam mengajar, dan rolling guru antar unit. Bagian terakhir saya tidak mau ambil pusing, karena saya sudah nyaman dengan kondisi saya di unit di SMA. Akan susah sekali kalau misalnya harus pindah unit. Karena pasti harus beradaptasi dengan tim yang baru, menyiapkan perangkat baru, dan tentu saja belajar menghadapi kondisi siswa yang berbeda.

Lagipula, saya sudah ditunjuk untuk menjadi Homeroom Teacher untuk kelas XII di tahun ajaran berikutnya. Sempat shock karena saya berpikir untuk bisa jadi HRT kelas atas, haruslah guru yang sudah lama di sekolah. Saya baru satu tahun di sini, kok bisa dapat amanah begini. Belum lagi beban moril yang harus ditanggung. Pada akhirnya, In sya Allah, Allah kasih kesempatan pasti ada maksud dan tujuan. Hehe…

Maka dimulailah persiapan menjadi HRT kelas XII.

Bu Sevni, our counselor, mengajak saya untuk memilih siswa-siswa mana yang harus dimasukkan dalam satu kelas, mana yang harus dipisah, dan mana yang harus tetap bersama dengan saya nanti di kelas XII. Saya dengan Miss Fu, HRT Kelas XI MIPA 1, sudah merancang kombinasi kelas yang oke untuk mereka. Harapannya, mereka mengalami peningkatan semangat dan prestasi belajar. Miss Fu diprediksi akan menjadi HRT di kelas XII juga.

abah

who’s next?

Itu harapan kami, hingga akhirnya keluar SK dari pimpinan. Terjadi perubahan besar dari prediksi awal kami. Miss Fu tetap di grade XI bersama Abi Hasan dan 2 guru baru. HRT yang sudah lama (Umi Nita, Miss Yusnia, dan Bu Alfi) sekarang menjaga di grade X.  Tapi saya tetap di grade XII bersama Miss Septi dan Miss Endang.

Miss Ira, our vice principal, mengundang seluruh HRT kelas XII untuk mengadakan rapat penyusunan program bagi siswa kelas XII. Saya sampaikan ide yang memang sudah tertanam semenjak saya mulai mengajar tahun lalu. Semua HRT dan Miss Ira setuju.

Ketika sedang berunding, Mr. Rofi, our principal, memanggil saya ke ruangannya. Saya melihat Abi Hasan sudah duduk dengan serius di sana. Saya mulai merasa tidak enak. Mr. Rofi langsung menceritakan kronologisnya.Tentang  posisi yang kosong di unit SMP, dan kandidatnya adalah saya dan Abi Hasan. Hati saya mencelos.

“Jadi gimana, Bah? Antum mau gak?” Saya menelan ludah teringat apa yang saya obrolkan dengan istri beberapa waktu lalu. Saya pun menarik nafas, lalu menjawab.

“Afwan, Sir. Ana sertifikat pendidiknya Fisika SMA. Khawatir bermasalah nanti prihal sertifikasinya.”

“AlhamduliLLah. Ana juga gak mau melepas antum, cuma ana pengen tahu apa jawaban antum. Kalau gini ana enak nanti menyampaikan ke yayasannya.” Mr. Rofi tersenyum. Alhamdulillah, saya menjawab sesuai harapan beliau. Saya terpikir apa pemikiran beliau kalau saya menjawab sebaliknya. Abi Hasan pun tersenyum. Beliau ternyata sudah lebih dulu menolak tawaran tersebut.

Ah.. Sebenarnya, alasan yang paling utama dari penolakan saya adalah saya masih ingin menjadi HRT. Saya masih ingin banyak berinteraksi dengan siswa. Karena bagi saya, ketika menjadi HRT betul terasa menjadi gurunya.

Terasa menjadi guru, terasa menjadi orang tua, terasa menjadi teman bagi siswa, semuanya satu paket. Dan saya yakin, dengan posisi yang ditawarkan di unit SMP, saya tidak akan merasakan hal tersebut. Abi Hasanpun berpendapat demikian. Saya juga tidak mau direpotkan dengan keadaan yang mengharuskan saya beradaptasi lagi dari awal.

Salah memang menolak tawaran amanah, tapi daripada tersiksa karena melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion kita, malah jadi gak benar nanti kerjaanya.

Terlepas dari obrolan dengan Mr.Rofi, saya sangat bersemangat menantikan tahun ajaran baru. Menantikan kembali menjadi HRT bagi siswa-siswa yang unik, siswa-siswa yang banyak memberikan pelajaran bagi saya, siswa-siswa yang membuat saya menyenangi profesi saya sebagai seorang guru.

Saya tahu, saya akan beradaptasi lagi dengan sebagaian siswa yang sebelumnya tidak termasuk ke dalam XI MIPA 2. Tapi tetap saja, saya menantikan untuk membersamai Anak-anak Abah di tahun kedua saya di Global Madani, Anak Abah 2.0.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s