Tentang Sekolah Global Madani I : Intro

Ada kekhawatiran tersendiri saat saya memikirkan apa yang hendak saya lakukan setelah lulus dari Pendidikan Profesi Guru. Pengalaman saya mengajar satu tahun di Kabupaten Kupang dan satu semester di Kota Bandung membuat saya dapat menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menunaikan amanah sebagai seorang guru. Banyak guru yang saya temui mampu berdedikasi dengan amanah yang diberikan padanya. Banyak sekali guru di tempat saya mengajar di Kabupaten Kupang, yang berasal dari Kota Kupang, rela menghabiskan waktunya di Pulau Semau demi menunaikan tugasnya. Menghabiskan waktu berminggu-minggu di pulau terpencil untuk mewujudkan cita-cita mulia, mencerdaskan anak bangsa. Tapi tidak sedikit juga guru yang datang saat ada jam saja. Terkadang mereka izin berminggu-minggu meninggalkan kelas kosong tanpa guru, meninggalkan siswa tanpa pembelajaran.

10

Gedung KPM Sekolah Global Madani

Tak begitu berbeda dengan yang saya temui di Kota Bandung, yang sudah memiliki kualitas guru yang lebih baik. Hanya saja masih sedikit sekali guru-guru yang memiliki dedikasi tinggi.  Mereka hanya dianggap sebagai seorang guru yang melaksanakan tugas. Sehingga saya masih melihat guru acuh tidak acuh saat menghadapi siswa. Walaupun saya menemukan guru yang memberikan perhatian lebih kepada siswa, dia hanya dianggap sebagai guru yang melaksanakan tugasnya, atau yang lebih ironis lagi dianggap sebagai orang yang melakukan kegiatan sia-sia.

Kekhawatiran saya yang pertama adalah bila saya menjadi guru yang biasa saja, cukup melaksanakan tugasnya, dan cukup menunaikan kewajibannya. Tanpa memerhatikan bagaimana attitude siswa. Tanpa memerhatikan bagaimana siswa tidak hanya bertambah baik kemampuan intelektualnya tetapi juga memperhatikan bagaimana perkembangan akhlaknya. Saya tidak mau menjadi guru yang sekedar mengajar.

Rektor UPI pada suatu kesempatan pernah menjelaskan kepada kami bahwa sebuah pekerjaan profesional memiliki dua kriteria, yakni:  1) pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh setiap orang. Sebagai contoh, profesi dokter merupakan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki kualifikasi untuk menjadi dokter; 2) pekerjaan tersebut menuntut para pelakunya memberikan kinerja yang profesional dan pelayanan yang terbaik. Oleh karena itu, guru yang profesional adalah yang mempunyai kapasitas dan kinerja yang mumpuni, serta memberikan pelayanan yang terbaik bagi siswa. Hal ini bisa dilakukan bila seorang guru tidak pernah berhenti untuk belajar.

Maka muncul kekhwatiran saya yang kedua, aktualisasi diri. Saya khawatir bila menemukan lingkungan kerja yang tidak mendukung saya untuk melakukan aktualisasi diri. Saya ingin sekali mendapatkan lingkungan kerja yang tidak hanya menuntut saya melaksanakan tugas. Tetapi juga memberikan saya kesempatan untuk meningkatkan kapasitas yang dibutuhkan untuk menjadi seorang profesional. Tempat kerja yang memberikan kesempatan untuk terus belajar.

Seringkali saya mengungkapkan kekhawatiran saya ini kepada orang lain, dan selalu saja mendapatkan tanggapan yang sama, “semua tergantung pribadinya masing-masing.” Saya tidak bermaksud untuk mengeneralisasi. Tapi inilah kekhawatiran yang saya rasakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s