Azalia dan Bercerita

Saya dan istri sudah berkomitmen semenjak awal pernikahan bahwa kami tidak akan memiliki pesawat televisi. Sebagai gantinya kami mencoba untuk memfasilitasi hobi kami yang ‘kebetulan’ sama, membaca buku.

Kamipun mempunyai harapan Azalia akan memiliki kegemaran yang sama. Maka semenjak di dalam kandungan rajinlah (rajinan uminya Aza sebenarnya :P) kami bergantian membacakan cerita. Dari novel-novelnya Tere-Liye, sampai bukunya Ustadz Salim. Bahkan sesekali saya menceritakan apa yang saya ajarkan di sekolah, tentang medan listrik dll.
img_20161205_200549
Kalau sudah tendang-tinju perut uminya, senang sekali, artinya dia merespon apa yang kami ceritakan.

Sempat terpikir untuk membeli boneka yang bisa muraja’ah dan ada fitur berdongengnya, lalu saya kepikir, “Ya, sebenarnya bukan masalah diserap apa tidaknya apa yang disampaikan. Tapi lebih kepada membuat ikatan yang kuat antara kami dan Azalia.” AlhamduliLlah, sekarang Azalia sudah lahir. Kegiatan bercerita rutin kami paksa sempatkan. Umu Aza kebagian menceritakan kisah para Nabi dan saya pribadi lebih senang bercerita tentang slice of life atau school life.
Ya, semoga istiqomah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s