Tentang Ican dan Ayun, Duo Unik di Kelas

Setelah beberapa waktu lalu saya mem-posting cerita tentang Evi, saya mendapat complaint dari beberapa siswa di kelas. Mereka juga ingin dibuatkan postingan yang menceritakan diri mereka masing-masing. Dan itu membuat saya pusing karena itu artinya saya harus membuat 21 cerita berbeda berdasarkan pribadi mereka.

Sayapun bingung harus memulai dari siapa. Hingga tadi sore saya melihat sebuah foto dari dua siswa paling unik di kelas XI MIPA 2, dua siswa yang biasa saya teriaki tiap hari, yang biasa saya marahi tiap hari. 2 siswa yang mengalami perubahan drastis dari awal semester.

2 siswa itu, Ayun dan Ican.

IMG_5534

Ayun dan Ican Saat Pembuatan Proyek Drama Bahasa Inggris

Ketika diminta menjadi HRT kelas XI MIPA 2, para guru mewanti-wanti saya tentang seorang siswa yang mempunyai kepribadian unik sewaktu kelas X, Muhammad Ihsan. Saya sempat tidak percaya ketika mendengar cerita mereka tentang Ican. Mana ada siswa seperti itu, sampai saya menyaksikan sendiri tingkah laku Ican.

Bila berdasarkan preferensi belajar, siswa digolongkan kepada beberapa kategori, salah satunya adalah siswa yang nyaman belajar secara kinestetik, selalu bergerak, tidak diam di satu tempat. Siswa jenis ini tidak akan mudah kita minta untuk diam dan mendengarkan pembelajaran. Malah kalau kita paksa, mereka akan cenderung tidak tertarik dan tidak mau tahu dengan apa yang kita ajarkan.

Ican salah satunya.

Pada awalnya, saya habis dibuat senewen oleh tingkah laku Ican di kelas. Ada saja yang dia lakukan saat pembelajaran berlangsung. Entah itu menggoda siswa perempuan, memainkan gorden, memutar buku, lari-lari dari satu tempat duduk ke tempat duduk yang lain, mengambil buku catatan punya temannya, bahkan pernah sekali ketika kami latihan upacara, dia mengganggu para pengibar bendera. Hal yang membuat saya marah besar pada waktu itu.

Selain itu, Ican juga terkenal dengan catatan gado-gadonya. Sering sekali mencatat semua mata pelajaran di dalam satu buku. Hal ini sudah menjadi biang kemarahan guru-guru mapel. Dan biasanya, saya sebagai HRT yang kena ‘sindir’ duluan, diminta untuk menegur dan menasehati Ican. Belum lagi keterlambatannya di sekolah. Belum lagi soal knalpot motornya yang mengganggu.

Pernah juga dia beradu argumen dengan saya. Lantaran dia melanggar perjanjian yang telah kami buat, yakni menyimpan seragam olah raga sembarangan. Saya yang waktu itu sudah jenuh mengingatkan dia, dengan jengkel membuang seragamnya ke dalam kotak sampah (hal ini sudah disepakati dari awal, sembarangan = buang kotak sampah).

Tidak jauh berbeda dengan Ican. Ayun juga memiliki karakter yang hampir sama. Hanya saja saya perhatikan Ayun lebih behave terhadap guru. Masih mau mendengarkan apa nasehat dari guru.

Dua siswa ini menyerap tenaga saya di awal semester.

Setelah mendapat nasehat dari sana sini atas kegalauan saya, salah satunya yang mengena dari Mr. Rofi :

“Kita tidak tahu, siswa yang mana yang menarik tangan kita masuk ke dalam surga. Bisa jadi itu Ican, Pak. Bisa jadi itu Ayun. Suatu saat pasti mereka berubah, yang terpenting kita tidak bosan dan lelah menasehati, membimbing, dan mendoakan mereka.”

Saya mencoba merubah strategi untuk menghadapi 2 siswa ini, mendengarkan dan memerhatikan mereka.

Saya mulai mencoba untuk lebih banyak mendengarkan apa saja cerita mereka, apa saja yang sedang mereka senangi, apa saja yang menurut mereka menarik. Saya mengurangi porsi saya untuk menasehati mereka. Saya juga mengurangi porsi saya untuk memerintah mereka.

Lama kelamaan saya jadi paham, bahwa kedua siswa ini memang memiliki keunikan tersendiri. Mereka tidak mau diam kalau sedang belajar karena itu preferensi belajar mereka.

Saya juga mulai memerhatikan mereka, dari mulai bertanya apa saja kegiatan mereka sehari sebelumnya, tidur jam berapa, kapan mudik, bagaimana kabar orang tua di rumah. Cara ini ternyata mampu membangun keakraban saya dengan mereka. Dan ketika sudah akrab, ternyata akan lebih mudah menyampaikan apa yang seharusnya dilakukan, apa yang seharusnya tidak dilakukan.

Sayapun tidak henti mendoakan mereka.

Saat report day semester ganjil, saya berkesempatan untuk bertemu orang tua Ican dan Ayun.

Ican dan Ayun mempunyai ibu dengan karakter yang sama, yang membuat saya paham kenapa mereka memiliki sikap seperti itu. Dan sayapun semakin mengerti bagaimana menghadapi mereka berdua.

Di awal semester genap, mulai ada perubahan dari sikap mereka. Ican yang tadinya seirng terlambat, selama januari-februari hanya terlambat 1 kali. Ican yang biasanya sulit untuk menyetor hafalan, sudah mulai rajin. Ican yang biasanya mencampur catatannya dalam satu buku, sudah mulai rajin mencatat pada bukunya masing-masing. Ican yang biasanya menggoda siswa, masih juga menggoda. Ya kalau ini susah sekali dirubah. hehehe..

Overall, saya merasakan sekali perubahan yang terjadi pada diri Ican. Begitu juga guru-guru yang lain.

Ayunpun demikian. Ayun yang biasanya melamun, tidak fokus, banyak bermain di kelas, sekarang sudah mulai memiliki semangat belajar yang baik. Tidak segan bertanya pada teman-temannya tentang materi yang dia tidak kuasai. Tidak datang terlambat lagi. Shalat Dhuhanya semakin rajin.

Perubahan kedua siswa ini membuat saya senang. Membuat saya semakin tersadar, bahwa menjadi guru memang menyenangkan.

Pada saat report day semester genap kemarin, saya berjumpa lagi dengan Ibunya Ayun.

“Bi, kalau misalnya di kelas XII nanti tidak sama Abi lagi, tolong dibimbing dan dinasehati terus Ayun. Kalau saya Abi lagi, bersyukur sekali saya Bi.”

Saya tersenyum menahan haru, In sya Allah, Bu, In Sya Allah. 

Ah.. Ini tentang Ayun dan Ican, duo terunik di kelas XI MIPA 2. Duo yang menyadarkan saya bahwa esesnsinya siswa merupakan individu yang memiliki keunikan tersendiri, yang tidak bisa disamaratakan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s