Lapis-lapis Keberkahan

Melalui bumi, di Lapis-Lapis Keberkahan kita menghimpun berkah yang berserakan. Memburunya dengan membersamai orang-orang shalih.

— Salim A. Fillah

Melalui ilmu, di Lapis-Lapis Keberkahan kita mengikat kebajikan. Lalu dari para Ulul Albab, kita belajar mengamalkan. Dari Imam Abu Hanifah, sosok yang gigih bekerja, rela menghemat nafkahnya, dan menakjubkan dalam infaknya. Dari Imam Malik, sang pemikul pengetahuan hakiki. Dari Imam Syafi’I dan Imam Ahmad, sepasang guru-murid yang berjalan di atas cahaya, saling merunduk malu menyimak jalan ilmu. Dari Atha’ ibn Abi Rabah, ‘Alim Rabbani yang mampu membuat Khalifah Hisyam ibn Abdul Malik menangis. Dari Imam Asy-Sya’bi, pencerah tempat dan zaman. Dari para Khulafa Ar-Rasyidin yang Allah limpahi cahaya hingga terang hatinya, tajam bashirah-nya, jernih pandangannya. Serta dari para ahli fiqh yang luas ilmunya, lapang dadanya, dan jelita akhlaknya meski saling berbeda pendapat.
image

Melalui riski, di Lapis-Lapis Keberkahan kita menafakkuri diri. Sebab rskii itu soal keyakinan, ia telah dijamin, bahkan ia memburu hamba melebihi kecepatan ajal. Sebab riski itu soal ikhtiar, hatta Maryam pun diminta menggoyangkan pohon kurma yang tegar di kala melahirkan, seakan tak mungkin namun satu per saturuthab lepas dari tangkainya. Sebab riski itu soal rasa; bukan soal berapa banyak tapi nikmat apa yang kita rasa. Sebab riski itu karunia-Nya, apa jadinya bila ia digunakan untuk mendurhakai-Nya. Sebab riski itu soal pertanggungjawaban, sebab setiap nikmat akan ada hisab dan tanya. Sebab selama bertakwa, selalu ada riski bahkan dari arah yang tak disangka. Sebab menjadi kaya itu bukan tujuan utama, kemiskinan pun tak patut dicela. Hanyasanya kita tetap diminta bekerja, sebab ia adalah ibadah. Nikmat itu hadir setelah payah, lezat itu terasa sebakda lelah. Dan akar semua itu adalah kehalalan, sebab ia yang memasok gizi bagi semua keberkahan.

Melalui amal, di Lapis-Lapis Keberkahan kita menyusuri jalan menuju ketaqwaan. Mengejawantahkan iman menjadi keshalihan. Memurnikan niat di setiap perbuatan. Beristiqomah di atas tuntunan Nabi akhir zaman. Menjadikan derma sebagai kebiasaan. Menjadikan syahid sebagai kerinduan.

Melalui bumi, di Lapis-Lapis Keberkahan kita menghimpun berkah yang berserakan. Memburunya dengan membersamai orang-orang shalih. Memungutnya dari yang telah diturunkan oleh-Nya; Alquran, hujan, zaitun, kurma, kuda, kambing, dan susu. Mencarinya di detik-detik berharga; Ramadhan, Lailatul Qadr, awal Dzulhijjah, hari ‘Arafah, hari Nahr, Tasyriq, empat bulan Haram, hari Jumat, Senin-Kamis, waktu shalat, akhir malam, bahkan di pagi hari. Menggapainya di tempat-tempat istimewa; masjid-masjid, Masjid Nabawi, Madinah Al-Munawwarah, Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah, Masjidil Aqsha, serta Negeri Yaman. Hingga menelisiknya di Bumi Syam; Gaza dan Raihania.

Taken from Lapis-lapis Keberkahan by Salim A. Fillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s