Menemukan Lailatul Qadr Kita Sendiri: Sebuah Catatan Akhir Ramadhan

Subuh tadi pagi, istri sudah mewanti-wanti agar segera pulang setelah shalat. Tidak banyak mengobrol atau mampir-mampir. Karena rencananya pagi ini kami berangkat mudik dan masih banyak barang yang belum dikemas dalam ransel.
“Ikut kajian saja paling.” Saya mengiyakan.

Sampainya di Mesjid, saya terkaget karena melihat makhluk yang sudah saya cari semenjak beberapa bulan ini, kawan kuliah yang entah menghilang kemana, padahal ada hal yang harus dia selesaikan, tidak akan saya bahas di sini.. Hehehe..

Selepas shalat, kami masih duduk berdua. Lalu datang satu kawan seangkatan lagi. Jadi berkumpullah 3 punggawa ganteng angkatan 2008 Unila. Ternyata 2 kawan saya ini jadi jama’ah i’tikaf di masjid ini. Wajar bila tidak bertemu, karena sepekan ini saya berada di Al-Wasi’i.

Lalu kajian ba’da subuh-pun dimulai. Ustadz Tri Mulyono memberikan kajian. Satu jam yang penuh makna. Sayapun pamit kepada kedua teman saya.

Sesampainya di rumah, si cinta sudah merapikan barang-barang, saya cuma tersenyum, “ikut kajiannya ustadz Tri.” dengan nada sinis dan menyindir si cinta menjawab, “kirain aku Aa pingsan di mesjid.” Saya pasang senyum kuda terbaik.

Kebanyakan Muqadimahnya ya, hehehe… Tak berapa lama, sebuah WA masuk ke hape istri, “ini isi kajian tadi a.. Ummi Arina yang sent.” dan inilah isi kajian ustadz Tri Mulyono.

image

Lailatul Qadarku
Oleh Tri Mulyono

Aku bukan siapa-siapa, izinkan aku untuk memahami Lailatul Qadarku dan qadarmu, jika engkau berkenan.

Yaitu, suatu malam yang indah (bahkan hingga pagi, siang hari)  karena penuh dengan taubat, kesadaran sebagai hamba, kembali ke jalan yang benar, kembali kepada Allah SWT. Sehingga berazzam kuat untuk menjadi lebih baik, lebih sabar, lebih rajin, lebih jujur, lebih lembut, lebih romantis, lebih hormat, lebih sayang, lebih taat, dan seterusnya.

Lailatul qadarmu bisa didapatkan setiap saat, detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. Bisa siang ataupun malam. Kapan saja.
Lailatul qadarmu dan Qadarku (malam yang sudah ditetapkan) oleh Allah SWT. Hari kesadaran atas segala alpa, salah, dosa-dosa

Allah SWT sudah memudahkan waktunya untukmu dan untukku bertaubat, yaitu bertemu dengan Lailatul qadarmu dan Qadarku sendiri. Di bulan ini, bulan ramadhan.

Jika di waktu selain bulan ramadhan dirimu dan diriku sulit untuk bertaubat, mendapati malam yang menyadarkan, malam yang ditetapkan, maka bulan ramadhan adalah tempatnya bagi hamba yang mau sadar dan kembali padaNya.

Jika dalam satu tahun, sulit untuk taubat (mendapatkan satu malam saja) untuk sadar.  Maka Allah SWT memilihkan untuk kita satu bulan untuk taubat. Tugas kita mencari dalam satu bulan tersebut suatu malam yang membuat kita sadar akan arti penghambaan kepada Allah.

Bila diawal bulan belum juga engkau temukan. Kita masih punya malam-malam yang lain untuk menemukan kesadaran penghambaan kita kepada Allah.

Jika di pertengahan bulan kita masih belum juga menemukan malam yang menyadarkan kita tentang arti penghambaan, maka Allah SWT kembali memudahkan hamba – Nya untuk fokus di 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Bahkan untuk memudahkan Allah telah menetapkan waktunya. Di malam-malam ganjil. Namun, jangan sampai kita terkecoh dan terpaku dengan angka-angka.

Jika sampai demikian, engkau tidak pula dapatkan hari dan malammu untuk bertaubat. Sungguh engkau akan sangat sulit mendapatkannya di luar bulan ini. 

Jika engkau sdh fokus, serius, tidak pula mendapatkannya, lalu bagaimana jika engkau sibuk dg duniawi?

Malam 21 ramadhan 1437 H, saya membantu meng-islamkan seseorang yang beragama nasrani, seorang pemuda, yg sejak dua bulan sebelumnya sangat kuat ingin masuk Islam.  Namun, Allah datangkan ia pada malam 21. Apakah ia tahu itu? Tentu tidak. Namun malam itu adalah malam miliknya yangg sangat indah. Malam Lailatul Qadarnya.  Fahaniian lahu.

Lailatul Qadarku dan qadarmu bisa jadi ada di masjid. Namun, apakah itu  sebuah jaminan?

Jika Lailatul qadar seperti itu, sungguh rugi bagi ummahat (ibu ibu) yang tdk berkesempatan ke masjid karena sakit, haid, hamil, dsb.  Sibuk melayani anak anak, suami untuk berbuka puasa dan masak untuk sahur.

Moment memasak, khidmat kepada suami dan anak, dengan bangun malam sblm mereka bangun untuk menyiapkan sahur. Dan berangkat tidur setelah semua orang tidur.  Itulah Lailatul qadarmu wahai para ibu.  Karena semua itu tak akan engkau dapati lagi di luar ramadhan nanti. 

Wahai para ikhwan dan akhwat yang berlomba membaca Qur’an, menghafalnya, mentadaburinya. Membaca hingga khatam berkali-kali, itulah Lailatul qadarmu wahai Saudaraku.  Karena engkau akan sulit mendapati itu di luar ramadhan.

Bagi yang mampu bangun malam dengan penuh semangat mengharap ridha Allah SWt, melawan rasa lelah, kantuk, dst.  Itulah Lailatul qadarmu. Karena betapa sulitnya engkau lakukan lagi di beberapa bulan setelah ini.

Bagi yang setia dengan masjid, menanti waktu shalat, berdiam diri di masjid,  zikir, Tilawah, ibadah syukur, Dhuha, dst.  Itulah Lailatul qadarmu. Karena itu Betapa sulit dan berat dilakukan di  waktuselain  ramadhan.

Bagi yang menemukan jati dirinya dg menutup aurat dengan sempurna dan tidak ada yang memaksanya kecuali krn Allah SWT. Sungguh! Itulah Lailatul qadarnya.

Berhenti bisnis riba, menipu dalam bisnis, gharar, meninggalkan yang haram dalam perdagangan pada moment Ramadhan ini. Itulah Lailatul qadarnya.

Sekali lagi, bila seorang hamba, menemukan momen dimana dia dengan khusyu’ sadar akan arti penghambaannya kepada Allah, segala kekurangan dirinya, dan kemana dia akan kembali. Itulah lailatul qadrnya.

Bisa jadi hati kita menemukan hal tersebut di hari-hari sepanjang tahun, bisa jadi di awal-awal ramadhan, bisa jadi di pertengahannya, dan bisa jadi di hari-hari terakhirnya.

Namun, jika hati kita tidak juga menemukannya, maka mintalah kepada Allah untuk digantikan dengan hati yang lain.

“Apakah belum datang masanya bagi orang yang beriman untuk lebih khusyu’ hatinya dg mengingat Allah…. [Al-Hadid 16]

***
Membaca kembali tulisan ini membuat saya ingat kembali bagaimana rasanya hati tertohok saat Ustadz Tri memberi kajian.

Semoga diri-diri kita berhasil menemukan kesadaran akan penghambaan kepada Allah, menemukan lailatul qadr-nya sendiri.
In sya Allah.

— Labuan, 30 Ramadhan 1437

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s