Kisah Mudik dan Taraweh 0.92 RPM (Raka’at Per-Minute)

Ketika melihat pertama kali postingan seorang kawan di path, tentang solat taraweh yang begitu cepatnya, saya sedikit kurang percaya. (Punten Adi Hehehe) Tapi hal yang membuat saya tersenyum adalah kawan tersebut membuat perbandingan antara jumlah raka’at dengan waktu yang dibutuhkan. Hingga muncul satuan baru, RPM, Rakaat Per-Menit. Hehehe…

Saya juga kepikiran, keren nih kalau ada percakapan kayak gini.
“Bro, lu taraweh dimana?”
“Di kampung sebelah bro, 1.2 RPM, lumayan cepet.”
“Wah kalah sama tempat gue bro, di sana 1.56 RPM. Keren kan bro?”
“Widih.. Nanti malem gue solat di tempat lu lah.”
“Yo’i Ma Men.”

Nah kan, absurd banget pasti. Hahaha

Jadi ceritanya, saya mengantar istri mudik ke kampung halaman. Mudik yang sudah kami agendakan dari sebulan sebelumnya, setelah rundingan penuh darah, air mata, dan keringat, akhirnya ditemukan formula khusus mudik tahun ini, yang in sya Allah safe buat semua pihak.

image

Rehat di Masjid Istiqlal, Bandar Jaya

Maklum bro, pengantin baru, baru 6 bulan. Jadi mesti adaptasi soal keluarga mana yang mesti dikunjungi terlebih dahulu. Singkat cerita, akhirnya kami sepakat untuk pulang terlebih dahulu akhir minggu ini. Saya kembali ke Bandarlampung untuk I’tikaf, dan kembali jemput si cinta sebelum akhirnya mudik ke rumah orang tua di Banten.

Ribet, kata Ummi Rita. Memang iya, tapi karena hari minggu ini ada acara khusus untuk si dede dalam kandungan, tasyakuran 4 bulan kehamilan, ya mau tidak mau harus menerima keribetan ini. Ya pokoknya agar semua pihak senang.

Dua hari sebelum berangkat ribut lagi soal kendaraan apa yang mau dipakai. Rencananya mau naik kereta. Tapi dipikir-pikir, kenapa tidak coba lagi touring pakai sepeda motor. Akhirnya sepakat, Sabtu pagi, riding to kampung halaman.

Sepanjang perjalanan lucu bingits. Dari mulai saya yang mules, ban kempes, sampai ditilang polisi. Haduh, pokoknya pengalaman safarnya lengkap. Maklum, perjalanan menempuh 4 Kabupaten dengan waktu perjalanan 4 jam.

Sampai rumah mertua sudah selonjoran ganteng di sofa. Syukurnya si cinta fine saja.

Malam harinya, saya diajak oleh Papa untuk solat taraweh di mushala terdekat. Tadinya mau menolak. Karena saat ditanya berapa roka’at dan kapan selesainya, saya sudah membayangkan bagaimana solatnya, pasti seperti olah raga. Tapi akhirnya berangkat juga.

Sesuai dugaan, solatnya betul-betul seperti olah raga. Saya yang terbiasa solat santai. Tidak terburu-buru. Terasa sekali lelahnya. Memang semenjak kecil saya solat di kampung dengan 23 rakaat, tapi dengan ritme yang santai, sekitar pukul 21.00 beres. Begitu pula saat kuliah dan ramadhan ini, walaupun 11 rakaat, tapi tetap ritmenya enak dan nyaman. Makanya saya kurang percaya dengan postingan teman di awal.

Malam itu, kami memulai taraweh pukul 19.45 dan selesai pukul 20.16, sekitar 31 menit. Ya, mohon maaf, tidak tuma’ninah banget. 0.74 RPM loh. Saya pulang dengan lutut senut-senut.

Ahad sore berlangsung acara tasyakuran. AlhamduliLlah dipimpin oleh Kang Dedeh, pemimpin pesantren dekat rumah istri, yang dulu menerima saya waktu acara khitbah. Saya juga jadi makin kenal tokoh-tokoh masyarakat di daerah rumah mertua. Bahkan beberapa orang ada yang menawarkan untuk mampir ke rumahnya.

image

Acara Tasyakuran 4 bulan kehamilan

Ya, next time, ketika lebih longgar, saya akan keliling ke rumah-rumah warga. Laganya kayak calon legislatif saja. Hehe..

Selepas acara, saya dan Papa balik taraweh di tempat kemarin. Kali ini dengan imam yang berbeda. Dan lebih luar biasa.

Saya, yang tadinya mengantuk karena kekenyangan, jadi melek lantaran imamnya luar biasa cepat. Baca Al-Fatihah dan beberapa surat pendek dengan sekali nafas, tanpa jeda. Ruaaar biasa.

Kami mulai pukul 19.40 selesai pukul 20.05, atau sekitar 25 menit. Kalau diubah ke RPM, artinya 0.92 RPM. Selesai solat ingin rasanya memberikan ucapan selamat pada imam, bahwa beliau telah memecahkan rekor solat taraweh tercepat yang pernah saya alami. Hahaha..

Ah.. Terlepas dari taraweh ekspess ini, saya merasa nyaman dengan suasana ramadhan di sini. Kayaknya sudah lama saya tidak merasakan jalan beramai-ramai selepas taraweh melawan gelapnya malam, sambil sesekali melihat bintang yang terangnya luar biasa. Mengingatkan saya pada malam di Semau.

Ah.. Mungkin ini kisah mudik ramadhan pertama kami. In sya Allah, saya yakin bakal banyak keseruan lainnya. Apapun itu, yang penting sama si cinta. Hehehe

— Sungkai Utara, 22 Ramadhan 1437 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s