Manfaat Storytelling pada Bayi

Beberapa riset tentang reading and sharing books with babies telah banyak dilakukan, dan semuanya menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara perkembangan kecerdasan dan otak dengan kebiasaan membacakan cerita dan buku pada bayi.
Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Saloni Krishnan dan Professor Mark H. Johnson, Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London.

IMG_20170312_060154_620

Mereka menemukan bahwa kebiasan orang tua untuk membacakan buku pada bayi usia 3-4 bulan, dimana pada usia tersebut bayi mulai mengalami perkembangan aktivitas visual dan skill perhatian dasar, memberikan dampak positif pada kemampuan berkomunikasi dan berbahasa pada tahapan usia selanjutnya.
Diana Gerald, CEO dari Book Trust, mengatakan bahwa membacakan buku pada bayi akan membangun ikatan yang kuat antara orangtua dengan bayi tersebut. Selain itu, hal ini juga memberikan peluang perkembangan kecerdasan berpikir lebih cepat, sehingga mampu meningkatkan skill-skill kecakapan hidup lebih baik.

Nimatnya Menjemput Rezeki Setelah Menikah

Hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Berangkat ke sekolah, mengajar, menghadapi siswa dengan segala ‘keunikan’nya, berhadapan dengan tugas dan amanah yang harus dilaksanakan. Sampai tidak terasa waktu ashar.
Aktivitas berlanjut dengan belajar tambahan persiapan UN/SBMPTN untuk kelas XII, sampai senja mulai malu-malu menenggelamkan dirinya.
Dari sekolah mampir ke Bimbel, ada jadwal mengajar satu kelas. Rehat sejenak saat maghrib dan isya. Digit jam di ponsel menunjukkan lebih beberapa menit dari pukul 20.00 saat si jingga saya kendarai menembus jalanan, pulang ke rumah.
Sungguh aktivitas yang biasa, untuk hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, hati terasa ringan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menjalankan satu tugas ke tugas yang lain. Tidak terasa berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang tiap kali pulang selalu dengan lunglai seperti habis jadi korban tabrakan beruntun (alah).

img_20170217_205931_791Sungguh, terasa ringan.
Bisa jadi ini karena ada yang membukakan pintu dan membalas salam ketika sampai,
Bisa jadi ini karena ada senyum dan obrolan ringan ketika menyimpan barang,
Bisa jadi karena ada segelas teh yang tersuguh,
Bisa jadi karena ada sosok yang tertawa-tawa, berceloteh tanpa arti, lalu tertidur di pangkuan.
Bisa jadi karena setiap hal yang menanti di rumah ini menjadikan semua aktivitas terasa ringan.
Ya, sungguh menjemput rejeki terasa berbeda rasanya setelah menikah.
Nikmat sekali.

Qaulan Sadida

Kebiasaan mengajak Azalia getting involve dalam aktivitas kami sudah kami lakukan semenjak dia di dalam kandungan.
“Abah berangkat dulu ya dek.”
“Umi shalat dulu ya dek.”
“Nanti tilawah sama Abah ya dek.”
Biasanya akan ada respon berupa tendangan atau gerakan di dalam perut uminya.

Kebiasaan ini berlanjut sampai sekarang. Biasanya ketika Azalia sedang ‘ngajak’ main atau ngobrol, terus saya pamit, “Abah ke mesjid dulu ya Dek.” Dia akan anteng sampai saya kembali pulang ke rumah.
Begitu juga jika uminya pamit, “Umi shalat dulu ya.” Azalia yang tadinya ‘aktif’ akan diam menunggu uminya shalat.

Kejadian-kejadian seperti ini banyak terjadi dan saya mikirnya, “Ah.. Cuma kebetulan saja. Azalia belum paham.” Namun, kejadian tadi sore membuat saya recall semua kejadian sebelumnya dan berkesimpulan bahwa pemikiran saya salah.

16406675_10210154330406747_9141404414494545194_n

Jadi ceritanya tadi pagi kami sepakat bahwa Azalia akan stay dengan saya saat Uminya hadir agenda pekanan. Tapi sebelum uminya berangkat, kesepakatan tadi batal, karena khawatir kalau Azalia bakal menangis. Azalia akan ikut uminya seperti pekan-pekan sebelumnya.

Continue reading

Azalia

Azalia,
Abah dan Umi tidak bisa selalu mengawasi,
tapi yakinlah Allah senantiasa hadir dan melihat perbuatanmu.
Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar.

Jangan pernah takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik,
sebab Dia akan selalu menolongmu.

Jangan pernah khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Abah dan Umi tak tahu,
tidak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu, tetapi Allah selalu hadir dan membalas dengan ganjaran yang jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Abah dan Umi.

16730566_10210238722076486_586413987149462002_n

Demikian pula Nak,
jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Abah dan Umi tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu.
Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, bahkan daun yang jatuh dan langkah seekor semut di gelapnya malam.

Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Abah, Umi, dan sesama manusia lainnya.”

(disadur dari LLK oleh Ustadz Salim A. Filllah)

 

Why We Do Aqiqah

Muslim parents do not hold a “baby shower” prior to the child’s birth. We do aqiqah, a welcoming celebration which is held after the child is born. As RasuluLlah explained in hadist:

“It was narrated from Salman ibn ‘Aamir al-Dabbi that the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) said: I heard the Messenger of Allah (peace and blessings of Allah be upon him) say: “ ‘Aqiqah is to be offered for a (newly born) boy, so slaughter (an animal) for him, and remove all dirt from him.” (H.R Bukhari)

The word aqiqah comes from the Arabic word ‘aq which means to cut. Some attribute this to the child’s first haircut, while others say that it refers to the slaughtering of the animal to provide meat for the meal.

Continue reading