Detak Waktu

Detak waktu,
Menemani raga di selasar.
Dibelai angin.
Disinari senja.
Duduk terdiam.
Menunggu.

image

Detak waktu,
Menemani pikir di kepala.
Ada rasa yang memang tidak perlu diucap.
Tapi ada pula yang harus diurai.
Biar tak ada salah.
Biar tak ada khilaf
Bukankah lebih baik mengutarakan daripada memendam?

Detak waktu,
Menemani hati berbincang.
Bilakah sabar akan tetap hadir?
Bilakah ketenangan jiwa akan tetap membersamai?

Ah… Lelah.
Raga, pikir, hati,
Tidak pernah henti bertikai.
Seolah ingin pergi, kemudian hilang.

Hilang.

Bagai titik.

Bagai titik.

Detak waktu,
Menemani,
Untuk sebuah senyum.
Yang akhirnya membuat bibir inipun membentuk simpul,
Manis.
Telah dinanti 25 tahun lamanya,
Sabar sejenak tidak akan membuat luka.

Detak waktu,
Menyadarkan.
Bahwa langkah ini masih panjang,
Bukan sekedar dunia.
Ada tangga yang mesti disusuri,
Tinggi,
Berat,
Jauh.

Ada khilaf,
Ada salah,
Ada keliru,
Biar saja.

Karena kekurangan itulah yang membentuk kesempurnaan.
Karena kelemahan itulah yang menghadirkan kekuatan.
Karena separuh jiwa tidak akan lengkap tanpa separuh yang lain.

Detak waktu,
Menemani,
Kesadaran itu telah hadir semenjak 7 purnama yang lalu.
Menjadi imam bukan hanya prihal kecukupan material.
Dia jua membutuhkan kecukupan hati.
Bahwa bahtera ini, harus sampai menuju surga-Nya.

Detak waktu,
Menemani.
Dan sosok senyum itupun hadir.
Selayak irisan surga tersiram madu,
Manis.
Ah.. Manis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s