Kisah Cinta Pak Camat

Beberapa bulan lalu, sebuah pesan masuk di IG. Sebuah akun yang sama sekali tidak saya kenal.

Mau menanyakan sesuatu yang sifatnya rahasia. Saya cek akunnya, dari Aceh.

Oke. Berarti ini ada kaitannya dengan salah satu kakak-kakak di Serambi Mekkah sana.

Sayapun membalas.

“Ada yang ana mau tanyakan perihal Ujang.”

Nah kan bener.

“Afwan.. Ana lihat di instagram.. Antum sepertinya mengenal bang Ujang..pernah satu PPG ya? Mungkin antum berkenan untuk memberikan sedikit informasi mengenai beliau dari sudut pandang antum. Ana sedang taaruf dengan beliau.”

Widih… Keren banget Akang gue. Gak bilang-bilang.

“Dan sudah bertukaran biodata. Hanya saja beliau adalah orang asing yang sebelumnya tidak pernah ada hubungan apa-apa dengan ana. Dan ana baru pertama kali ta’aruf dengan ikhwan. Jadi ana harap antum berkenan untuk membantu ana. Syukran jazakallah.”

Saya tarik nafas panjang. Terus tanya pendapat istri baiknya gimana. Istri cuma bilang,

“Ya udah, jelasin aja Ujang orangnya kayak gimana.”

Maka sayapun mulai mengetik,

“AlhamduliLlah.. Tapi afwan jika nanti kurang representatif, kami memang satu tahun seasrama, dan ini dari sudut pandang ana.”

Sayapun mulai sedikit menjelaskan tentang Akang yang satu ini, mulai dari sikapnya, tanggungjawabnya, tarbiyahnya, dan tentu saja sikap jeleknya.. Hehehe..

Terakhir saya mendoakan semoga dilancarkan prosesnya.

Akhir November lalu, grup PPG Fisika diramaikan oleh salah satu serdadu yang akan menikah di bulan Desember ini, tapi orangnya belum mau launching. Saya senyum-senyum saja.

Awal Desember ada undangan yang dibagikan, baru orangnya mengakui. Setelah didesak, akhirnya mau bercerita gimana kronologisnya sampai fiks sama akhwat sana.

“Setelah aku memantapkan diri, kuberanikan diri sampaikan keinginanku langsung sama dia, melalu WA, meminta langsung ketemu orangtuanya untuk silaturrahim dan meminta izin untuk menikahinya. Dia minta waktu 4 Minggu untuk istikharah dan mencari informasi perihal aku. Empat minggu  kemudian, dia beri kabar bahwa dia bersedia berta’aruf, tapi belum menerima sepenuhnya dan mengizinkan aku silaturrahim ke rumah, untuk bertemu dengan ayahnya. Aku datang sendiri dan setelah basa basi langsung meminta ke orang tua dia untuk menikahinya…..”

Bacanya saja terkagum-kagum.

“Dan ternyata orang tuanya menerima…..”

“Aku dulu 4 tahun lalu pernah satu organisasi dengan dia. Kebetulan pas aku ketua dia baru masuk dan kami belum pernah berkomunikasi sama sekali.”

“Mungkin sudah diatur jodohnya sama Allah.”

AlhamduliLlah.. Memang kalau sudah jodoh, walaupun sudah ke Anambas, nyasar ke Bandung, ternyata jodohnya satu organisasi dulu, walaupun nda pernah komunikasi.

Begitulah kalau Allah sudah menetapkan sesuatu, salah satunya jodoh. Kalau kata Ustadz Salim, jodoh kita itu orangnya sudah Allah tentukan, cara menjemputnya yang terserah kita. Mau dengan cara yang mengharap ridho dari Allah atau sebaliknya.

Begitulah kalau Allah sudah menetapkan sesuatu. Ketika kita mengharap ridho Allah, segala sesuatunya pasti Dia mudahkan. Rasanya mengetahui cerita Kang Ujang ini, saya makin yakin hadist RasuluLlah,

“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah.” [H. R. At-Tirmidzi]

Barakallahulaka wabaraka  ‘alaika wajama’a bainakuma fii khair.

Selamat Pak Camat.!!

Selamat menyulam cinta,

Menapaki tangga,

Menuju surga-nya,

Berdua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s