Senja, Hujan, dan Mimpi

Dalam remang senja,
Aku mengambil jeda,
Memberi spasi,
Mencoba untuk mengurai arti.

Tentang putar waktu
Tentang 24 malam yang berlalu
Tentang hidup itu
Tentang mimpi-mimpi itu

image

Dulu, dulu sekali.
Sering kali aku memainkan nurani
Mengeja kesempurnaan dengan keliru
Melihat semua gemerlap adalah baku
Mengarti semua kilau bukanlah semu

Dulu, dulu sekali.
Pada diri rasa bergantung amat tinggi,
Hingga kesalahan selalu pada yang lain
Hingga kegagalan adalah ulah yang lain
Hingga kekhilafan hadir karena yang lain

Dulu, dulu sekali
Putar waktu hanya terpaku pada
Apa yang tampak.
Itu saja.

Tak lama, sungguh tak lama
Sadar diri hadir
Memerciki wajah yang picik ini
Mengguyur kepala yang bodoh ini
Membasahi hati yang kering ini

Tak lama, sungguh tak lama
Diri ini mulai sadar
Bergantung pada diri
Bergantung pada yang lain
Bergantung pada makhluk
Adalah awal dari luka
Pedih
Bagi Iman dalam hati
Dan kekecewaan yang bertubi

Tak lama, sungguh tak lama
Jiwa sadar,
seharusnya patut pada ketetapan-Nya
Pada setiap goresan takdir-Nya
Pada setiap tulisan qadha-qadar-Nya

Sehingga tidak ada yang seharusnya disalahkan,
Atas setiap kejadian.
Karena semuanya sudah Dia gariskan
Dia rencanakan dengan sebaik-baiknya rencana
Tugas kita hanyalah memaknai,
Bahwa setiap kejadian bukanlah karena kebetulan.

Bahwa setiap 24 malam yang berlalu,
Adalah akibat dari 24 malam sebelumnya
Hasil dari 24 malam sebelumnya lagi
Lagi
Dan lagi

Bahwa hidup itu adalah
Hubungan sebab akibat
Dalam kuasa-Nya.

Bahwa hidup itu adalah
Rehat sejenak
Untuk membekali hidup yang hakiki
Kelak

Belajar, akhirnya belajar
Untuk menghadirkan keikhlasan pada setiap langkah
Untuk menghadirkan keridhoan pada setiap kejadian
Untuk menghadirkan sebaik-baik prasangka pada setiap hasil yang didapat.

Belajar, akhirnya belajar
Untuk menjadikan setiap ikhtiar
Sebagai bekal
Bagi akhir perjalanan kelak

Belajar, akhirnya belajar
Untuk menikmati hidup
Sebagai hamba
Sebagai khilafah
Dengan sebaik-baiknya.

Lalu menjadikan mimpi-mimpi itu
Tetap gemerlap di langit,
Dan hatinya.

Lalu tetes air jatuh
Membasahi bumi
Mushaf
Dan hati ini.
Sejuk

— Bandarlampung, 24 Ramadhan 1437 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s