Welcome To Our Journey, Azalia

My life is going to change.
I close my eyes, begin to pray,
Then tears of joy stream down my face.

24 November 2016

19.00

Amis.
Tumpukan pakaian di depan saya berbau amis. Darah yang mulai mengering membuat warna air yang saya siram memerah.
Amis.
Lantai kamar mandi mulai memerah dan berbau sama. Air mata menetes di pipi sementara saya mulai membersihkan darah yang mulai menggumpal di pakaian dan jilbab yang dipakai oleh Rita tadi.
“Ya Allah, sungguh luar biasa perjuanganmu, Zaujati. Sungguh luar biasa.”

05.25

“A, perutku kok tegang banget ya? Sakit banget.”
Saya langsung menuju dapur memperhatikan Rita yang baru keluar dari kamar mandi sambil mengelus perutnya.

“Mau ke bidan sekarang, yang?”
“Nanti saja A. Belum ada tanda-tanda mau lahiran juga. ”
“Oke, kita jalan?”
“Yuk..!!”

06.10

“A, kok mulesnya makin intens ya? Keluar bercak darah juga.”

Dheg.

“Yuk, kita ke bidan.”

img_20161124_213252

07.30

Kami masih menunggu di lahan parkir. Bidan Irma masih menangani pasien yang sedang berobat. Rita yang sudah tidak tahan dengan rasa sakit di perut akhirnya berjalan berkeliling mengitari saya. Sesekali saya ledek Rita yang nampak serius menahan rasa sakit.

“Lagi thawaf, yang?”

Rita hanya membalas dengan senyum. Saya yakin rasa sakit yang dia rasakan sangat menguji kesabaran.

08.45

“Belum ada bukaan lahir. Ini hanya kontraksi palsu. Terus ibu juga punya rahim yang tidak lurus dengan jalan lahir. Makanya rasa sakitnya lebih ekstrim.”

Saya terdiam. Saya bisa menangkap kekhawatiran di wajah Rita.

“Nanti kalau sakitnya terus menerus. Datang lagi saja ke sini.”

09.00

“Aa bisa ke sekolah?”
“Nanti dulu ya A, temenin saya dulu. kalau misalnya sampai dzuhur udah gak sakit lagi. Aa bisa ke sekolah.”
“Terus kita kemana sekarang?”
“Kita beli cemilan aja.”

09.20

“Masih sakit yang?” Saya memperhatikan Rita yang berjalan sambil memegang pinggangnya.
“Iya.”

Saat kami berkeliling di dalam toko swalayan, beberapa kali dia berhenti berjalan, merangkul dan menarik tangan saya kuat-kuat, menahan rasa sakit. Saya hanya mengulum senyum. Sesekali mengeluarkan joke. Berharap hal tersebut bisa mengurangi rasa sakit yang sedang Rita rasakan.

10.00

“Sakit banger, A”.
“Mau ke bidan lagi?”
“Abis dzuhur aja A. Bisa jadi masih kontraksi palsu.”

10.30
“hmmmm…”
“Ngapain yang?”
“Aku mau bikin jus mangga.”
“Ya Allah, yang.” Saya tertawa melihat bagaimana cara Rita mengalihkan rasa sakit yang dia rasakan. Jahat memang, tapi tingkah istri saya memang unik. Saya lalu mengambil pisau dan mulai mengupas mangga yang Rita pegang.

“hmm..” Rita asik memerhatikan saya yang sedang memotong mangga.
“hmmmm…” Rita memasukkan gula ke dalam blender.
“hmmmmmmmm..” Rita menyalakan blender.

Setiap dia memulai kegiatan, Rita menggumam dan menghela nafas, mencoba mengalihkan rasa sakit yang dia rasakan. Jantung saya mulai berdetak cepat, kok makin intens ya?

11.00
“Makin sakit A. Tapi kalau dipakai jalan, lumayan berkurang sakitnya.”
“Mau jalan-jalan di depan rumah?”
Ritapun mengangguk. Tidak berapa lama, saya menemani Rita thawaf di depan rumah.

“Makin sakit A. Hmmmm.. Haaa… Hmmm.. Haaaa..”
“Mau ke bidan sekarang?”
“Abis dzuhur aja A.”
“Nanti kamu gak kuat naik motornya, yang.”
“Hmmm… Ya udah.”

Jantung saya semakin berdetak kencang selama perjalanan menuju tempat praktik bidan Irma. Indescribable feeling. Rasanya campur aduk. What if? What if? AstaghfiruLlah.. Saya mulai menghapus perasaaan tidak enak dalam hari. In sya Allah lancar.

11.15
“Sudah mulai kerasa sekit terus mba?” Asisten bidan Irma mempersilakan kami masuk ke dalam ruang bersalin. “He’eh.” Rita menjawab singkat. Saya memapah Rita dari belakang.
“Tunggu sebentar ya, Ibunya masih di Puskes. Nanti saya telepon dulu.”

Duh… hati saya semakin berdetak semakin cepat.

“Tiduran aja dulu.” Sayapun membantu Rita untuk naik ke tempat tidur bersalin.

12.25

Menit terlama dalam hidup saya. Saya menahan tangis. Tidak tega melihat Rita yang menahan kesakitan.

“Tarik nafas, Yang. Istigfar.”
“Hmmmm… Haaa… AstaghfiruLlah… AstaghfiruLlah.”

12.40

Menit-menit terlama dalam hidup saya.

“ALLAHU AKBAR..!!!”
“Istighfar yang, tarik nafas.”
“Hmmm… Haaa… AstaghfiruLlah… AstaghfiruLlah.”

Sesekali saya memperhatikan poster-poster yang ditempel di dinding, tentang proses penanganan persalinan. Hal yang sengaja saya lakukan untuk mengalihkan perhatian dari Rita. Sungguh saya tidak tahan melihat istri saya menahan rasa sakit seperti itu.

Saya melirik jam dinding yang dipasang di ranjang bersalin. Waduh. saya belum dzuhur-an.

“Aa sholat dulu ya, yang.”
“He’eh. Doain aku ya a.”

Saya mengangguk.

13.05

“Ya Allah. Sungguh Engkau Yang Maha Mengatur segalanya. Ridhoi apa yang sedang istri hamba rasakan. Lancarkan persalinannya. Sehatkan istri dan anak hamba.

Ya Allah. Sungguh hanya kepada Engkau kami meminta.

Ya Allah.”

Tangis membasahi pipi. Saya sudah tidak tahan lagi. Dada rasanya terasa sesak. Takut, senang, sedih, khawatir, semuanya campur aduk.

13.30

“Gimana? Sakitnya makin kerasa ya?” Bidan Irma berjalan menuju bagian perlengkapan di dalam ruangan bersalin. Beliau mengambil sarung tangan karet dari wadah kemudian memakainya.

“Kita lihat sebentar ya, kita cek sudah bukaan berapa.”

Saya menggenggam erat tangan istri saya.

“Wah. sudah bukaan 3.” Bidan Irma kemudian membersihkan sarung tangan yang dia gunakan di kamar mandi di dalam ruangan bersalin.

“Masnya pulang saja dulu. Ambil perlengkapan untuk bayi dan ibunya. Sudah disiapkan, kan?”
“Sudah Bu.” Saya melepas genggaman di tangan Rita, “Aa pulang dulu ya.” Rita hanya mengangguk.

13.40

“Siapkan baju bayinya mas. Baju, popok, sama bedongnya?” Bidan Irma masih di dalam ruang bersalin ketika saya datang kembali.

“Guritanya gak usah, Bu?”
“Gak usah. Nanti saja.”

Saya mulai mengacak isi dalam tas bayi yang saya bawa. Lupa sama sekali posisi saya meletakan barang yang diminta oleh Bidan Irma. Padahal dua malam sebelumnya, saya dan Rita merapikan dan memasukkan setiap keperluan bayi dan persalinana ke dalam tas dengan apik.

Bidan Irma berpindah menuju ruang tindakan bayi, membawa pakaian yang saya serahkan sebelumnya.

“Aa sms Bapak di Banten ya. Mama di Ciamis juga.”
“Jangan lupa sms Linda A.”
“Iya.”

13.55
“Perkiraan lahir jam berapa ya Bu?” Rita bertanya kepada bidan Irma yang berjalan di depan kami. Saya dan Rita sedang duduk di samping kolam ikan, berusaha mereduksi rasa sakit yang Rita rasakan dengan berkeliling di dalam klinik bersalin tersebut.

“Ashar sampai sebelum maghrib, in sya Allah. Gimana? pegel ya tidur terus.”
“Iya Bu. Kerasa sakitnya kalau duduk.”
“Iya, gak apa-apa. Dibawa jalan-jalan aja dulu. Itu membantu jalan persalinan.”

Saya mencoba menghibur Rita dengan memberi kue yang saya kunyah pada ikan di dalam kolam.

“Ih jorok a.”
“Hehehehe….”

14.05

Menit-menit terlama dalam hidup saya.

“ALLAHU AKBAR.. Sakit A.”
“Sabar yang. Istighfar… Tarik nafas.” Saya menggenggam tangan Rita kuat-kuat. Sungguh tidak tega melihatnya menahan rasa sakit yang saya sendiri tidak bisa membayangkan rasa sakitnya.

14.10

Menit-menit terlama dalam hidup saya.
“Jangan tidur yang, jangan tidur. Kamu harus sadar.”
“Sakit A.”
“Sabar yang, istighfar. Istighfar. In Sya Allah balasannya surga.”
“Astaghfirullah..” Suara Rita semakin mengecil. Tampak bulir-bulir air mata menetes. Saya mulai berkaca-kaca, segera saya hapus air mata yang akan menetes. Saya tidak boleh menangis di depan Rita. Tidak boleh.

14.15

Menit-menit terlama dalam hidup saya.
“ALLAHU AKBAR.. Sakit A.”
“Sabar yang, istighfar. Istighfar.”
Sesekali saya lihat ke bagian kaki Rita. Darah segar mulai merembas ke gamis yang Rita kenakan.
Ya Rabb. Andai rasa sakit tersebut bisa dibagi kepada saya.

14.20

Menit-menit terlama dalam hidup saya.
“Hmm… A kayaknya ketubannya pecah. Tadi kerasa ada yang pecah.”
“Aa panggil bidannya.”
“He’eh.” Saya melepas genggaman tangan Rita, bergegas mencari Bidan Irma.

“Gimana Mas?”
“Kerasa ada yang pecah Bu.”
“Oh ya.”

14.25

“Iya, ketubannya sudah pecah. Kita mulai mengeden ya . Nanti tarik nafas dalam-dalam. Ketika kerasa kontraksi, langsung mengeden. Dibuka matanya biar gak bengkak. Ditutup mulutnya biar tenaganya terpusat di bawah.” Bidan Irma memberikan briefing singkat.

DHEEG.. DHEEG. Jantung saya rasanya mau copot.

“Masnya bisa angkat kepala mbanya.” Dengan kikuk, saya mengangkat bantal yang ditiduri Rita, berusaha memposisikan kepala Ritadengan tinggi secukupnya.

“Ayo mba…” Bidan Irma memberikan instruksi.
“MMMMMMMM…” Rita mulai mengeden dengan sekuat tenaga.

“Iya bagus. Istirahat dulu.” Bidan Irma mengelus-elus perut Rita. Menstimulasi kontraksi rahim, kalau tidak salah.

“MMMMMMMMM…. MMMMMMMM…”
“Ayo terus mba. Ini ujung kepalanya sudah terlihat.”
Saya menatap wajah Rita dengan perasaaan yang campur aduk. Ayo yang, ayo yang. Kamu bisa. Kamu kuat.

“Iya istirahat dulu.”
“hmmm.. haaa… hmmm. haaa.” Rita mengatur nafasnya. Keringat membanjiri muka dan tangan saya. Kaki saya terasa kebas.

“MMMMMMMM… MMMMMMMM.. MMMMMMMMM.”
“Ayo terus. Bagus.”

Kepala sedikit-demi-sedikit mulai keluar.

“MMMMMMMM.. MMMMMMMM… MMMMMMMM.. MMMMMMMMM. ”

Bahu mungil mulai keluar. Leher dan kepala sempurna keluar.

“MMMMMMMMMMMMMMMMMMM…..”

Tubuh mungil itupun keluar sempurna.

EAAAAAAAAAAAAA… EAAAAAAAAAAAA.. Suara tangis mengisi seluruh udara. Tubuh mungil kemerahan itu menghasilkan suara yang cukup keras. Saya tengok jam dinding. tepat pukul 14.40, sosok yang dirindu berbulan lalu telah hadir bersama kami.

Saya menatap wajah Rita, ada tangis haru bercampur keringat di wajahnya. Mata saya mulai berkaca-kaca.

“BarakaLlah yang.”

14.50

“Kok dia diem A.”
“Iya ya Yang.” Saya mulai panik melihat tubuh mungil yang tadinya merah mulai membiru. Tanda pernafasanpun berhenti.
“Bu, kenapa ini Bu?” saya berseru.
Bidan Irma yang saat itu sedang membersihkan ari-ari, bergegas menuju ranjang bersalin. Mengangkat bayi kami dari tubuh atas tubuh Rita.
“Ayo dek, kenapa dek?” Bidan Irma memberikan bantuan pernafasan dengan alat kecil. Memijat-mijat dada bayi kami. Masih tidak ada respon. Badannya semakin membiru. Rita mulai berseru panik. Jantung saya berdetak kencang. Ya Rabbi.

“Ayo dek, bangun dek.” Bidan irma masih memberikan bantuan, memijat dada bayi kami. Tidak berapa lama, dadanya mulai naik turun, bayi kami terbatuk. EAAAAAAAA…

AlhamduliLlah. Bidan Irma meletakkan kembali bayi kami ke atas tubuh Rita, melanjutkan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang tertunda. Ya, kami baru sadar bahwa tadi bayi Aza menghadapkan mukanya ke badan Rita, sehingga hidungnya tersumbat.

15.10

Saya bergegas menuju kamar inap setelah bidan Irma mempersilakan saya untuk mengazani bayi kami yang sudah dimandikan. Bidan Irma hendak membersihkan Rita.

Saya tidak bisa berkata banyak ketika melihat betapa cantiknya putri kami, hati saya bergemuruh, haru.

Saya mendekatkan diri ke telinga kanan bayi kami, mulai mengazani dengan lirih. Setelah itu saya mengambil kurma yang sudah kami siapkan di dalam tas, mengunyah dengan hati-hati satu butir kurma, kemudian menempelkan kunyahan tersebut ke langit-langit mulut bayi kami. BismiLlahirrahmanirrahiim. Dengan cepat bayi kami menyedot tangan saya. Saya memperhatikan. Mengelus pipinya. Menciumi keningnya.

Yeah, I know,
My life is going to change.

I close my eyes, begin to pray,
Then tears of joy stream down my face.
Welcome to our journey, Azalia.

Kemudian Azanpun berkumandang di masjid dekat klinik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s