Layakkah Kita Atas Pertolongan Allah?

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah..
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah..

Awal semester baru, saya mendapat amanah jadi Homeroom Teacher Grade XII. Banyak khawatirnya ketimbang excited-nya. Karena melihat HRT tahun lalu yang rasanya begitu kerepotan menjadi HRT bagi siswa di tahun senior.

But, in the end, we can resist amanah that Allah gives to us, right?

Maka sayapun berusaha menghadirkan, lagi-lagi, sebaik-baik prasangka kepada Allah. Dan hari kedua sudah dapat kejutan. Kejutan yang luar biasa dari salah satu siswi saya yang membuat saya banyak merenung hari ini.

13680524_10208457263221128_7999667392407226657_n

Pagi tadi saya meminta mereka menuliskan jurusan yang mereka incar setelah lulus pada sebuah kertas, dan berencana memasang foto mereka di kelas. Semua siswa excited kecuali satu siswi yang malah terdiam. Saya tidak menghiraukan pada awalnya, karena saya tahu dia termasuk siswi yang pendiam. Sampai saat istirahat pertama, saya sedang asyik mengobrol dengan siswa yang lain, siswi ini masih terdiam. Seperti melamun. Sayapun memanggil namanya, eh, dia malah tertunduk.

Continue reading

Advertisements

Kenapa Harus Mencoba I’tikaf di Al-Wasi’i

Sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan merupakan waktu yang sayang bila dilewatkan begitu saja. RasuluLlah melipatgandakan ibadah-ibadahnya di malam-malam terakhir ini.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a : “Selama sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, Nabi (SAW) akan memperketat ikat pinggang dan menghabiskan malam dalam ibadah. Dia juga membangunkan keluarganya..” (Al Bukhari)

image

Suasana I'tikaf Malam Ke-23 Ramadhan

Continue reading

We All Make Choices, But In The End Our Choices Make Us

Sungguh, rumput tetangga itu selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Padahal bisa jadi rumput yang lebih hijau itu bukanlah rumput yang sebenarnya, rumput sintetis yang biasa dipakai di lapangan futsal. Bisa jadi seperti itu.

Namun, tidak bisa dipungkiri, terkadang kita lupa, terkadang kita khilaf, saya pribadi sering merasakan seperti ini, lupa dan khilaf untuk bersyukur atas setiap karunia yang Allah berikan dalam hidup. Sehingga, pada akhirnya kita hanya melihat di sekitar kita begitu kekurangan, sedangkan di luar sana begitu kelebihan.

Wah, bahasannya berat banget. Heheheheh…

Semenjak menyelesaikan PPG dan kembali ke Bandarlampung. saya mulai merasa minder. Perasaan yang membuat saya tidak mau banyak bergaul bahkan jadi sedikit pendiam–yang sama sekali bukan sifat saya. Saya juga merasa ada yang salah dengan diri saya, makanya saya pernah membahas tentang krisis percaya diri pada posting sebelumnya (disini) dan memang berhasil untuk beberapa minggu. Tapi entah kenapa, krisis yang saya alami tidak pernah benar-benar hilang, terkadang terbangun di pagi hari, I ask my self, “why am I here?”. Begitu terus menerus.

Usut punya usut, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri. Ada banyak hal, yang bila dijabarkan akan menghasilkan artikel dengan tebal yang luar biasa, tapi intinya adalah saya merasa tidak yakin dengan pilihan hidup yang saya pilih dari beberapa tahun ini.

Continue reading