Kita dan Lompatan-Lompatan Peran

Kubangun dengan cinta,
Kau rawat dengan doa,
Demikianlah kita,
Berumah di tangga,
Menuju surga – Fahd Pahdepie

Tengah malam begini, akhirnya sempat juga mengisi kembali blog. Semenjak tahun ajaran baru dimulai, amanah semakin bertambah. Inipun baru selesai merapikan dekorasi kelas untuk pagi ini.

AlhamduliLlah, setelah resmi menjadi HRT untuk kelas XII (yang AlhamduliLlah mantap banget rasanya), awal masuk mendapat kepercayaan untuk membuat video napak tilas 6 tahun Sekolah Global Madani bareng Principal (yang AlhamduliLlah, pesan yang ingin saya sampaikan via video tersebut tersampaikan), membantu Bu Diah untuk penelitian di bidang metakognisi (yang AlhamduliLlah, nambah ilmu lagi), jadi secretary untuk parents teachers confrence SMA Global Madani, menjadi committe acara resepsi pernikahannya Mas Fiki dan Mba Marlis minggu lalu, dan Sabtu ini jadi panitia pelaksanaan mabit untuk kader kampus se-Bandarlampung.

Dengan semua kegiatan semenjak Juli lalu, saya tahu yang paling dirugikan adalah istri saya. Kegiatan yang mengantri tersebut terpaksa membuat saya membawa pekerjaan ke rumah, begadang sampai pagi. Bahkan sampai beberapa hari tidak tidur. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop dan hape, ketimbang ngobrol berdua, kayak di awal-awal bulan pernikahan dulu.

Celakanya, saya malah kepikiran kalau istri saya pasti mengerti dan mau menerima segala kesibukan tersebut. Ya, dia memang mengerti. Sampai pada suatu hari, saya tidak tahu kalau istri saya tidak masuk sekolah karena sakit. Sampai pada suatu hari, istri saya mendiamkan saya sampai  seharian, gegara dia melihat nama saya sebagai ketua pelaksana Homestay SMA yang pelaksanaanya tepat dengan HPL anak pertama kami.

IMG_20160817_131804

Saya benar-benar kacau.
Kacau sekali.

Beberapa minggu ini saya tersadar kenapa dulu pada saat Seminar Pranikah, Kang Canun menekankan bahwa cara mempersiapkan diri menjelang pernikahan adalah mengoptimalkan peran kita dalam setiap amanah yang kita miliki saat single.

Mengoptimalkan peran-peran tersebut, amanah-amanah tersebut, agar kita sudah bisa menghandle semuanya dengan baik. Sehingga ketika kita menikah dan amanah serta peran kita bertambah, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai menantu, sebagai saudara ipar, bisa kita laksanakan dengan baik, tanpa di’riweuh’kan oleh peran-peran yang sudah kita miliki sebelumnya.

Ah…

Beberapa minggu ini juga membuat saya paham arti dari wejangan Ummi Rita sebelum saya menikah,

“Fal, kamu harus pintar memposisikan diri. Saat di luar kamu mencari maisyah dan berdakwah. Tapi saat sampai di rumah, kamu harus siap mendengarkan istri kamu.”

Saya pikir mudah, tinggal mendengarkan. Tetapi kenyataannya sangat sulit dilakukan.

Ah….

Beberapa minggu ini juga menyadarkan saya, bahwa saya harus mulai memetakan skala prioritas. Berusaha untuk mendahulukan keluarga ketimbang pekerjaan. Saya sudah meminta pimpinan untuk mengurangi porsi saya di kepanitiaan pada semester ini. Dan AlhamduliLlah, para pimpinan mengerti keadaan saya.

Satu hal yang saya pahami dari beberapa minggu ini, bahwa peran sebagai guru, sebagai kawan, sebagai apapun, bisa kita ‘off’ kan sejenak untuk beberapa waktu, sesuai dengan keadaan dan situasi. Sedamgkan peran sebagai suami, sebagai anak, tidak bisa diperlakukan seperti itu. Peran keduanya membutuhkan seluruh waktu kita, seluruh pikiran kita, seluruh upaya dan daya kita. Kita tidak bisa menjadi suami dan anak secara part-time. Keduanya harus kita laksanakan secara full time. Ya, full time husband and son.

Rasanya baru 8 bulan menikah, tapi banyak sekali pembelajaran yang didapat.

Beberapa minggu ini juga menyadarkan saya, bahwa istri saya selain memiliki senyum yang manis, dia juga merupakan wanita yang sabar dan pemaaf sekali.

I’m so lucky that Allah chose her for me.

Saat keliling mengantar istri hari ini, satu lagi yang saya sadari. Saya tidak akan mampu mengemban segala peran tersebut bila tidak ada dia, yang selalu mendukung suaminya dari berbagai aspek.

Ah.. I’m so lucky that Allah chose her for me.

AlhamduliLlah.

Dear my beloved wife, I don’t how I’ll ever be able thank you for everything you’ve done.
But I promise, I’ll never stop trying.

Advertisements

2 thoughts on “Kita dan Lompatan-Lompatan Peran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s