Sukses Itu

Sukses itu relatif, tiap orang memiliki definisi masing-masing, bergantung pada sudut pandang orang tersebut. .
.
.

Ada yang bilang sukses itu punya banyak uang, kuliah di PTN favorit, bisa jalan-jalan ke luar negeri. Ada juga yang bilang kalau bisa pergi haji tiap tahun termasuk sukses. Ada pula yang beranggapan bahwa melakukan hal-hal kecil dengan baik, itu juga sukses. Dan begitu banyak lagi pendapat orang tentang sukses. .
.
PhotoGrid_1502208100444.jpg

Ya.. Tiap orang memiliki definisi masing-masing tentang sukses. .
.
.
Continue reading

Advertisements

Bentuk Rasa Syukur

“….barangsiapa yang bersyukur maka akan Aku tambahkan nikmat, tetapi barangsiapa kufur (tidak bersyukur) atas nikmat, sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim:14) .
.
.
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukan rasa syukur kita. Namun, yang paling pokok dan penting adalah dengan cara memanfaatkan dan mendayagunakan segala pemberian Allah untuk hal-hal yang diperintahkan-Nya. .
.

IMG_3176.JPG
Mari bersama-sama memanfaatkan potensi yang kita punya untuk melaksanakan amal-amal kebaikan. Berbenah diri, menjadi diri yang lebih baik. Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah.

Jealousy

Saat satu tahun akademik saya lewati pertama kali di Sekolah Global Madani sebagai Homeroom Teacher (HRT), saya harus menghadapi jealousy syndrome dari anak-anak yang tidak lagi menjadi bagian dari kelas saya di tahun akademik berikutnya.

Sejujurnya saya merasa geli melihat tingkah mereka saat itu. Ada yang bilang saya pilih kasih, nda care lagi, bahkan sampai ada yang menampilkan prilaku ‘ngambek’ yang parah. Tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka paham bahwa siapapun HRT-nya, menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri adalah tanggung jawab diri sendiri, bukan karena diminta oleh HRT.
Foto Ahmad Naufal Umam.
Satu tahun akademik terlewati kembali. Mereka lulus dengan baik. Saya bangga dengan pencapaian akademik dan perilaku mereka, baik yang menjadi bagian dari kelas saya maupun yang tidak.

Continue reading

Menjadi Guru

Pagi ini, setelah membaca Surat Al-Kahf, saya meminta seorang anak untuk membacakan terjemah ayat ke-10 dari surat tersebut. Saya menceritakan kepada anak-anak bahwa dalam ayat tersebut terdapat doa yang dibaca oleh pemuda Kahfi ketika masuk ke dalam gua. Doa yang bisa dilafalkan agar Allah memberikan rahmat-Nya dan menyempurnakan setiap urusan. Seperti ujian dan urusan-urusan lainnya. Kamipun melafalkan doa tersebut bersama-sama.
Lalu pelajaran pertama dimulai.

Setelah pergantian jam, sebuah buku catatan terbuka di atas meja salah satu anak, potongan ayat yang kami baca tadi lengkap dengan terjemahnya tertulis di sana. Ternyata tanpa diminta, anak tersebut menuliskan potongan ayat tersebut.ย 

Foto Ahmad Naufal Umam.

Saya menghela nafas. Ah.. sungguh benarlah menjadi guru itu bagai berada di ladang amal yang terhampar luas. Saat kita memberikan kebaikan, maka kebaikan itu akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan mengalir terus menerus kepada kita. Namun sebaliknya, menjadi guru juga bisa menjadi beban yang berat. Karena ketika yang kita bagikan adalah keburukan, maka hal itu juga akan menjadi dosa jariyah yang kelak konsekuensinya terus mengarah kepada kita.

Menjadi Guru

Menjadi guru adalah proses pembelajaran seumur hidup.

Dengan menjadi guru, kita belajar untuk memahami tiap pribadi siswa, yang kita harus sadari bahwa tiap individu memiliki karakteristik yang berbeda, kecenderungan yang berbeda, bakat yang berbeda, ketertarikan dan minat yang berbeda. Maka tugas kita adalah belajar untuk memahami tiap perbedaan tersebut, untuk mampu mendidik dengan adil.

april_2017-04-13-20-14-51-730.jpg
Dengan menjadi guru, kita akan terus meningkatkan kapasitas dan kualitas keilmuan dan pembelajaran kita. Kita dituntut tidak hanya paham suatu konsep dan teori tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan konsep dan teori tersebut untuk dapat dipahami oleh siswa, dengan berbagai cara dan metode. Karena terkadang tiap konsep dan teori membutuhkan cara dan metode yang berbeda untuk bisa tersampaikan dan dipahami oleh siswa dengan baik.

Continue reading

For My Beloved Students (2)

Dalam sebuah perjuangan, gagal terkadang menjadi suatu kepastian. Berhasilpun seperti itu.
Tak jadi masalah berapa kali kalian gagal, yang jadi masalah adalah ketika gagal lalu kalian berhenti berusaha. . “Mungkin Allah tidak ridho.” Nak, jangan berpikiran seperti itu. Jika RasuluLlah pikirannya seperti kalian, menganggap kegagalan dan cobaan sebagai ukuran ridho tidaknya Allah, barangkali sampai saat ini kita tidak akan merasakan hasil dakwah beliau.
Sungguh ridho Allah tidak terletak pada berhasil tidaknya, sulit mudahnya, suka dukanya. Ridho Allah terletak pada bagaimana kalian mengejar cita-cita kalian dengan tetap taat kepada-Nya .. . “Rasanya tidak sepadan. Sudah berusaha terus, tapi hasilnya kok gini.” Nak, jangan berpikiran seperti itu.
Jadikan evaluasi, yakinlah Allah menyiapkan yang terbaik buat kalian. Ikhlaskan segala usaha kalian sebagai ibadah buat Allah saja. .

Sungguh, doa terbaik selalu untuk kalian. Semoga kalian menjadi ahli ilmu dan ahli kebaikan dimanapun kalian berada.

IMG_20170601_164158_306.jpg

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q. S. Al-Baqarah : 286)

Evaluasi Ramadhan (2)

Allah sudah menegaskan dalam firman-Nya bahwa kewajiban kita berpuasa di bulan ramadhan adalah untuk menjadikan diri kita orang-orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah 183). .

Agar evaluasi Ramadhan kita sesuai dengan sasaran, penting bagi kita untuk mengetahui indikator apa saja yang dimiliki oleh orang yang bertaqwa. Yakni, orang-orang yang Allah sebutkan dalam ayat-ayat awal surat Al-Baqarah.
.
IMG_20170607_063206_431.jpg
Allah menyebutkan bahwa orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman pada hal yang ghoib. Dimana mereka menjadikan setiap penghambaan, ibadah dan aktivitas merupakan penjelmaan keimanan kepada Allah Yang Maha Ghoib. .

Orang yang bertaqwa adalah orang yang melaksanakan shalat. Tentu saja, orang yang bertaqwa tidak hanya melaksanakan shalat sebagai penggugur kewajiban semata, akan tetapi sebagai kebutuhan mereka sebagai hamba Allah SWT. .

Orang yang senantiasa menginfakkan sebagian rezeki yang telah diberikan padanya adalah orang yang bertakwa. Mereka sadar bahwa di dalam rezeki yang diberikan pada mereka terdapat hak-hak orang lain yang harus diberikan. .

Orang yang bertakwa juga beriman kepada Kitab Allah. Mereka meyakini semua yang terkandung dalam Al-Qur’an dan berupaya untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka. .

Orang bertakwa meyakini adanya hari akhir. Keyakinan ini menimbulkan perilaku yang senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan terhadap kelalaian yang telah dilakukan, serta penjagaan diri yang baik agar tidak melakukan kelalaian yang sama. .

Ramadhan sudah memasuki hari-12, Sudahkah ‘gemblengan’ Ramadhan membuat 5 tanda-tanda ini mulai tampak dan membekas dalam diri kita? Ataukah Ramadhan hanya sekedar rutinitas tahunan saja? . (Rohis SMA Global Madani 2016/2017 saat mengikuti Tarhib Ramadhan 1438 H)