Layakkah Kita Atas Pertolongan Allah?

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah..
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah..

Awal semester baru, saya mendapat amanah jadi Homeroom Teacher Grade XII. Banyak khawatirnya ketimbang excited-nya. Karena melihat HRT tahun lalu yang rasanya begitu kerepotan menjadi HRT bagi siswa di tahun senior.

But, in the end, we can resist amanah that Allah gives to us, right?

Maka sayapun berusaha menghadirkan, lagi-lagi, sebaik-baik prasangka kepada Allah. Dan hari kedua sudah dapat kejutan. Kejutan yang luar biasa dari salah satu siswi saya yang membuat saya banyak merenung hari ini.

13680524_10208457263221128_7999667392407226657_n

Pagi tadi saya meminta mereka menuliskan jurusan yang mereka incar setelah lulus pada sebuah kertas, dan berencana memasang foto mereka di kelas. Semua siswa excited kecuali satu siswi yang malah terdiam. Saya tidak menghiraukan pada awalnya, karena saya tahu dia termasuk siswi yang pendiam. Sampai saat istirahat pertama, saya sedang asyik mengobrol dengan siswa yang lain, siswi ini masih terdiam. Seperti melamun. Sayapun memanggil namanya, eh, dia malah tertunduk.

Oh, something’s not right, saya berpikir. Saya meminta siswa yang masih ada di kelas untuk keluar, meninggalkan kami berdua. Dan obrolanpun dimulai.

“Kamu kenapa, Nak? Ada masalah ya? Cerita ke Abah, barang kali Abah bisa bantu.”

“Saya takut Bah.”

“Takut kenapa, Nak?”

Diapun menangis.

“Apa yang membuat kamu takut?” Saya semakin penasaran.

“Saya takut, bah. Dosa-dosa saya banyak.”

DHEG. Saya berada di tengah kebimbangan, apakah akan saya lanjutkan menanyai atau justru memberikan nasehat saja.

“Apa yang membuat kamu takut? Abah juga banyak dosa, semua orang pasti punya dosa. Apa yang mebuat kamu takut?” Saya melanjutkan menanyai.

“Saya takut. Kalau dosa-dosa saya menghalangi Allah mengabulkan cita-cita saya.”

DHEEGG. Saya terdiam. Dada saya bergemuruh. Bibir saya kelu. Entah mau mulai darimana saya memberikan nasehat. Saya merasa tidak layak memberikan dia sepatah-dua patah kata, saya sadar sekali siapa diri saya. Dan anak ini menyadarkan siapa sebenarnya saya.

“Setiap orang pasti punya dosa, Nak. Tapi tidak semua orang memiliki kesadaran diri bahwa dirinya berdosa, AlhamduliLlah, kamu sudah luar biasa bisa sadar akan hal ini. Karena banyak orang di luar sana yang berdosa, tapi tidak mau menyadari atau mengakui dirinya sendiri.”

Nurani saya terhenyuk. Saya menahan air mata untuk tidak menetes.

“Yang terpenting adalah, bagaimana kita menyadari kemudian bertobat setelahnya.  Allah lebih menyukai hamba-Nya yang masih muda tapi senang bertobat daripada ketika sudah tua baru bertobat.”

Nurani saya tersentuh. Saya masih menahan air mata supaya tidak jatuh.

“Apa yang membuatmu takut, Nak.”

“Saya takut Allah tidak ampuni dosa-dosa saya, lalu itu jadi penghalang saya mendapatkan cita-cita saya, bah.”

Sambil menangis dia bercerita bagaimana dia merasa tertekan dengan pilihan orang tuanya tentang kemana dia harus melanjutkan studi. Dia bercerita bagaimana dia merasa ikhlas kalau memang itu pilihan orang tuanya, yang terpenting baginya adalah ridho mereka. Hal inilah yang  kemudian membuat dia tertekan, takut, khawatir, kalau dia tidak mampu mencapai keinginan orang tuanya.

Air mata akhirnya jatuh juga, mulia sekali keinginan anak ini, ingin membahagiakan orang tuanya, walau merasa tertekan karenanya. Saya kemudian mengambil selembar kertas HVS. Menuliskan cita-cita dia, dimana dia saat ini. Lalu menarik garis lurus di antara keduanya, dan menuliskan “Usaha dan Doa” di atas garis tersebut.

“In Sya Allah, Nak. Kamu punya potensi untuk itu. Kamu harus yakin dengan kemampuan kamu. Allah tidak akan memberikan ‘ini’ jika kamu tidak layak untuk ini. Makanya, kamu harus membuat layak diri kamu dengan ‘ini’. Proses itu tidak akan membohongi hasil, Nak. Sekarang mumpung ada waktu, kamu maksimalkan ‘ini’. Abah yakin kamu bisa, kamu punya potensi, tinggal kamu yang harus percaya diri.”

“Kalaupun ketika kamu sudah berusaha dengan maksimal, sudah berdoa dengan maksimal, Allah tidak takdirkan kamu di ‘sini’. Allah punya rencana lain buat kamu, tentu yang terbaik.”

“Perbanyak doa. Mohon doa orang tua. Perbanyak istighfar. In sya Allah, Allah tidak menyiakan usaha kamu.”

Saya kembali menahan air mata.

“Adapun Allah bakal menerima tobat kamu atau tidak, itu hak perogratif Allah, Nak. Tugas kita hanya terus memohon ampun kepada Allah.”

Istirahatpun selesai. Anak-anak yang lain sudah mulai masuk ke dalam kelas.

“Abah yakin kamu bisa, Nak.”

Saya kembali meyakinkan dia. Saat semua siswa sudah masuk, saya maju ke depan, menuliskan potongan ayat Ali ‘Imron : 159.

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah..
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah..

Lalu menjelaskan kepada mereka betapa pentingnya memiliki azam dalam hati, agar mereka bisa memaksimalkan segala upaya dan doa. Lalu bertawakkal kepada Allah, karena esensinya semua hal sudah Allah siapkan yang terbaik untuk diri kita.

Pak Edy pun masuk. Saya kemudian keluar dari kelas, langsung menuju Al-Madani. Dengan dada yang bergemuruh. Dengan mata yang menahan tangis. Dengan hati yang.. ugghhhh..

“Betapa Engkau ingatkan hamba, Ya Rabb, melalui anak-anak ini. Bahwa hamba belum layak menjadi orang tua mereka. Belum layak menjadi panutan mereka. Belum layak atas nasehat-nasehat yang hamba sampaikan kepada mereka.

Belum layak untuk mendapatkan pertolongan dari-Mu, Ya Rabb.

Maka berikanlah hamba kekuatan, Ya Rabb, untuk memperbaiki apa yang jelek, melengkapi apa yang kurang, untuk membuat diri ini layak mendapatkan pertolongan dari-Mu, sehingga doa-doa hamba untuk mereka bisa Engkau perkenankan.

Maka, Ya Rabb,

“….berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (As-Syu’ara 77-82)

Amiin Ya Rabba ‘Alamiin.

***

Bandarlampung, 27 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s