Bimtek Guru Fisika Provinsi Lampung

AlhamduliLlah.
Diberikan kesempatan untuk belajar mewakili MGMP Fisika Kota Bandarlampung dalam Pelatihan TIK Berbasis Internet untuk guru fisika se-Lampung.

Hari pertama dilatih menggunakan fitur yang ada di Rumah Belajar dan TV Edukasi, dua portal pembelajaran yang disediakan oleh Kemdikbud dan masih belum optimal dimanfaatkan oleh guru-guru. Saya sendiri baru ‘ngeh’, ternyata lumayan lengkapdan rapih.. Jadi nda usah lagi pusing-pusing nyari media dan sumber pembelajaran lewat mbah Google.

Hari kedua diajari gimana serunya memakai smartphone untuk membuat video pembelajaran. Dan memanfaatkan fitur Google Form untuk membuat ujian berbasis online.

Dua hari yang membuat bersyukur karena bisa belajar banyak. Lebih bersyukur lagi ketika saya tahu bahwa saya peserta paling muda dan satu-satunya guru Non-PNS.17553872_10210592859689705_3977961039590213517_n

Manfaat Storytelling pada Bayi

Beberapa riset tentang reading and sharing books with babies telah banyak dilakukan, dan semuanya menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara perkembangan kecerdasan dan otak dengan kebiasaan membacakan cerita dan buku pada bayi.
Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Saloni Krishnan dan Professor Mark H. Johnson, Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London.

IMG_20170312_060154_620

Mereka menemukan bahwa kebiasan orang tua untuk membacakan buku pada bayi usia 3-4 bulan, dimana pada usia tersebut bayi mulai mengalami perkembangan aktivitas visual dan skill perhatian dasar, memberikan dampak positif pada kemampuan berkomunikasi dan berbahasa pada tahapan usia selanjutnya.
Diana Gerald, CEO dari Book Trust, mengatakan bahwa membacakan buku pada bayi akan membangun ikatan yang kuat antara orangtua dengan bayi tersebut. Selain itu, hal ini juga memberikan peluang perkembangan kecerdasan berpikir lebih cepat, sehingga mampu meningkatkan skill-skill kecakapan hidup lebih baik.

Jalan ini

Saya membayangkan diri saya bertahun lalu; polos, dekil, tidak pintar-pintar amat, dan bercita ingin menjadi dokter. Hingga saya dihadapkan dengan kenyataan bahwa menjadi tenaga medis itu bukan perkara mudah. “Jadi guru fisika saja.” Maka bertahun saya habiskan untuk belajar menjadi guru. Tapi passion itu belum muncul juga. Hey, it’s okay. Kelak ada masanya gairah itu muncul, lagipula mengikuti apa kata orangtua tidak ada ruginya.
Sampai tiga bulan pengalaman bermukim di Cahyou Randu. Di antara kebun karet dan singkong, menenteng triplek whiteboard yang dibagi 6, dari dusun ke dusun, mengajar IPA dan matematika untuk anak sekolah dasar, setiap sore. Gairah itu muncul.
Perjalanan Cahyou Randu ke Pagar Dewa, di antara perkebunan sawit dan tanah-tanah kosong. Jalan yang berbatu. Gairah itu makin menyengat, “Di Indonesia pasti masih banyak daerah-daerah yang susah aksesnya, bagaimana anak-anak di sana belajar?” Allah menjawab dengan memberikan pengalaman langsung. Satu tahun hidup di selatan Indonesia, merasakan sendiri perjuangan pendidikan di sudut nusantara. Di antara indahnya alam ciptaan Yang Maha Kuasa, saya belajar banyak hal; toleransi, budaya, bahasa, dan lainnya. Hingga gairah itu terus menyengat, menunjukkan arti dari pengabdian yang sebenarnya.

IMG_20170313_213050_543
Gairah itu membawa saya ke Tanah Pasundan, di antara Rusunawa, Gedung Jica, Jalan Belitung No 8, untuk belajar kembali, untuk memahami kembali esensi menjadi seorang guru. Hingga gairah itu membakar hati, hingga air mata meleleh, bahwa menjadi guru menghadirkan tanggung jawab moral yang besar.
Gairah itu masih ada sampai saat ini, terkadang redup, terkadang menyala terang.
Saya tahu, ketika saya terduduk sebentar menunggu siswa mencatat, melemparkan lelucon garing, yang biasanya direspon dengan tatapan bermakna, “Apa sih, Bah?” Atau ketika saya terduduk mendengarkan curahan hati dan celotehan mereka.
Saya tahu, saat-saat seperti itu menjadikan gairah itu semakin membara.
Saya ingin terus seperti ini, memberikan yang terbaik yang saya bisa kepada siswa. Mendidik sekaligus terdidik. Memberi teladan sekaligus meneladani.
Menjadi guru seutuhnya.
Yeah, I wanna be remembered as Naufal who teaches.

Terima Kasih, Zaujaty

Akhir februari 2015,
Saat aku memilih untuk tidak memilih,
Memilih untuk menyerahkan urusan jodoh kepada Yang Maha Mengatur.
Memilih untuk menuliskan asa pada dua halaman kertas A4, yang kulampirkan dengannya selembar pasfoto.
Rasa khawatir senantiasa hadir,
Tapi selalu terusir,
Saat kulipat doa rapih,
Aku memilih untuk tidak memilih,
Mempercayakan bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik,
kita hanya perlu berhusnudzon pada-Nya.

IMG_20170226_195559_272.jpg

Lalu ada nazhar yang membuat hati bedegup,
Ada ta’aruf yang membuat wajah tersipu,
Ada khitbah yang memantapkan keyakinan,
Ada akad yang menyatukan dua asa.
Selalu ada rasa khawatir disela-selanya,
Tapi selalu terusir,
Saat kulipat doa,
Dengan rapih.
Aku memilih untuk tidak memilih,
Meyakinkan diri semuanya telah Dia atur dengan sebaik-baiknya pengaturan,
Kita hanya harus ikhtiar dan berhusnudzon pada-Nya
Lalu sosok mungilpun hadir,
Setelah 46 minggu 3 hari penantian,
Setelah 5 jam degup jantung berpacu,
Membawa kekhawatiran yang baru.
Ah… Sampai sekarangpun rasa khawatir itu selalu hadir,
Namun, tidak lama.
Selalu terusir.
Pada doa yang terlipat rapih.
Pada senyum yang menyambut di balik pintu,
Senyum yang manis milikmu itu.
Aku memilih untuk tidak memilih,
Membiarkan rasa khawatir itu hadir,
Bersama harap yang bersemi kemudian, seperti yang sering kau ingatkan,
Tiada satupun yang perlu dikhawatirkan,
Ketika Allah membersamai kita.
Terima kasih Zaujaty.

Bersyukur dan Bersabar

Nak,
Allah selalu punya rencana terbaik bagi kita.
Bersyukur dan bersabar.
Karena apa yang telah Allah takdirkan untuk kita tidak akan keliru kepada orang lain, begitu sebaliknya.
Bersyukur dan bersabar.
Saat mendapatkan anugerah, ataupun
Saat ditunda pengabulan doanya.
Tidak perlu berlarut dalam kegembiraan,
Tidak perlu menepuk dada penuh kebanggaan,
Sehingga lupa hakikat bahwa setiap pemberian itu asalnya dari Allah semata.
Tidakkah terang bagi kita bagaimana Allah menenggelamkan Qarun bersama harta, yang dulu dia sombongkan berasal dari ilmu dan kemampuan yang dia miliki?

img_20161115_102444_hdr
Tidak perlu bersedih,
Tidak perlu meratap,
Sehingga lupa hakikat bahwa setiap ujian itu juga asalnya dari Allah.
Tidakkah jelas bagi kita bagaimana Ayyub Allah muliakan sebagai hamba yang paling taat, kerana kesyukurannya atas setiap cobaan yang Allah berikan?
Sungguh, Allah mempersiapkan yang terbaik bagi kita.

Nimatnya Menjemput Rezeki Setelah Menikah

Hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Berangkat ke sekolah, mengajar, menghadapi siswa dengan segala ‘keunikan’nya, berhadapan dengan tugas dan amanah yang harus dilaksanakan. Sampai tidak terasa waktu ashar.
Aktivitas berlanjut dengan belajar tambahan persiapan UN/SBMPTN untuk kelas XII, sampai senja mulai malu-malu menenggelamkan dirinya.
Dari sekolah mampir ke Bimbel, ada jadwal mengajar satu kelas. Rehat sejenak saat maghrib dan isya. Digit jam di ponsel menunjukkan lebih beberapa menit dari pukul 20.00 saat si jingga saya kendarai menembus jalanan, pulang ke rumah.
Sungguh aktivitas yang biasa, untuk hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, hati terasa ringan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menjalankan satu tugas ke tugas yang lain. Tidak terasa berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang tiap kali pulang selalu dengan lunglai seperti habis jadi korban tabrakan beruntun (alah).

img_20170217_205931_791Sungguh, terasa ringan.
Bisa jadi ini karena ada yang membukakan pintu dan membalas salam ketika sampai,
Bisa jadi ini karena ada senyum dan obrolan ringan ketika menyimpan barang,
Bisa jadi karena ada segelas teh yang tersuguh,
Bisa jadi karena ada sosok yang tertawa-tawa, berceloteh tanpa arti, lalu tertidur di pangkuan.
Bisa jadi karena setiap hal yang menanti di rumah ini menjadikan semua aktivitas terasa ringan.
Ya, sungguh menjemput rejeki terasa berbeda rasanya setelah menikah.
Nikmat sekali.

Qaulan Sadida

Kebiasaan mengajak Azalia getting involve dalam aktivitas kami sudah kami lakukan semenjak dia di dalam kandungan.
“Abah berangkat dulu ya dek.”
“Umi shalat dulu ya dek.”
“Nanti tilawah sama Abah ya dek.”
Biasanya akan ada respon berupa tendangan atau gerakan di dalam perut uminya.

Kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang. Biasanya ketika Azalia sedang ‘ngajak’ main atau ngobrol, terus saya pamit, “Abah ke mesjid dulu ya Dek.” Dia akan anteng sampai saya kembali pulang ke rumah.
Begitu juga jika uminya pamit, “Umi shalat dulu ya.” Azalia yang tadinya ‘aktif’ akan diam menunggu uminya shalat.

Kejadian-kejadian seperti ini banyak terjadi dan saya mikirnya, “Ah.. Cuma kebetulan saja. Azalia belum paham.” Namun, kejadian tadi sore membuat saya recall semua kejadian sebelumnya dan berkesimpulan bahwa pemikiran saya salah.

16406675_10210154330406747_9141404414494545194_n

Jadi ceritanya tadi pagi kami sepakat bahwa Azalia akan stay dengan saya saat Uminya hadir agenda pekanan. Tapi sebelum uminya berangkat, kesepakatan tadi batal, karena khawatir kalau Azalia bakal menangis. Azalia akan ikut uminya seperti pekan-pekan sebelumnya.

Continue reading