Sungguh, Menikah Bisa Meningkatkan Kualitas Hidup

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri ( bujangan ) di antara kalian dan orang-orang shaleh diantara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya [ QS. An-Nur (24): 32]

Bukan bermaksud membuat baper para jomblo-ers. Bukan bermaksud loh. Tulisan ini dibuat untuk memberikan pencerahan kepada kawan-kawan saya yang betah dengan kejomblo-annya, atau yang sedang memperbaiki diri dalam rangka menjemput jodoh. Tulisan berdasarkan pengalaman katanya lebih terasa otentik. Hehehe…

RN.jpg

Menikah itu asyik

Sudah dua hari ini saya tidur di ruang depan. Bukan karena marahan dengan istri loh, tapi karena saya yang meminta izin kepada istri untuk menulis. Kasihan blog ini sudah lama tidak di-update. Kalau sudah izin seperti itu, biasanya si cinta mengiyakan sambil menunjukkan muka malesnya.

Lah, kenapa harus izin? Kalau sudah menikah, ada hak istri kita pada setiap hal yang kita miliki, salah satunya waktu. Kita tidak bisa lagi bertindak semena-mena. Istilah “semau gue mau ngapain aja” sudah tidak berlaku setelah menikah. Terkekang dong? Nggak-lah. Ini artinya kita belajar bertanggungjawab dan berkomitmen.

Susah? Betul sekali. Pada awalnya untuk hal seperti ini saya mengalami kesulitan beradaptasi. Karena dari dulu saya tipikal orang yang cuek dengan pendapat orang lain terhadap apa yang saya lakukan dan apa kegiatan saya. Selama saya tidak mengganggu mereka, mengapa mereka harus ikut komentar. Sikap saya yang seperti itu ternyata menyebabkan konflik di awal pernikahan kami. Betul seperti apa yang Ustadz Cahyadi katakan, bahwa dalam pernikahan tidak ada lagi namanya Be Yourself tapi bagaimana kita senantiasa improve ourself demi terjalinnya sakinah mawaddah warahmah. ihiy..

Intinya, banyak sekali yang harus ditingkatkan selama pernikahan. Sejalan dengan itu, terjadi juga peningkatan kualitas hidup pada diri yang saya rasakan. Saya coba rangkum dalam tulisan ini. Dan tentu saja ini berdasarkan pengalaman 6 bulan pernikahan kami.

 

Pola Hidup yang Lebih Teratur

Ini yang paling utama. Setelah menikah pola hidup terasa lebih enjoy. Semuanya teratur. Pagi bangun, subuh berjama’ah, tilawah, jalan pagi, sarapan, mandi, berangkat kerja. Setiap pagi rasanya terasa lebih nyaman. Tidak lagi terburu-buru karena bangun kesiangan. Tidak lagi terburu-buru karena pakaian yang belum disetrika. Tidak lagi terburu-buru karena mencari barang-barang yang hilang.

IMG_20160306_090709

Lari Pagi Sekarang Ada yang Nemenin

Semuanya terasa nyaman. Istri saya tipikal orang yang rapih, berkebalikan dengan saya. Bagi dia, semua harus sudah disiapkan setidaknya sehari sebelumnya.Mulai dari pakaian, apa saja yang harus dibawa, bekal untuk besok, dan lain-lain.

Saya jadi belajar untuk preparing apapun lebih awal. Jadi semuanya tidak rusuh di pagi hari. Saya juga belajar untuk meletakkan benda-benda pada tempatnya. Karena ini biasanya yang menjadi kendala saya tiap harinya, kesiangan karena harus mencari nametag, pena, atau bahkan kaos kaki. Sangat susah untuk hal yang terakhir, karena sifat pelupa saya. Tapi setidaknya setelah menikah ada yang jawab kalau tanya, “Yang, nametag aa dimana ya?” Hehehe…

Selain itu, akan terjadi perubahan orientasi penggunaan waktu setelah menikah. Saya yang terbiasa sengaja pulang di sekolah lebih sore, sekarang berusaha untuk selalu pulang tepat waktu kalau tidak ada pekerjaan atau bimbel. Sehingga sampai di rumah masih dalam keadaan bugar. Jadi bisa spending quality time with my wife. Dan ini tentunya lebih bermanfaat daripada yang lain. Hehehehe

 

Asupan Gizi yang Terjamin

Terjadi perubahan drastis pada pola makan saya setelah menikah. Saya yang tidak terbiasa sarapan, makan siang di kantin, makan malam ke warung tenda atau masak mie rebus kalau sedang malas, sekarang menikmati pagi dengan nyaman dengan secangkir teh dan cemilan yang disediakan oleh istri di pagi hari. Terkadang kita juga jalan pagi sekalian mencari sarapan.

Berangkat kerja sekarang harus membawa banyak bekal. Satu wadah berisi sarapan kalau tidak sempat sarapan di rumah, satu wadah berisi makan siang, dan satu wadah lagi berisi cemilan. Ya, C-E-M-I-L-A-N. Ini yang paling saya, guru-guru, dan siswa saya suka. Istri saya biasa membekali saya dengan cemilan yang berbeda tiap harinya. Terkadang saya membawa puding, buah-buahan, bubur jagung, dan lain-lain. Sehat banget, kan? hehehe.. Dan biasanya saya bagi dengan rekan guru dan siswa di sekolah.

IMG_20160316_204850

Bekal Buatan Bidadari

Malam biasanya saya makan masakan istri, tapi karena beberapa minggu ini si cinta mual kalau mencium bau tumis-tumisan, kami akhirnya beli sayur atau makan di luar. Tidak ada lagi mie rebus atau berhari-hari makan nasi goreng depan Raflessia II seperti dulu.

 

Belajar Jadi Orang yang Peka dan Peduli

Kebanyakan pria sulit sekali memahami arti dari gestur tubuh, maksud dari kalimat, mimik wajah, dan hal-hal lain dalam berkomunikasi. Sayangnya saya termasuk ke dalam jenis ini. Saya berusaha untuk mengartikan banyak hal. Belajar untuk menjadi peka terhadap apa saja. Karena sudah beberapa kali ketidakpekaan saya berakibat pada konflik dengan istri.

Saya belajar Bahwa “hujan ya, celana aa ada di jemuran luar” artinya “tolong angkatin jemuran, lagi hujan.”
Bahwa “a, airnya gak ngalir loh” artinya “tolong nyalain mesin air dong.”
Bahwa “aku selesai acaranya jam 6 a” artinya “jemput aku jam 6 ya.”
Bahwa “aku gak bisa masak, gasnya abis” artinya “tolong belikan gas, aku mau masak.”
Dan masih banyak lagi.

Really needs a lot of effort to understand words beyond words, and I still have to learn, A LOT.

IMG_20160325_155356

Belajar Jadi Peka, Belajar Masak Juga

Hal ini ternyata berakibat pada cara saya berkomunikasi dengan orang lain. Saya jadi belajar untuk lebih memahami arti dari ucapan orang lain. Bukan jadi baper, hanya saja saya menjadi lebih berhati-hati menangkap maksud ucapan orang lain, gestur mereka, mimik wajah mereka, dan berusaha untuk lebih berhati-hati dalam berbicara karena khawatir disalahartikan.

Saya juga belajar untuk lebih peduli, gak mungkin kan kita melihat istri yang bolak-balik jemur pakaian? Pokoknya, menikah menyadarkan saya bahwa hidup itu harus peka dan peduli.

Belajar Menjadi Adil

Selain bertanggung jawan dan berkomitmen, kita juga belajar untuk adil. Adil, ya, adil. Menempatkan segala hal sesuai dengan porsinya dan posisinya. Keluarga, sahabat, pekerjaan, tetangga, semuanya ada porsi dan posisinya masing-masing dalam kehidupan kita. Adil bukan berarti menyamaratakan waktu kita untuk semuanya. Akan tetapi memberikan waktu dan tenaga sesuai porsinya.

IMG_20160507_160028

Berbakti kepada Orang Tua sekarang ada yang mengingatkan

Saya juga belajar adil terhadap keluarga saya dan keluarga istri saya. Menikah berarti menyatukan dua keluarga besar, sehingga kita harus adil dalam memberikan waktu untuk kedua keluarga. Jangan sampai cenderung pada salah satu pihak saja. Dan ini susah sekali dilakukan kalau tidak dibicarakan dan dirundingkan bersama.

Kualitas Ibadah Meningkat

Di bulan Ramadhan ini terasa sekali perbedaannya dengan Ramadhan yang lalu. Setelah menikah pikiran lebih cenderung tenang dan nyaman sehingga bisa lebih fokus melaksanakan target-target harian. Ketika malas juga ada yang meningatkan, bahkan terkadang malu sendiri kalau target harian kalah sama istri.

Menikah juga memberikan kesempatan kepada melaksanakan firman Allah yang tidak bisa kita laksanakan ketika membujang, ini salah satunya :

“Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka itu sedang kalian beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”(Al-Baqarah: 187).

Paham kan maksudnya? hehehe…

Pokoknya segala hal yang tadinya haram, jadi berpahala kalau sudah menikah. Nah, apa gak kepengen?

Sahur sekarang ada yang menemani. Kalau dulu, lebih senang ifthar di luar, cari takjil dari mesjid ke mesjid, atau ajak kawan buka bareng. Sekarang, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menemani istri menyiapkan hidangan berbuka sambil tilawah dan bergombal ria. Hehehe…

Kesimpulannya?

Kesimpulannya, satu kalimat saja : Sungguh, menikah dapat meningkatkan kualitas hidup. Jadi kapan antum nikah? 😛

— Bandarlampung, 16 Ramadhan 1437

Advertisements

2 thoughts on “Sungguh, Menikah Bisa Meningkatkan Kualitas Hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s