Hijrah dan Cermin

Hijrah, sebagai upaya untuk menghapus sifat-sifat jahiliyah yang ada dalam diri, sungguh bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Karena sekeras apapun kita berusaha membersihkan, pasti akan ada sisa-sisa kotoran yang menempel, ada sifat-sifat yang tidak bisa dihilangkan.

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, dari teriak marah Rasulullah kepada Abu Dzar,

“Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.!”

Saat Abu Dzar dengan mudahnya berkata kepada Bilal,

“Wahai anak wanita berkulit hitam.”

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, pada Umar Bin Abdul ‘Aziz yang menangis,

Aku takut itu adalah cara jalan angkuh yang dibenci Allah

IMG-20170830-WA0012.jpg

Continue reading

Advertisements

Ujian Kesyukuran

Kesulitan yang kau alami,
Hanyalah sementara.

Kau takkan menyadari,
Kau semakin kuat,
Untuk setiap kelam malam yang kauhadapi.

Jiwamu semakin bijak,
Dan mulai menghargai,
Setiap berkah yang kauterima dalam hidup.

img_20170207_210422_459

Tidakkah kaurasakan,
Hadirnya kepuasan,
Untuk setiap tantangan,
Yang kau hadapi,
Dengan sepenuh hati?

Kau beranjak tua,
Kau beranjak dewasa,
Dan menjadi bijak.
Maka nikmatilah,
Apa yang hidup ini tawarkan
Padamu.

We All Make Choices, But In The End Our Choices Make Us

Sungguh, rumput tetangga itu selalu terlihat lebih hijau dari rumput sendiri. Padahal bisa jadi rumput yang lebih hijau itu bukanlah rumput yang sebenarnya, rumput sintetis yang biasa dipakai di lapangan futsal. Bisa jadi seperti itu.

Namun, tidak bisa dipungkiri, terkadang kita lupa, terkadang kita khilaf, saya pribadi sering merasakan seperti ini, lupa dan khilaf untuk bersyukur atas setiap karunia yang Allah berikan dalam hidup. Sehingga, pada akhirnya kita hanya melihat di sekitar kita begitu kekurangan, sedangkan di luar sana begitu kelebihan.

Wah, bahasannya berat banget. Heheheheh…

Semenjak menyelesaikan PPG dan kembali ke Bandarlampung. saya mulai merasa minder. Perasaan yang membuat saya tidak mau banyak bergaul bahkan jadi sedikit pendiam–yang sama sekali bukan sifat saya. Saya juga merasa ada yang salah dengan diri saya, makanya saya pernah membahas tentang krisis percaya diri pada posting sebelumnya (disini) dan memang berhasil untuk beberapa minggu. Tapi entah kenapa, krisis yang saya alami tidak pernah benar-benar hilang, terkadang terbangun di pagi hari, I ask my self, “why am I here?”. Begitu terus menerus.

Usut punya usut, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri. Ada banyak hal, yang bila dijabarkan akan menghasilkan artikel dengan tebal yang luar biasa, tapi intinya adalah saya merasa tidak yakin dengan pilihan hidup yang saya pilih dari beberapa tahun ini.

Continue reading