Tentang Adel, Sherina-nya El-Biruny

Beberapa minggu lalu, salah satu teman saya memposting foto-foto dari film Petualangan Sherina, yang sedikit banyak membawa memori jaman SD. Dulu kayaknya luar biasa sekali jika ada sosok sejenis Sherina: ceria, pintar, punya jiwa pemimpin, care, berani, dan sedikit tomboy.

Dari postingan tersebut, saya jadi teringat, ada juga sosok yang seperti itu di kelas kami. Sosok yang persis dengan tokoh Sherina dalam film tahun 90-an tersebut. Tidak sama persis memang, tapi tingkah laku siswi ini dalam kesehariannya sedikit banyak menggambarkan bagaimana jadinya Sherina jika dalam seragam putih-abu.

image

Mari saya ceritakan satu lagi siswi di kelas kami, Riska Adellia, Si Sherina di ElBiruny.


Saya mengenal Adel sebagai sosok yang memiliki jiwa pemimpin dan kemandirian yang sudah matang, bahkan lebih menonjol daripada rekan-rekannya yang lain.

Dia selalu mengambil inisiatif untuk hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas kelas, yang terkadang membuat saya dilema. Adel lagi Adel lagi. Sampai beberapa anak di kelas pernah mengeluhkan hal ini kepada saya.

Tapi saya memang cenderung memberikan amanah kepada anak-anak yang mau mengambil inisiatif ketimbang kepada anak-anak yang harus ditunjuk dulu baru mau. Karena jika sudah ada kemauan dari diri sendiri, pasti amanah yang diberikan akan selesai.

Ya itulah Adel, selalu mengajukan diri. Tapi beberapa waktu saya terpaksa tidak mengacuhkan Adel dan memilih siswa yang lain, karena memang sudah keseringa Adel terus yang mengambil inisiatif.

Adel juga tipikal siswa yang memiliki gaya komunikasi yang persuasif, saking persuasifnya beberapa siswa di kelas pernah, lagi-lagi, curhat kepada saya bahwa Adel cenderung Bossy. Saya tidak mengambil pusing, ya itulah Adel. Karena memang seperti ini sifatnya. Cuma, lagi-lagi, saya mencoba untuk mengurangi porsi tugas Adel, berharap siswa yang lain mau tampil dan mengajukan diri. Susah pada awalnya, karena lagi-lagi Adel. Tapi syukurnya di semester genap lalu mulai ada perubahan.

“Del, jaga kelas ya, Abah mau ada rapat.”
“Del, nanti minta closing sama gurunya ya, kalau Abah rapatnya lama.”
“Del, ajak temennya ke Al-Madani.”
Dan biasanya jawaban yang saya terima,
“Iya Bah.”

Karena itulah Adel. Siswi yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Tidak hanya di kelas, tetapi di ekskul yang dia ikuti . Jadi terkadang saya lihat Adel menanggung tugas yang pada dasarnya bukan tugasnya, karena dia selalu berusaha agar pekerjaan selesai dengan baik. Ya, dan lagi-lagi, Adel jadi dianggap Bossy ketika ada pekerjaan temannya tidak tuntas.

Secara Akademik, Adel selalu berusaha melakukan yang terbaik, sehingga saat report day akhir semester lalu, hanya Adel siswi yang semua nilainya naik dari semester sebelumnya.

Secara sosial dan personal, kalau ada Adel, pasti ada Dini, Lutvia, Dinda, dan Deta. Kelima siswi ini sudah terkenal di kalangan guru-guru. Ya, kemana-mana harus bareng, walaupun hanya Lutvia yang sekelas dengan Adel.

Ya itulah Adel, Sherina di kelas Elbiruny. Saya mengenal Adel seperti itu, sampai suatu ketika Adel datang ke meja saya, memberikan kertas berisi puisi, yang membuat saya terdiam, tidak bisa berkomentar.
Dan menitikkan air mata.

Puisi tersebut saya berikan kepada Ibu Adel saat report day mid semester genap. Dan iya, Ibunya Adel juga menangis.

Adel menuliskan kerinduannya pada Sang Ayah dalam puisi tersebut. Tampak sekali tiap baitnya mengungkapkan betapa rindunya dia pada Ayahnya, betapa dia kehilangan Ayahnya, betapa dia menyanyangkan kenapa Ayahnya meninggalkan dia, dan betapa dia berharap bisa bertemu dengan Ayahnya di akhirat kelak.

Ibu Adel akhirnya bercerita, bagaimana kehidupan mereka berubah semenjak Sang Ayah pergi.

“In sya Allah, Adel mengerti Bu, In sya Allah, Adel mengerti.” Tersadar air mata saya juga menetes mendengarkan penuturan Ibu Adel.

Ya itulah Adel, sosok Sherina di kelas El-Biruny. Sosok yang selalu ceria, yang dengan malu-malu bertanya bagaimana hukumnya orang berpacaran, yang sering berkata, “Abah sibuk ya? Kangen ngobrol sama Abah loh.”, yang berazam tidak akan berpacaran sampai lulus kuliah, yang kreatif dalam mendesain, yang malu dan merasa bersalah kalau melakukan pelanggaran.

Ya itulah Adel, dibalik semua itu menyimpan kerinduan yang mendalam pada Sang Ayah.

Ya, saya hanya bisa berdoa, kelak Adel menjadi sosok pemimpin wanita yang sholehah, menjadi kebanggaan orang-orang di sekitar, dan Allah mempertemukan kembali dengan Ayah yang dirindukannya di surga-Nya nanti. Amiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s