Tentang Sekolah Global Madani III : Learn To Be ‘Abah’

Selepas HRT meeting sore itu, saya kembali ke kelas dengan terburu-buru, mengejar waktu salat ashar. Syukurnya saya sempat meminta Pak Ahsan, yang mengajar di jam pelajaran terakhir,  untuk melakukan closing time. Dari kaca pintu Ruang 309, kelas XI MIPA 2, tampak siluet beberapa anak. Langkah makin saya percepat, ketika pintu saya buka dengan serentak tiga siswi menatap saya dan tersenyum. Lutvia, Adel, dan Adit sedang asik mendekor ruang kelas untuk perlombaan 17 Agustus. Setelah sedikit berbincang dengan mereka, saya meminta mereka untuk segera pulang.

Saya juga bergegas pulang, mengecek setiap bagian ruang kelas, memastikan tidak ada sampah. Banyak terjadi perubahan di dalam kelas. Salah satunya papan karya di depan meja saya. Papan yang dulu hanya hitam polos, sekarang penuh dengan hiasan kertas origami yang sudah dibentuk menjadi kupu-kupu, dibingkai dengan pita berwarna merah putih, dan tepat di tengahnya potongan kertas warna-warni di rangkai sedemikian rupa. Mata saya tertuju pada tulisan yang terdapat pada kertas-kertas tersebut, tertulis “Abah Noval” di satu kertas, dan nama-nama penghuni kelas di kertas lainnya. Saya tertegun.

Saya mengingat kembali hari pertama saya menjadi guru di SMA Global Madani. Kami para guru dan staf yang terekrut di unit SMA dikumpulkan di Principal Office untuk mendapatkan pengarahan dan pembagian tugas mengajar serta tugas tambahan. Ketika nama saya disebutkan sebagai salah satu HRT untuk siswa kelas XI, hati saya mencelos.

Di satu pihak, saya tahu amanah ini akan memberikan banyak pengalaman dan banyak ilmu. Serta pastinya akan memberikan nuansa baru bagi saya sebagai seorang guru. Terlebih lagi dengan sistem HRT di sekolah ini yang berbeda dengan HRT di sekolah lain, terutama di sekolah negeri. Di pihak yang lain, karena perbedaan inilah yang akan banyak menuntut saya untuk banyak menghabiskan energi dan waktu bagi kelas binaan saya.

IMG_3185

Anak Abah 1.0 : Elbiruny

 

Abi Tri, mengulang pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali setelah menjelaskan apa saja tugas HRT, “Masih mau pak menjadi HRT?” Saya menatap beliau lekat-lekat,“In sya Allah siap Bi”

Bismillah.. Waktu itu saya yakin Allah punya rencana yang luar biasa buat saya.

Selepas itu, setiap pulang sekolah badan terasa capek sekali. Ternyata menjadi HRT memang menghabiskan energi lebih banyak daripada saya mengajar Fisika. Begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Mengecek shalat Dhuha, melakukan circle time, membimbing mereka muroja’ah, menasehati mereka bila melakukan pelanggaran, menggiring mereka untuk shalat dzuhur dan ashar, melakukan closing time, belum lagi kalau mereka mulai bertingkah aneh, yang terkadang membuat saya kehabisan suara ketika harus mengingatkan mereka secara berulang. HRT juga harus memasukkan setiap pelanggaran ke dalam daftar inkonsistensi. Hal ini terkadang membuat  bimbang, saya tidak tega karena harus mengurangi poin ExcelAppreciation mereka, tapi saja juga ingin membuat mereka memahami bahwa semua pelanggaran yang mereka lakukan akan merugikan bagi diri mereka sendiri.

Saya mencoba berusaha untuk berhusnudzon, Allah punya rencana yang luar biasa buat saya. Saya yang memang dari dulu tidak bisa marah, tidak bisa bersikap tegas, tidak bisa memberikan peringatan kepada siswa dengan baik, kurang bisa menguasai kelas, mulai belajar untuk merubah hal-hal tersebut. Mungkin Allah ingin saya belajar memperbaiki semua itu melalui jalan ini, menjadi HRT di SMA Global Madani. Mungkin ini jawaban atas kegundahan saya beberapa bulan yang lalu, how to be a professional teacher, how to give the best for students, how to improve my self eventually.

Saya tersenyum memerhatikan kertas-kertas berwarna itu dengan seksama. Setiap nama dituliskan pada potongan kertas dengan warna yang berbeda, seperti mengilustrasikan pribadi sang pemilik nama yang penuh warna-warni.

Farhan yang tiba-tiba datang ke depan saya sambil membawa gitar, “Saya mau bernyanyi buat Abah” lalu memainkan lagu Ayah dengan merdunya. Arya yang memimpin closing time berseru, “Give Thanks to our Abah..!!!” dan dengan serentak seluruh penghuni kelas berteriak, “Thank you Abah..!!” Evi yang dengan malu-malu mendatangi saya, “Abah, maaf ya aku belum maksimal jadi sekretarisnya.” Wulan yang saya kira pendiam tetiba berteriak, “Ih.. Abah kepo !” saat saya bertanya tentang kawan waktu SMP-nya.

Rizal yang selalu tersenyum dan menaikkan alis bila saya ajak mengobrol. Ridho yang suka mengirim BBM, “Abah” di malam hari dan tidak pernah membalas ketika saya jawab. Nisa dan Sofi, kawan akrab dengan karakter yang bertolak belakang, yang punya hobi baca novel dan selalu mengutarakan kata dengan diksi yang khas. Lingga, dengan tawa jenakanya selalu berhasil membuat kelas ceria. Oci, si hafidzah bersuara merdu , yang selalu speak up apapun yang ada di pikirannya. Chelda, sang atlit tenis meja yang ceria dan selalu memberikan ide-ide dengan senyum manisnya. Lutvia, yang mampu bersabar dengan tingkah ‘unik’ rekan sekelasnya dan mampu mengayomi mereka.

Adel, si mandiri dengan kepala penuh ide kreatif dan tangan yang selalu siap membantu orang lain. Hadid, si pendiam yang malu-malu ketika saya bimbing saat mau tampil untuk memberikan kultum selepas dzuhur. Adit, kemampuan intelektual yang tinggi tidak menghalanginya untuk belajar berempati pada orang lain. Diana, si jago tari yang selalu ceria dan enerjik. Lavy, si pintar yang selalu peduli pada keadaan rekan-rekannya. Zannuar, si anak Mama yang selalu memperhatikan keadaan orang tuanya di rumah. Niko, si jago matematika dan gitar yang pemalu. Ayun dan Ihsan, dua pribadi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mereka berdua terlalu unik bagi saya.

Semakin saya berinteraksi dengan mereka, semakin saya yakin bahwa setiap siswa memiliki keunikan tersendiri, yang membuat saya ingin menggali lebih dalam, ingin belajar lebih banyak cara menghadapi siswa yang berbeda. Kondisi dan sistem di SMA Global madani memberikan kesempatan ini.

Code of Conduct GM dan ExcelAppreciation memberikan guru guideline tentang bagaimana proses pembelajaran dan bagaimana seharusnya siswa berperilaku di dalam sekolah. Melalui CCGM dan EA, siswa dibentuk untuk menjadi pribadi yang islami, cerdas, dan bermartabat. Hal ini juga menuntut guru untuk melakukan proses perbaikan diri secara berkesinambungan. Karena tidak mungkin kita meminta siswa untuk tidak datang terlambat jika kita masih datang terlambat ke sekolah. Tidak mungkin kita meminta siswa untuk tidak membuang sampah sembarangan bila kita masih seperti itu.

Rapat dwiminggu-an HRT, BK, dan Principal & Vices, yang dilakukan untuk melaporkan perkembangan siswa dari waktu ke waktu, memastikan bahwa mereka tumbuh secara intelektual, spiritual, dan emosional. Hal ini membantu sekali dalam memonitor perkembangan dan perilaku siswa. Para peserta rapat juga terbiasa untuk bertukar pikiran tentang cara menghadapi siswa sesuai dengan karakter masing-masing. Saya juga merasa senang berada di antara orang-orang yang memikirkan dan memberikan yang terbaik bagi para siswanya. Hal tersebut memberikan domino effect pada diri saya untuk berusah memberikan yang terbaik bagi mereka.

HRT, yang stand by di dalam kelas, bisa memantau siswanya secara menyeluruh saat proses pembelajaran, memastikan bahwa siswa bisa mengikuti pembelajaran dengan baik,mengamati cara  interaksi mereka dengan rekan sejawat dan guru, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bercerita atau curhat tentang banyak hal.

Semua itu secara langsung dan tidak langsung membantu HRT untuk memahami karakter siswa satu persatu. Suatu hal yang mustahil terjadi apabila sekolah tidak memiliki iklim dan sistem yang bersahabat. Dan ini merupakan hal yang baru bagi saya, dimana saya dituntut untuk belajar menjadi Abah (Guru) yang sesungguhnya: peduli dan memahami karakter siswa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s