Tentang Adel, Sherina-nya El-Biruny

Beberapa minggu lalu, salah satu teman saya memposting foto-foto dari film Petualangan Sherina, yang sedikit banyak membawa memori jaman SD. Dulu kayaknya luar biasa sekali jika ada sosok sejenis Sherina: ceria, pintar, punya jiwa pemimpin, care, berani, dan sedikit tomboy.

Dari postingan tersebut, saya jadi teringat, ada juga sosok yang seperti itu di kelas kami. Sosok yang persis dengan tokoh Sherina dalam film tahun 90-an tersebut. Tidak sama persis memang, tapi tingkah laku siswi ini dalam kesehariannya sedikit banyak menggambarkan bagaimana jadinya Sherina jika dalam seragam putih-abu.

image

Mari saya ceritakan satu lagi siswi di kelas kami, Riska Adellia, Si Sherina di ElBiruny.

Continue reading

Advertisements

Ya Allah, berkahilah Bapak

“Ya Allah, berkahilah Bapak,
Lelaki yang sangat berarti bagi kami,
Yang sangat bertanggungjawab
Atas siapa dan akan menjadi apa kami.

Berkahilah dia atas keberaniannya
Untuk melakukan hal-hal yang menjauhkan kami dari masalah,
Yang membuat kami santiasa berbuat hal yang benar,
Yang membantu dalam pembentukan karakter kami,
Walaupun hal itu terkadang membuat kami marah.

Dan berkahilah dia yang terus menyemangati kami untuk selalu melakukan yang terbaik,
Atas setiap amanah yang ditawarkan hidup kepada kami.

Berkahilah dia atas usahanya menjadi pelindung kami,
Yang terus berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap ujian hidup,
Yang terus membuat kami percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja,
Dan membuat semuanya baik-baik saja.

Berkahilah dia atas usahanya menafkahi orang-orang yang paling dia cintai,
Atas usahanya menyediakan makanan yang hangat, pakaian yang layak, dan tempat tinggal yang teduh, bagi kami.
Atas kesabarannya menginvestasikan waktu dan hidupnya, untuk kami.

Berkahilah dia atas caranya mengajak kami untuk memandang hidup,
Sebagai sebuah petualangan,
Yang harus dihadapi dengan senyuman.
Yang harus dijejaki tiap liku dan undakannya,
Yang harus diambil pelajarannya.

Berkahilah dia yang mengajari kami bahwa hidup bukanlah cita-cita akhir,
Ada cita-cita tertinggi yang menjadi tujuan paling utama,
Berkumpul di surga-Mu.

Berkahilah lelaki panutan kami,
Suri taudalan kami,
Pahlawan kami.

Ya Allah, berkahilah Bapak.”

Ada

1280x720-sh0Dalam lembar kehidupan,
Kita akan menemukan sebuah bagian,
tentang seseorang,
yang kita percaya, tidak akan pernah ada tandingannya.
Kita terkadang lebih mengandalkannya dibandingkan dengan diri kita sendiri.
Kita mengingatnya layaknya Sheila on 7 melantunkan “Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki”.

Kita merasa tidak akan pernah sanggup bediri saat ini,
tanpa kehadirannya di masa lalu,
saat ini,
bahkan di masa yang akan datang,
Walau kita tahu, kelak dia akan meninggalkan kita terlebih dulu,
atau sebaliknya.
Kita tetap merasa demikian.
Akan selalu merasa demikian.

Continue reading

Terkadang Kita Lupa

Alkisah, hiduplah seekor kelinci bersama dengan neneknya, berdua saja. Karena orang tua kelinci telah meninggal bertahun lalu, diburu pemilik tanah, itu cerita nenek, meninggalkan kelinci hanya dengan nenek, berdua saja di sarang sempit dekat danau.

Hidup berdua saja dengan nenek tentu membuat hidup mereka serba kekurangan. Hidup yang sangat sulit, bahkan untuk sekedar makan 3 kali sehari saja mereka kesusahan. Sangat kesusahan. Kelinci dan Nenek tak pernah mengeluh, mereka menjalani hari selalu dengan penuh syukur, dengan penuh semangat. Mereka tempuh hidup dengan penuh suka cita.

Satu hal yang membuat Kelinci bertahan dan terus ceria adalah dongeng nenek setiap menjelang tidur. Dongeng yang selalu memberikannya semangat untuk meraih mimpi, semangat untuk merubah nasibnya, semangat untuk menjadi seekor kelinci yang sukses. Bukan dongeng sebenarnya, itu kisah tentang paman kelinci nan jauh di pulau seberang sana. Kisah tentang paman kelinci yang telah sukses setelah mengalami berbagai macam kesulitan dalam hidup.

Nenek selalu bercerita bagaimana dulu paman kelinci semasa kecil. Dia giat bekerja, rajin beribadah, senang membantu orang tua. Bahkan nenek juga bercerita bagaimana paman kelinci bisa bersekolah, berjuang untuk bisa mendapat pendidikan seperti hewan-hewan lain yang lebih berada, berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari tetangga-tetangga.

Continue reading

Dialog Ayah dan Anak

Malam itu, di sebuah masjid. Duduk termenung seorang pemuda, memandang ke arah mimbar. Sementara jama’ah yang lain sedang bertafakur dan melaksanakan sunnah rawatib. Menunggu muadzin mengumandangkan iqomah.

“Kunaon ngalamun kitu?”

Sang pemuda terjaga dari lamunannya, dilihatnya sumber suara itu, orang yang dia kenal selama hidupnya, orang yang paling dia hormati sepanjang hidupnya, sang Ayah.

Pemuda tersebut tersenyum, “teu nanaon Beh”

Sang Ayah berdiri di samping pemuda tersebut, mereka sibuk dengan pikirannya

“Allahu akbar.. Allahu akbar…”

Suara iqomah mengisi ruang utama masjid, pemuda tersebut berdiri menuju shaf pertama, sementara sang ayah tepat berada disampingnya.

Dalam shalatnya, sang pemuda berusaha khusyu’, karena yang menjadi lamunan tadi terus berada dalam benaknya, hingga untuk berkonsentrasi pada bacaan imam saja sulit.

Selepas shalat, hatinya semakin bergemuruh, ada kata yang ingin tersampaikan, ada hasrat yang ingin disampaikan, ada niatan yang ingin dimengerti, oleh pria yang duduk disampingnya. Sang pemuda melafalkan doa yang diucapkan pemuda kahfi, berulang-ulang.

Selepas rawatib, dia mengulurkan tangannya pada sang ayah, berharap salim takzim yang dia lakukan bisa membuat Sang Ayah paham apa maksud dalam hatinya, lewat osmosis.

Ah… Harus malam ini.. harus malam iini disampaikan, sepanjang jalan menuju rumah dia terus bergumam dalam hati.

Continue reading

Tentang Perpisahan

“Perpisahan memang menyakitkan. Tetapi niscaya. Dan kadang berakhir indah. Pada beberapa hal, keindahan itu juga niscaya. Seperti perpisahan seorang mukmin dengan dunia. Ia menuju surga. Seperti perpisahan para pentaubat dengan maksiatnya. Ia menghapus dosa. Seperti perpisahan seorang pengikrar syahadat dengan jahiliyah. Ia membangun sebuah kehidupan baru.”  

(Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim – Salim A. Fillah)

Kutipan dari pengarang buku favorit ane menyadarkan diri ini bahwa akan selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa, termasuk perpisahan.

Perpisahan dengan satu sahabat, akan membawa kita bertemu dengan sahabat-sahabat baru, maka bertambahlah sahabat-sahabat yang kita miliki.

Perpisahan dengan ibu, akan membuat diri kita menjadi mandiri, tidak manja, dan banyak belajar. Rindu yang terakumulasi hingga meneteskan air mata, menambah kekuatan untuk selalu mendoakan beliau setiap hari dan malam, agar senantiasa senyum beliau merekah.

Perpisahan dengan ayah, akan membuat diri kita menjadi tegar, tidak mudah putus asa, dan senantiasa bersyukur. Rindu yang terakumulasi hingga meneteskan air mata, menambah semangat untuk selalu berjuang. Tak ingin perpisahan ini sia-sia, senyum beliau, karena kita, adalah cita-cita.

Perpisahan dengan keluarga untuk merantau, meninggalkan saudara-saudara di rumah, membuat kita menjadi pribadi yang selalu berusaha menempatkan diri dengan baik dimanapun berada. Membuat diri kita senantiasa berusaha mengerti orang lain, memahami orang lain, sehingga rindu yang terakumulasi hingga meneteskan air mata, terobati dengan hadirnya diri di tengah-tengah keluarga baru dalam perantauan.

Perpisahan dengan guru, ustadz, dan orang-orang hebat, akan membawa kaki kita untuk mendatangi guru, ustadz, dan orang-orang hebat lainnya, untuk kembali menggali ilmu, mengurai makna, serta mengambil pelajaran, hingga nantinya semakin kayalah hati kita.

Perpisahan dengan satu tempat, membawa kita ke tempat yang lain dengan pengalaman-pengalaman yang baru, pelajaran-pelajaran hidup yang baru, yang tak ternilai harganya.

Perpisahan dengan saudara-saudara seperjuangan, memberikan kita pemahaman, bahwa kita tidak terpisah, hanya melebarkan dan meluaskan lingkaran kita, seluas dan selebar aktivitas kita untuk selalu menebar manfaat di muka bumi.

Perpisahan..

Entah berapa kali diri kita harus merasakan perpisahan.

Dan selalu saja merasakan pahit dan sakit di awalnya.

Tak ingin berpisah, ingin selalu bersama, dalam hati terus mengeluh.

Tapi diri kitapun tahu pasti, bahwa setiap perpisahan yang dilalui, setiap perpisahan yang dirasakan, akan selalu menjadikan diri kita semakin kuat, hati kita semakin kaya, dan hidup kita semakin indah.

Ya, perpisahan, mungkin salah satu ujian dari Allah. Maka kita harus belajar untuk selalu mengambil hikmah dari setiap perpisahan.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji?” (AlAnkabut 2)

 

—Bandarlampung, 30 Januari 2014, senja yang syahdu ditemani deru pendingin ruangan dan server fakultas,

Ayah….

Ayah, tak banyak hal yang ingin aku bincangkan..
Seperti yang biasa kau katakan,
“ayah diam bukan berarti setuju..”
Bertahun-tahun baru aku mengerti arti kata-kata itu,
Bertahun-tahun pula aku salah mengartikan,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…..

Ayah, selalu saja aku berpikir, “apanya yang jadi fitnah?? Dan siapa yang ngefitnah..??”
Tiap kali kau berkata, “Ayah tidak mau ini menjadi fitnah..”
Di saat aku merengek, memelas, sesuatu yang tak bisa engkau usahakan..
Baru sekarang aku mengerti arti kata-kata itu,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah, pernah engkau mengajakku berkeliling, kau utarakan semua impian-impianmu
Harapan-harapanmu, untukku, untuk anak-anakmu,
Aku tak mendengarkan ayah, aku tak menyimak…
Tapi baru sekarang kurasa, semua itu begitu indah..
Impian-impian itu…
Harapan-harapan itu, begitu indah…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku….

Ayah, pernah aku membenci,
Pernah aku membenci keputusanmu…
Saat kau tak mengabulkan keinginanku…
Tapi sepertinya yang lebih mengetahui aku adalah kamu, ayah…
Sungguh…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku….

Ayah..
Aku menangis saat ini,
Menangis…
Teringat saat aku membuatmu kecewa,
Membuatmu mengusap dada,
Membuatmu…..
Ahhh…
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah… begitu banyak yang engkau korbankan..
Begitu banyak…
Dan aku hanya bisa membuatmu kecewa,
Bahkan sampai saat ini pun,
Bodohnya aku, ayah, bodohnya aku…

Ayah..tak pernah sedikit pun kudengar engkau mengeluh..
Tek pernah…
Sementara aku,
Tak bisakah aku setegar dirimu ayah..???
Aku ingin setegar dirimu…

Ayah… tak pernah tenang hatiku sampai kau berkata, “ayah selalu mendoakanmu”
Atau saat ku memandang matamu yang menyejukkan itu…

Ahh ayah,
Keikhlasanmu,
Ketegaranmu,
Adalah inspirasiku…