Ketika Sosok Itu Hadir

april_2017-03-24-17-49-36-749Yakinlah,
Saat sosok mungil tersebut Allah hadirkan ke dalam kehidupan kita,
Akan ada banyak hal yang berubah.
Tidak hanya sekedar perubahan waktu tidur,
Perubahan skala prioritas,
Perubahan kebiasaan,
Tapi juga perubahan cara pandang kita terhadap dunia.
You just found yourself take anything into consideration.
You pray a lot.
Hope a lot,
Not for yourself,
but for your child,
Your family. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau… “(Q. S 2 : 128)

Hijrah

Kehidupan bagi seorang muslim haruslah menunjukkan grafik linear, dimana semakin hari harus semakin naik, kalaupun harus turun, maka akan naik kembali lebih baik dari sebelumnya.

Maka ketika ada yang menyinggung masa lalu kita,
Mulai dari perilaku yang tidak baik,
Aktivitas yang pernah kita lakukan,
Pemahaman yang tidak lurus,
Dan lain sebagainya.
Tak perlulah kita marah.
Justru bersyukur.
Artinya ada yang mengingatkan keadaan kita dulu dan alangkah meruginya kita jika kembali seperti keadaan tersebut.FB_IMG_1473594513218.jpg

Akan tetapi,
Jelaskan juga jika mereka mengenal kita berdasarkan apa yang mereka ketahui bertahun lalu, sungguh mereka belum tahu bahwa waktu bisa mengubah seseorang,
Jauh berbeda dari sebelumnya.

Bahwa setiap orang punya bab dalam hidupnya yang dia sesali pernah lakukan,
Takkan dia lupakan,
Dan tentu saja tak ingin dia ulangi kembali.
“Be a better person.”

Jelaskan juga pada mereka,
Sepeda yang kita kayuh sudah jauh melampui apa yang mereka ketahui tentang kita.

Terakhir,
Senyumin aja lalu bilang, “om move on om.”

Terima Kasih, Zaujaty

Akhir februari 2015,
Saat aku memilih untuk tidak memilih,
Memilih untuk menyerahkan urusan jodoh kepada Yang Maha Mengatur.
Memilih untuk menuliskan asa pada dua halaman kertas A4, yang kulampirkan dengannya selembar pasfoto.
Rasa khawatir senantiasa hadir,
Tapi selalu terusir,
Saat kulipat doa rapih,
Aku memilih untuk tidak memilih,
Mempercayakan bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik,
kita hanya perlu berhusnudzon pada-Nya.

IMG_20170226_195559_272.jpg

Lalu ada nazhar yang membuat hati bedegup,
Ada ta’aruf yang membuat wajah tersipu,
Ada khitbah yang memantapkan keyakinan,
Ada akad yang menyatukan dua asa.
Selalu ada rasa khawatir disela-selanya,
Tapi selalu terusir,
Saat kulipat doa,
Dengan rapih.
Aku memilih untuk tidak memilih,
Meyakinkan diri semuanya telah Dia atur dengan sebaik-baiknya pengaturan,
Kita hanya harus ikhtiar dan berhusnudzon pada-Nya
Lalu sosok mungilpun hadir,
Setelah 46 minggu 3 hari penantian,
Setelah 5 jam degup jantung berpacu,
Membawa kekhawatiran yang baru.
Ah… Sampai sekarangpun rasa khawatir itu selalu hadir,
Namun, tidak lama.
Selalu terusir.
Pada doa yang terlipat rapih.
Pada senyum yang menyambut di balik pintu,
Senyum yang manis milikmu itu.
Aku memilih untuk tidak memilih,
Membiarkan rasa khawatir itu hadir,
Bersama harap yang bersemi kemudian, seperti yang sering kau ingatkan,
Tiada satupun yang perlu dikhawatirkan,
Ketika Allah membersamai kita.
Terima kasih Zaujaty.

Bersyukur dan Bersabar

Nak,
Allah selalu punya rencana terbaik bagi kita.
Bersyukur dan bersabar.
Karena apa yang telah Allah takdirkan untuk kita tidak akan keliru kepada orang lain, begitu sebaliknya.
Bersyukur dan bersabar.
Saat mendapatkan anugerah, ataupun
Saat ditunda pengabulan doanya.
Tidak perlu berlarut dalam kegembiraan,
Tidak perlu menepuk dada penuh kebanggaan,
Sehingga lupa hakikat bahwa setiap pemberian itu asalnya dari Allah semata.
Tidakkah terang bagi kita bagaimana Allah menenggelamkan Qarun bersama harta, yang dulu dia sombongkan berasal dari ilmu dan kemampuan yang dia miliki?

img_20161115_102444_hdr
Tidak perlu bersedih,
Tidak perlu meratap,
Sehingga lupa hakikat bahwa setiap ujian itu juga asalnya dari Allah.
Tidakkah jelas bagi kita bagaimana Ayyub Allah muliakan sebagai hamba yang paling taat, kerana kesyukurannya atas setiap cobaan yang Allah berikan?
Sungguh, Allah mempersiapkan yang terbaik bagi kita.

Nimatnya Menjemput Rezeki Setelah Menikah

Hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Berangkat ke sekolah, mengajar, menghadapi siswa dengan segala ‘keunikan’nya, berhadapan dengan tugas dan amanah yang harus dilaksanakan. Sampai tidak terasa waktu ashar.
Aktivitas berlanjut dengan belajar tambahan persiapan UN/SBMPTN untuk kelas XII, sampai senja mulai malu-malu menenggelamkan dirinya.
Dari sekolah mampir ke Bimbel, ada jadwal mengajar satu kelas. Rehat sejenak saat maghrib dan isya. Digit jam di ponsel menunjukkan lebih beberapa menit dari pukul 20.00 saat si jingga saya kendarai menembus jalanan, pulang ke rumah.
Sungguh aktivitas yang biasa, untuk hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, hati terasa ringan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menjalankan satu tugas ke tugas yang lain. Tidak terasa berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang tiap kali pulang selalu dengan lunglai seperti habis jadi korban tabrakan beruntun (alah).

img_20170217_205931_791Sungguh, terasa ringan.
Bisa jadi ini karena ada yang membukakan pintu dan membalas salam ketika sampai,
Bisa jadi ini karena ada senyum dan obrolan ringan ketika menyimpan barang,
Bisa jadi karena ada segelas teh yang tersuguh,
Bisa jadi karena ada sosok yang tertawa-tawa, berceloteh tanpa arti, lalu tertidur di pangkuan.
Bisa jadi karena setiap hal yang menanti di rumah ini menjadikan semua aktivitas terasa ringan.
Ya, sungguh menjemput rejeki terasa berbeda rasanya setelah menikah.
Nikmat sekali.

Abi dan Umi

Abi bagi saya adalah dosen, ustadz, sahabat, dan sekaligus orangtua yang selalu membimbing, yang memahami bakat orang terdekatnya, mendukung perkembangan dirinya, dan akhirnya memberikan kepercayaan bahwa orang tersebut bisa melakukan yang terbaik untuk setiap hal.

Umi bagi saya adalah pemberi semangat, kawan bercerita, rekan kerja, dan sekaligus orangtua yang selalu memberikan nasehat, menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan, yang mengajari untuk berpikir realistis dan penuh pertimbangan, serta pemberi contoh bagaimana seharusnya berbakti pada orang tua.
Bagi saya, Abi dan Umi adalah orang-orang yang menginspirasi untuk menjadi diri yang lebih baik dari sebelumnya.

img_20170129_220205_161

Bagi saya, Abi dan Umi adalah orang-orang yang begitu luar biasa, membimbing dan membantu untuk bertahan dalam segala hal, saking luar biasanya sampai tidak tahu bagaimana membalas setiap kebaikan dan ketulusan yang telah diberikan, kecuali mendoakan semoga Allah membalas dengan berlapis kebaikan dan keberkahan.
Haturnuhun Abi.. Haturnuhun Umi..

Azalia

Azalia,
Abah dan Umi tidak bisa selalu mengawasi,
tapi yakinlah Allah senantiasa hadir dan melihat perbuatanmu.
Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Jangan pernah takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik,
sebab Dia akan selalu menolongmu.

Jangan pernah khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Abah dan Umi tak tahu,
tidak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu, tetapi Allah selalu hadir dan membalas dengan ganjaran yang jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Abah dan Umi.

16730566_10210238722076486_586413987149462002_n

Demikian pula Nak,
jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Abah dan Umi tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu.
Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, bahkan daun yang jatuh dan langkah seekor semut di gelapnya malam.

Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Abah, Umi, dan sesama manusia lainnya.”

(disadur dari LLK oleh Ustadz Salim A. Filllah)