Jalan ini

Saya membayangkan diri saya bertahun lalu; polos, dekil, tidak pintar-pintar amat, dan bercita ingin menjadi dokter. Hingga saya dihadapkan dengan kenyataan bahwa menjadi tenaga medis itu bukan perkara mudah. “Jadi guru fisika saja.” Maka bertahun saya habiskan untuk belajar menjadi guru. Tapi passion itu belum muncul juga. Hey, it’s okay. Kelak ada masanya gairah itu muncul, lagipula mengikuti apa kata orangtua tidak ada ruginya.
Sampai tiga bulan pengalaman bermukim di Cahyou Randu. Di antara kebun karet dan singkong, menenteng triplek whiteboard yang dibagi 6, dari dusun ke dusun, mengajar IPA dan matematika untuk anak sekolah dasar, setiap sore. Gairah itu muncul.
Perjalanan Cahyou Randu ke Pagar Dewa, di antara perkebunan sawit dan tanah-tanah kosong. Jalan yang berbatu. Gairah itu makin menyengat, “Di Indonesia pasti masih banyak daerah-daerah yang susah aksesnya, bagaimana anak-anak di sana belajar?” Allah menjawab dengan memberikan pengalaman langsung. Satu tahun hidup di selatan Indonesia, merasakan sendiri perjuangan pendidikan di sudut nusantara. Di antara indahnya alam ciptaan Yang Maha Kuasa, saya belajar banyak hal; toleransi, budaya, bahasa, dan lainnya. Hingga gairah itu terus menyengat, menunjukkan arti dari pengabdian yang sebenarnya.

IMG_20170313_213050_543
Gairah itu membawa saya ke Tanah Pasundan, di antara Rusunawa, Gedung Jica, Jalan Belitung No 8, untuk belajar kembali, untuk memahami kembali esensi menjadi seorang guru. Hingga gairah itu membakar hati, hingga air mata meleleh, bahwa menjadi guru menghadirkan tanggung jawab moral yang besar.
Gairah itu masih ada sampai saat ini, terkadang redup, terkadang menyala terang.
Saya tahu, ketika saya terduduk sebentar menunggu siswa mencatat, melemparkan lelucon garing, yang biasanya direspon dengan tatapan bermakna, “Apa sih, Bah?” Atau ketika saya terduduk mendengarkan curahan hati dan celotehan mereka.
Saya tahu, saat-saat seperti itu menjadikan gairah itu semakin membara.
Saya ingin terus seperti ini, memberikan yang terbaik yang saya bisa kepada siswa. Mendidik sekaligus terdidik. Memberi teladan sekaligus meneladani.
Menjadi guru seutuhnya.
Yeah, I wanna be remembered as Naufal who teaches.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s