Kenapa Menulis?

Tengah malam begini (lagi-lagi) menulis self-disclosure. Iseng-iseng saja, masih belum ketemu ide untuk video acara Halal Bihalal nanti, malah tidak sengaja baca artikel keren ini (Review Blog Hanny Kusumawati). Saya jadi terpikir, apa sebenarnya yang membuat saya menulis.

Untitled

Spot Menulis Paling ‘yahud’ : Ruang Wadek I FKIP UNILA

Pertama, mari lihat darimana saya menulis. Semenjak kecil, saya cenderung menuliskan apa yang saya rasa. Alah. Intinya adalah saya lebih memilih cara aman untuk berkomunikasi daripada harus menerima respon dari orang yang saya ajak bicara. Dulu, saya khawatir respon yang saya dapat negatif, hingga akhirnya saya memilih menulis ketidaksukaan dan kritik saya pada orang sekitar saya melalui tulisan.

Pernah satu kali saya bertengkar dengan Babeh, saya berada di dalam kamar. Sementara Babeh terus ‘mengamuk’ di luar. Saya menuliskan tanggapan saya dan mengirimnya keluar kamar. Babeh terus menanggapi tulisan saya, saya menanggapi lagi dengan tulisan, Babeh menanggapi tulisan saya lagi, begitu seterusnya hingga kami berdua capek sendiri. Hahaha..

Beranjak remaja, kebiasaan ini tidak mau hilang. Malah saat saya mulai mengalami krisis identitas khas remaja, saya menuliskan apapun yang saya alami dan rasakan dalam jurnal harian. Setiap harinya saya menuliskan catatan-catatan yang berisi pemikiran saya, ketidaksukaan saya, rencana saya, kegalauan dan kegelisahan. Pokoknya apapun yang saya alami selama satu hari tersebut. Hingga tidak terasa saya sudah mengumpulkan beberapa jurnal harian selama masa SMP-SMA. To be honest, that thing kept me sane along my teenage years.

Kebiasaan menulis saya terus berlanjut hingga akhir masa SMA. Saya masih cenderung diam atas ketidaksukaan saya pada sesuatu kemudian menuliskannya di dalam jurnal harian dan menyimpannya untuk diri saya sendiri. Saya tahu itu salah, tapi saya merasa nyaman dengan kebiasaan ini hingga akhirnya saya bertemu 3 orang sableng yang mengajarkan saya satu hal.

“Orang lain tidak akan pernah tahu apa yang kita pikirkan dan rasakan jika kita tidak pernah menyampaikannya kepada orang tersebut. Manusia tidak bisa membaca pikiran manusia yang lain, So SPEAK UP!!”

Karena 3 orang sableng itulah saya mulai membuka diri dan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih banyak mengutarakan apapun yang saya rasakan dan pikirkan. Bahkan sekarang kayaknya kadang kebablasan. Hahaha.. Overall, saya masih setia menulis hal-hal yang berkaitan dengan pribadi saya, berkontemplasi, mengevaluasi, apapun yang saya alami.

Kedua, ketika ditanya dapat darimana ide untuk menulis. Jujur saja, pemicu saya menulis adalah hal-hal yang saya alami tiap hari. Apa yang saya lihat, rasa, dengar, ingat, alami, semuanya yang menggetarkan hati dan pikiran saya akan langsung saya tulis. Kalau dulu, ketika mendapatkan hal tersebut, saya akan langsung menuliskannya di jurnal harian. Sekarang, saya ambil gambarnya, menuliskan beberapa kata-kata penting di dalam note hape, lalu kalau ada waktu saya lengkapi. Kalau tida, saya simpan dulu hingga suasana mulai lengang. Melalui gambar yang saya ambil, saya mencoba untuk mengulang kembali sensasi yang saya rasakan saat mengambil gambar tersebut, lalu menuliskannya dalam kata-kata. Terkadang ada yang langsung saya posting di FB dan IG, terkadang ada yang saya simpan untuk suatu saat saya posting ke blog, melihat kondisi yang sesuai, atau hanya menjadi koleksi pribadi.

Dengan cara seperti itu, tulisan saya cenderung bersifat pribadi. Bahkan saat saya membahas sesuatu, saya lebih senang menuliskan apa yang saya rasa, saya alami, dan saya pikirkan tentang hal tersebut. Sehingga saya akan merasa senang ketika ada orang lain yang berkomentar bahwa dia merasa hal yang sama juga.

Ketiga, yang saya rasakan saat menulis adalah rileks. Saya seperti berbicara dengan diri saya sendiri. Berdialog tentang apa yang telah saya alami, apa yang sebenarnya harus dan tidak harus dilakukan, bagaimana bila menghadapi hal ini lagi suatu saat nanti, dan hal-hal lainnya, yang membuat kaya pemikiran dan sudut pandang saya.

Bagi saya pribadi, menulis adalah self-healing therapy, dimana saya membiarkan nurani saya berbicara tentang banyak hal, tidak peduli apa pendapat orang nantinya, yang terpenting adalah saya mampu mengutarakan ledakan-ledakan yang terjadi di dalam dada, yang saya ketahui akan menjadi ganjalan jika terus saya pendam.

Keempat, menjadi penulis adalah cita-cita saya sedari kecil. Pernah satu kali saya menulis di akun friendster

Ingin menjadi guru fisika dan penulis buku dan komik

Kurang lebih literasinya seperti itu, lengkapnya lupa. Sampai saat ini, belum tercapai dengan sempurna. In sya Allah saya akan terus belajar dan belajar. Hingga suatu saat tulisan saya bisa memberi arti bagi orang lain. Semoga. Amin..

Kelima, saya menulis demi eksistensi saya sendiri. Ingat doanya ibrahim di As-Syu’ara 84

dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,

Saya ingin kelak saat saya sudah tidak ada di dunia ini lagi, orang-orang akan mengingat saya melalui tulisan-tulisan yang memberikan hal positif bagi orang lain. Cita-cita yang masih jauh memang, karena saya masih senang menulis tulisan semacam self-disclosure kayak gini. hehehe.. Tapi In sya Allah, saya tidak akan berhenti belajar dan belajar. Hingga nanti tercipta tulisan yang renyah dinikmati tapi tetap penuh gizi.

Lima alasan ini rasanya cukup menjelaskan kenapa saya menulis. Tulisan ini jadi pengingat saya sendiri untuk tetap, tanpa letih, menulis. In sya Allah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s