Jealousy

Saat satu tahun akademik saya lewati pertama kali di Sekolah Global Madani sebagai Homeroom Teacher (HRT), saya harus menghadapi jealousy syndrome dari anak-anak yang tidak lagi menjadi bagian dari kelas saya di tahun akademik berikutnya.

Sejujurnya saya merasa geli melihat tingkah mereka saat itu. Ada yang bilang saya pilih kasih, nda care lagi, bahkan sampai ada yang menampilkan prilaku ‘ngambek’ yang parah. Tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka paham bahwa siapapun HRT-nya, menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri adalah tanggung jawab diri sendiri, bukan karena diminta oleh HRT.
Foto Ahmad Naufal Umam.
Satu tahun akademik terlewati kembali. Mereka lulus dengan baik. Saya bangga dengan pencapaian akademik dan perilaku mereka, baik yang menjadi bagian dari kelas saya maupun yang tidak.

Continue reading

Menjadi Guru

Pagi ini, setelah membaca Surat Al-Kahf, saya meminta seorang anak untuk membacakan terjemah ayat ke-10 dari surat tersebut. Saya menceritakan kepada anak-anak bahwa dalam ayat tersebut terdapat doa yang dibaca oleh pemuda Kahfi ketika masuk ke dalam gua. Doa yang bisa dilafalkan agar Allah memberikan rahmat-Nya dan menyempurnakan setiap urusan. Seperti ujian dan urusan-urusan lainnya. Kamipun melafalkan doa tersebut bersama-sama.
Lalu pelajaran pertama dimulai.

Setelah pergantian jam, sebuah buku catatan terbuka di atas meja salah satu anak, potongan ayat yang kami baca tadi lengkap dengan terjemahnya tertulis di sana. Ternyata tanpa diminta, anak tersebut menuliskan potongan ayat tersebut. 

Foto Ahmad Naufal Umam.

Saya menghela nafas. Ah.. sungguh benarlah menjadi guru itu bagai berada di ladang amal yang terhampar luas. Saat kita memberikan kebaikan, maka kebaikan itu akan menjadi amal jariyah yang pahalanya akan mengalir terus menerus kepada kita. Namun sebaliknya, menjadi guru juga bisa menjadi beban yang berat. Karena ketika yang kita bagikan adalah keburukan, maka hal itu juga akan menjadi dosa jariyah yang kelak konsekuensinya terus mengarah kepada kita.

Persepsi

​Cinta tidak pernah meminta kita untuk menyamakan sudut pandang 

Melihat suatu hal dengan lensa yang sama 

Cinta tidak pernah meminta kita untuk menghadirkan persepsi seragam 

Memandang sesuatu dengan kacamata yang sama 

Cinta tidak pernah meminta hal seperti itu 

Cinta meminta kita untuk mengambil gambar dan persepsi yang berbeda 

Meletakkan pada tempat yang sama 

Lalu kita memilih 

Menerima yang baik 

Memperbaiki yang buruk 

Hingga hadir ragam cerita untuk objek yang sama 

Cinta meminta untuk ridho dan menerima setiap persepsi yang berbeda 

Setiap sudut pandang yang berbeda 

Gambar yang berbeda 

Bukan karena kita mengalah 

Tak punya pendirian 

Tapi karena kita cinta. 

Kesadaran Seorang Guru

Ada keunikan tersendiri saat kita mengajar di sekolah yang tidak menjadikan kemampuan dan kecerdasan kognitif sebagai syarat penerimaan siswanya. Kita akan menemukan siswa dengan kemampuan dan kecerdasan yang bervariasi.

Jujur saja, sebagai guru fisika, saya akan senang bila menemukan siswa yang memiliki kemampuan matematis yang ‘kece’, memiliki kemampuan analisis dan berpikir yang mumpuni, serta mampu memahami konsep secara utuh. Dan tentu saja, saya merasa ‘greget hati’ bila menemukan siswa yang berkebalikan dengan hal tersebut.

Namun, di sinilah letak keunikannya. Sebagai guru kita harus memiliki kesadaran bahwa siswa memiliki kecepatan dan kemampuan balajar yang berbeda. Ada siswa yang bisa kita ajak berlari, ada siswa yang harus kita temani berjalan, dan ada siswa yang harus kita papah selangkah demi selangkah.

Capek? tentu saja. Tapi sungguh akan ada kebanggaan tersendiri saat ada siswa yang menunjukkan peningkatan, walaupun itu selangkah demi selangkah.

Lalu bagaimana jika kita menemukan siswa yang sulit sekali berubah dalam pelajaran kita? Jangankan berlari, berjalan saja sulit. Maka di sinilah dibutuhkan kesadaran yang kedua, bahwa siswa merupakan individu dengan kecerdasan yang berbeda. Masih ingat 8 kecerdasannya Gardener?

14519730_10209049444585292_7366240399838027981_n

Biarkan saya bercerita tentang Arya (siswa kedua dari kanan) dan Ihsan (siswa pertama dari kiri) yang memiliki tipe kecerdasan yang berbeda.

Continue reading

Great People, Good Vibes

“I’ve never been motivated by money. My peers and colleagues inspire me.” — Robin Chase

14330117_10208896577643714_1572923141014619794_n

Salah satu nikmat yang perlu disyukuri adalah nikmat memiliki rekan kerja yang bisa saling memahami dan menghargai,

Rekan kerja yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan.

Ketidaksepahaman pasti muncul, Tapi mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi adalah solusinya.

Sehingga kekompakan selalu terjalin. Karena itulah cara kita bersyukur, Atas nikmat Allah, yang telah menghadirkan mereka, Untuk menjadikan hidup kita lebih berwarna. AlhamduliLlah. I’m so grateful to be a part of the team

Guru dan Menjadi Bijak

Menjadi guru menuntut kita untuk bijak.
Dalam segala hal.
Termasuk dalam menghadapi “keunikan” siswa.
Karena tiap siswa memiliki karakter masing-masing, dengan segala latar belakang yang berbeda.

Cara “ngasuh”-nya pun berbeda.
Ada yang harus diembeli kata “cantik” atau “ganteng”, ada yang harus diberi contoh dulu, ada yang harus diajak debat dulu, ada yang harus diajak ngobrol dulu, ada yang ini-itu.

Processed with VSCO with a1 preset

Processed with VSCO with a1 preset

Itu semua menuntut guru untuk bijak, tidak men-judge dari sudut pandang kita sendiri. Apalagi sampai membandingkan dengan yang lain.
Selalu ada alasan yang kita tidak ketahui yang membuat mereka melakukan perilaku tidak baik.

Sehingga membutuhkan hati yang lapang dari seorang guru untuk tidak pernah berhenti membimbing mereka. Selalu mengingatkan mana yang baik dan buruk.

Karena kita tidak pernah tahu akan menjadi apa mereka nantinya.

Kita dan Lompatan-Lompatan Peran

Kubangun dengan cinta,
Kau rawat dengan doa,
Demikianlah kita,
Berumah di tangga,
Menuju surga – Fahd Pahdepie

Tengah malam begini, akhirnya sempat juga mengisi kembali blog. Semenjak tahun ajaran baru dimulai, amanah semakin bertambah. Inipun baru selesai merapikan dekorasi kelas untuk pagi ini.

AlhamduliLlah, setelah resmi menjadi HRT untuk kelas XII (yang AlhamduliLlah mantap banget rasanya), awal masuk mendapat kepercayaan untuk membuat video napak tilas 6 tahun Sekolah Global Madani bareng Principal (yang AlhamduliLlah, pesan yang ingin saya sampaikan via video tersebut tersampaikan), membantu Bu Diah untuk penelitian di bidang metakognisi (yang AlhamduliLlah, nambah ilmu lagi), jadi secretary untuk parents teachers confrence SMA Global Madani, menjadi committe acara resepsi pernikahannya Mas Fiki dan Mba Marlis minggu lalu, dan Sabtu ini jadi panitia pelaksanaan mabit untuk kader kampus se-Bandarlampung.

Dengan semua kegiatan semenjak Juli lalu, saya tahu yang paling dirugikan adalah istri saya. Kegiatan yang mengantri tersebut terpaksa membuat saya membawa pekerjaan ke rumah, begadang sampai pagi. Bahkan sampai beberapa hari tidak tidur. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop dan hape, ketimbang ngobrol berdua, kayak di awal-awal bulan pernikahan dulu.

Celakanya, saya malah kepikiran kalau istri saya pasti mengerti dan mau menerima segala kesibukan tersebut. Ya, dia memang mengerti. Sampai pada suatu hari, saya tidak tahu kalau istri saya tidak masuk sekolah karena sakit. Sampai pada suatu hari, istri saya mendiamkan saya sampai  seharian, gegara dia melihat nama saya sebagai ketua pelaksana Homestay SMA yang pelaksanaanya tepat dengan HPL anak pertama kami.

IMG_20160817_131804

Continue reading