Jodoh Itu

Bukan suatu hal yang krusial, dengan siapa kita memilih mengarungi bahtera.
Yang terpenting adalah karena siapa kita mengarunginya.
Cinta yang dimulai karena cinta pada Sang Maha Pencipta akan selalu bertahan, di atas segala kondisi apapun. Karena yang kita harap adalah ridho-Nya.

IMG_20170402_181123_262

Sedang cinta karena makhluk, terkadang tidak akan selamanya bertahan sebagaimana tidak kekalnya apa yang ada pada diri orang yang kita cintai.
Bukankah perangai bisa berubah?
Bukankah fisik juga tidak akan selamanya rupawan?
Terlebih harta yang hanya titipan?
Lagi dan lagi,
Sungguh bukan hal yang krusial dengan siapa. Terlebih penting karena siapa kita menikah.
Lalu nikmati bagaimana Allah berikan setiap kejutan,
Saat kita husnudzon bahwa Dia telah siapkan jodoh terbaik,
Saat kita percaya pada janji-Nya,
Tidak akan pernah ingkar,
Tidak akan pernah aniaya.

Aku dan Kamu

Aku dan kamu bukanlah sepasang insan yang selalu menghabiskan waktu untuk saling mengagumi.
Aku dan kamu bukan sepasang insan yang selalu mengisi waktu luang dengan menyenangkan.
Aku dan kamu terkadang saling membenci.
Aku,
Membenci sikap diam dan tertutup yang selalu hadir saat sikapku tidak sejalan dengan maumu.

IMG_20170405_014220_089
Kamu,
Membenci ketidakpekaan dan ledakan emosionalku yang tidak terkendali.
Sayang, aku tahu aku bukanlah suami yang baik.
Sama halnya seperti hidup kita yang tidak selalu berjalan dengan baik.
Kadang kita tertawa lepas, kadang kita tertegun serius menghitung pundi-pundi yang tersisa dengan penuh was-was.
Kadang kita menikmati hidangan yang memuaskan, kadang kita membuka lemari es dengan helaan nafas, memanfaatkan apa saja yang tersisa di sana.
Namun, aku bersyukur.
Allah menakdirkan aku dan kamu,
menjadi kita.
Dengan segala ketidakpastian yang aku tawarkan,
kamu senantiasa menemaniku sehingga aku tidak sendirian.
Terima kasih, sayang.
Kamu ajarkan aku arti kesabaran,
Kamu ajarkan aku kerendahan hati.
Dan bersamamu, aku belajar mencintai.

Manfaat Storytelling pada Bayi

Beberapa riset tentang reading and sharing books with babies telah banyak dilakukan, dan semuanya menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara perkembangan kecerdasan dan otak dengan kebiasaan membacakan cerita dan buku pada bayi.
Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Saloni Krishnan dan Professor Mark H. Johnson, Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London.

IMG_20170312_060154_620

Mereka menemukan bahwa kebiasan orang tua untuk membacakan buku pada bayi usia 3-4 bulan, dimana pada usia tersebut bayi mulai mengalami perkembangan aktivitas visual dan skill perhatian dasar, memberikan dampak positif pada kemampuan berkomunikasi dan berbahasa pada tahapan usia selanjutnya.
Diana Gerald, CEO dari Book Trust, mengatakan bahwa membacakan buku pada bayi akan membangun ikatan yang kuat antara orangtua dengan bayi tersebut. Selain itu, hal ini juga memberikan peluang perkembangan kecerdasan berpikir lebih cepat, sehingga mampu meningkatkan skill-skill kecakapan hidup lebih baik.

Ketika Sosok Itu Hadir

april_2017-03-24-17-49-36-749Yakinlah,
Saat sosok mungil tersebut Allah hadirkan ke dalam kehidupan kita,
Akan ada banyak hal yang berubah.
Tidak hanya sekedar perubahan waktu tidur,
Perubahan skala prioritas,
Perubahan kebiasaan,
Tapi juga perubahan cara pandang kita terhadap dunia.
You just found yourself take anything into consideration.
You pray a lot.
Hope a lot,
Not for yourself,
but for your child,
Your family. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau… “(Q. S 2 : 128)

Terima Kasih, Zaujaty

Akhir februari 2015,
Saat aku memilih untuk tidak memilih,
Memilih untuk menyerahkan urusan jodoh kepada Yang Maha Mengatur.
Memilih untuk menuliskan asa pada dua halaman kertas A4, yang kulampirkan dengannya selembar pasfoto.
Rasa khawatir senantiasa hadir,
Tapi selalu terusir,
Saat kulipat doa rapih,
Aku memilih untuk tidak memilih,
Mempercayakan bahwa Allah akan memilihkan yang terbaik,
kita hanya perlu berhusnudzon pada-Nya.

IMG_20170226_195559_272.jpg

Lalu ada nazhar yang membuat hati bedegup,
Ada ta’aruf yang membuat wajah tersipu,
Ada khitbah yang memantapkan keyakinan,
Ada akad yang menyatukan dua asa.
Selalu ada rasa khawatir disela-selanya,
Tapi selalu terusir,
Saat kulipat doa,
Dengan rapih.
Aku memilih untuk tidak memilih,
Meyakinkan diri semuanya telah Dia atur dengan sebaik-baiknya pengaturan,
Kita hanya harus ikhtiar dan berhusnudzon pada-Nya
Lalu sosok mungilpun hadir,
Setelah 46 minggu 3 hari penantian,
Setelah 5 jam degup jantung berpacu,
Membawa kekhawatiran yang baru.
Ah… Sampai sekarangpun rasa khawatir itu selalu hadir,
Namun, tidak lama.
Selalu terusir.
Pada doa yang terlipat rapih.
Pada senyum yang menyambut di balik pintu,
Senyum yang manis milikmu itu.
Aku memilih untuk tidak memilih,
Membiarkan rasa khawatir itu hadir,
Bersama harap yang bersemi kemudian, seperti yang sering kau ingatkan,
Tiada satupun yang perlu dikhawatirkan,
Ketika Allah membersamai kita.
Terima kasih Zaujaty.

Nimatnya Menjemput Rezeki Setelah Menikah

Hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Berangkat ke sekolah, mengajar, menghadapi siswa dengan segala ‘keunikan’nya, berhadapan dengan tugas dan amanah yang harus dilaksanakan. Sampai tidak terasa waktu ashar.
Aktivitas berlanjut dengan belajar tambahan persiapan UN/SBMPTN untuk kelas XII, sampai senja mulai malu-malu menenggelamkan dirinya.
Dari sekolah mampir ke Bimbel, ada jadwal mengajar satu kelas. Rehat sejenak saat maghrib dan isya. Digit jam di ponsel menunjukkan lebih beberapa menit dari pukul 20.00 saat si jingga saya kendarai menembus jalanan, pulang ke rumah.
Sungguh aktivitas yang biasa, untuk hari yang biasa, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja, hati terasa ringan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menjalankan satu tugas ke tugas yang lain. Tidak terasa berat dibanding tahun-tahun sebelumnya, yang tiap kali pulang selalu dengan lunglai seperti habis jadi korban tabrakan beruntun (alah).

img_20170217_205931_791Sungguh, terasa ringan.
Bisa jadi ini karena ada yang membukakan pintu dan membalas salam ketika sampai,
Bisa jadi ini karena ada senyum dan obrolan ringan ketika menyimpan barang,
Bisa jadi karena ada segelas teh yang tersuguh,
Bisa jadi karena ada sosok yang tertawa-tawa, berceloteh tanpa arti, lalu tertidur di pangkuan.
Bisa jadi karena setiap hal yang menanti di rumah ini menjadikan semua aktivitas terasa ringan.
Ya, sungguh menjemput rejeki terasa berbeda rasanya setelah menikah.
Nikmat sekali.

Generasi Ke-4

AlhamduliLlah, walau tidak dari awal mereka masuk, 2 tahun akademik saya membersamai mereka.
Dari Camp, Tour, sampai Homestay (yang terakhir ini cuma jemput saja hehehe).

62 nama, punya karakter berbeda, hanya saja saya yakin, tiap generasi punya ciri khas tersendiri, dan generasi keempat ini punya warna yang unik.
Yang terkadang membuat senyum-senyum sendiri kalau ingat bahwa ada saja tingkah yang mereka lakukan.
16708452_10210226087440628_4151012868267959044_n
Yang membuat kami bangga adalah mereka mengalami perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik.
Sungguh, kalau ditanya ridho atau nda terhadap mereka,
Saya 99.99% ridho, karena mereka sudah mau berusaha untuk menjadi pribadi yang sholeh-sholehah dan berbakti pada orang tua serta guru.
(Jangan tanya kemana 0.01%, anggap saja itu keselnya kami kalau mereka diminta segera turun untuk shalat masih suka ngobrol dan ngumpul di kamar mandi. Dulu benerin rambut, sekarang cuci muka berjamaah 😂😂😂)

AlhamduliLlah ‘alla kulli hal, in sya Allah generasi keempat ini generasi hebat, sama seperti Hokage keempat yang hebat (apa sih), sama seperti generasi sebelumnya, dan juga generasi setelahnya.