Idul Adha dan Meneladani Ibrahim

Idul Adha merupakan momen yang tepat bagi kita untuk memaknai kembali makna pengabdian kepada Allah. Tidak hanya melalui ibadah qurban tetapi melalui perjalanan hidup Ibrahim dan keluarga, yang menyejarah sampai sekarang.

20914177_10211803029663198_2206129430563656441_n

Dari Ibrahim kita belajar untuk menjadi imamul muttaqin, imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Menjadi kepala keluarga yang mampu memberikan nasihat dan teladan kepada orang-orang terdekatnya, mampu membimbing keluarganya menjadi keluarga yang yakin, taat, bertawakkal dan berhajat hanya kepada Allah saja.

Tidak mudah untuk dilakukan, karena Ibrahim menunjukkan kepada kita bahwa untuk menjadi imamul muttaqin, kita harus siap untuk menjadi pribadi yang taat dan berserah diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah walau hidupnya terus dipenuhi dengan ujian.

Continue reading

Advertisements

Sukses Itu

Sukses itu relatif, tiap orang memiliki definisi masing-masing, bergantung pada sudut pandang orang tersebut. .
.
.

Ada yang bilang sukses itu punya banyak uang, kuliah di PTN favorit, bisa jalan-jalan ke luar negeri. Ada juga yang bilang kalau bisa pergi haji tiap tahun termasuk sukses. Ada pula yang beranggapan bahwa melakukan hal-hal kecil dengan baik, itu juga sukses. Dan begitu banyak lagi pendapat orang tentang sukses. .
.
PhotoGrid_1502208100444.jpg

Ya.. Tiap orang memiliki definisi masing-masing tentang sukses. .
.
.
Continue reading

Menjadi Keluarga Penghafal al-Qur’an

Ahad ini berkesempatan untuk bersilaturahim ke rumah Pak Agus Sugianto, ketua MGMP Fisika Kota Bandar Lampung, untuk menyelesaikan laporan. Setelah muter-muter Bataranila karena Neng Gugel Mep salah kasih arah, akhirnya ketemu juga rumah beliau. .
.

Pertama datang sudah dibuat ‘wow’, beliau membuka bimbingan Tahsin dan Tahfizh di rumah. Saya langsung tanya saja karena penasaran, “Iya, kebanyakan ibu-ibu yang datang belajar. Uminya (istri beliau) yang ngajar.” .
.
2017-07-30 10.21.29 1.jpg
Oh.. I see.. Saya ngangguk-ngangguk. Teringat cerita Umi Rita, tentang anak-anak Pak Agus yang fokus disekolahkan untuk menjadi hafizh. Kami lalu fokus pada pekerjaan yang harus segera diselesaikan. .
.

Selepas rehat untuk shalat dan makan siang, kami mengobrol ringan. Beliau menceritakan kondisi mereka satu persatu. “Anak pertama saya sudah hafizh 30 Juz saat kelas 1 SMA, sekarang masih kuliah di LIPIA, sudah menikah dan punya 2 anak. Alhamdulillah, waktu semester 3 dipersunting alumni LIPIA juga; Anak kedua saya kelas 2 SMA pindah ke Jogja, merampungkan hafalannya di sana. Sekarang kuliah di STIA Jogja; Anak ketiga saya sudah hafizh juga sekarang kuliah di DF, tadinya di FISIP Unila, tapi karena kami merasa kualitas hidupnya menurun, kami pindahkan kuliahnya, walau di FISIP prestasinya bagus; Anak keempat saya sudah sekitar 12 Juz hafalannya, masih mondok di Bangka; Anak kelima saya masih mondok di Jogja, belum rampung juga hafalannya; Yang bungsu masih SD, kami sekolahkan di SDIT deket sini.” .

Saya sedikit mangap, terkagum, untung nda kemasukan lalet. Tanpa basa-basi, saya langsung tanya gimana cara beliau mendidik keenam anaknya. Beliau tertawa. “Ya, kalau trik dan tipsnya gimana ya. Pokoknya suami dan istri harus punya azam yang sama untuk punya anak yang hafizh. Karena kalau cuma salah satu, bakal berat. Entah itu nanti anaknya gak betahan atau gimana. .
.

Yang kedua, kita mesti menjaga rezeki kita dari yang haram. Jangan sampai kita menafkahi anak-anak kita dari sumber yang tidak jelas asalnya. Ya, saya juga tidak tahu seberapa bersih nafkah yang saya dapat. Hanya saya berusaha untuk menjaga jangan sampai yang haram.” Continue reading

Egosentris

Sebagai orang tua, kita ingin menjaga anak kita untuk selalu berada dalam pergaulan yang baik, tidak terpapar oleh lingkungan yang buruk, dan mampu bersosialisasi tanpa terjerumus ke dalam hal-hal yang menurunkan derajat mereka. .
.

Namun, kita sadar bahwa penjagaan kita itu tidak paripurna dan berlangsung selamanya. Ada masa dimana kita tidak bisa menjaga anak kita secara terus menerus, sehingga yang bisa kita harapkan adalah kemampuan mereka sendiri untuk menjaga diri dari pengaruh lingkungan yang buruk. .
.
2017-07-28 08.59.18 1.jpg
Ya, kita harus mengajari mereka ‘berenang’ atau ‘membuat’ perahu sendiri agar tidak tenggelam, daripada terus membangun bendungan atau tembok yang kita tahu lama-kelamaan akan amblas oleh derasnya arus globalisasi. .
. Continue reading

Kenangan

Saya yakin, setiap diri kita memiliki kenangan masa kecil yang kita simpan rapih dalam kotak ingatan. Kita menyimpannya dengan apik, lalu dengan semakin bertambah dewasanya kita, kotak ingatan itu perlahan mulai kita kosongkan. Kita mulai melupakan kenangan masa kecil, membuang hal-hal yang dirasa tidak perlu, bahkan barangkali membuang semuanya. .
.

Padahal, saat kita menjadi orang tua, kotak ingatan masa kecil itu akan membantu kita, masuk ke dalam dunia anak kita, membagi pengalaman masa kecil kita dengan mereka. .
.april_2017-07-08-21-46-10-239.jpg

Melalui dongeng-dongeng yang kita ceritakan kembali, tiruan suara binatang, bermain peran, memberi nama setiap mainan, bahkan menari dan menyanyi lagu anak-anak.

Continue reading

Menjadi Guru

Menjadi guru adalah proses pembelajaran seumur hidup.

Dengan menjadi guru, kita belajar untuk memahami tiap pribadi siswa, yang kita harus sadari bahwa tiap individu memiliki karakteristik yang berbeda, kecenderungan yang berbeda, bakat yang berbeda, ketertarikan dan minat yang berbeda. Maka tugas kita adalah belajar untuk memahami tiap perbedaan tersebut, untuk mampu mendidik dengan adil.

april_2017-04-13-20-14-51-730.jpg
Dengan menjadi guru, kita akan terus meningkatkan kapasitas dan kualitas keilmuan dan pembelajaran kita. Kita dituntut tidak hanya paham suatu konsep dan teori tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan konsep dan teori tersebut untuk dapat dipahami oleh siswa, dengan berbagai cara dan metode. Karena terkadang tiap konsep dan teori membutuhkan cara dan metode yang berbeda untuk bisa tersampaikan dan dipahami oleh siswa dengan baik.

Continue reading

Tawadzun dalam Amanah

Terkadang kita merasa cukup dengan amanah yang bisa tuntas kita kerjakan di luar sana.
Amanah-amanah yang menghadirkan decak kagum orang, tepuk tangan dan hal-hal gemerlap lainnya.

Namun, kita mengesampingkan bahwa ada amanah yang lebih besar, yang Allah berikan langsung kepada kita.
Melalui mitsaqan ghaliza,
Disaksikan para malaikat.
Amanah yang didapat ketika ijab terbalas oleh qabul.
Amanah itu adalah istri kita.

april_2017-06-25-15-51-29-567.jpg

Kita bersibuk ria,
Membawa pekerjaan ke rumah,
Membalas chat-chat yang menurut kita penting saat makan berdua,
Mengsampingkan bahwa ada hati yang ingin didengar curhatannya,
Hati yang ingin dipahami saat diamnya,
Hati yang terus bersabar menunggu kita luang waktu.

Continue reading