Hijrah dan Cermin

Hijrah, sebagai upaya untuk menghapus sifat-sifat jahiliyah yang ada dalam diri, sungguh bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Karena sekeras apapun kita berusaha membersihkan, pasti akan ada sisa-sisa kotoran yang menempel, ada sifat-sifat yang tidak bisa dihilangkan.

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, dari teriak marah Rasulullah kepada Abu Dzar,

“Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.!”

Saat Abu Dzar dengan mudahnya berkata kepada Bilal,

“Wahai anak wanita berkulit hitam.”

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, pada Umar Bin Abdul ‘Aziz yang menangis,

Aku takut itu adalah cara jalan angkuh yang dibenci Allah

IMG-20170830-WA0012.jpg

Continue reading

Advertisements

Hijrah

Kehidupan bagi seorang muslim haruslah menunjukkan grafik linear, dimana semakin hari harus semakin naik, kalaupun harus turun, maka akan naik kembali lebih baik dari sebelumnya.

Maka ketika ada yang menyinggung masa lalu kita,
Mulai dari perilaku yang tidak baik,
Aktivitas yang pernah kita lakukan,
Pemahaman yang tidak lurus,
Dan lain sebagainya.
Tak perlulah kita marah.
Justru bersyukur.
Artinya ada yang mengingatkan keadaan kita dulu dan alangkah meruginya kita jika kembali seperti keadaan tersebut.FB_IMG_1473594513218.jpg

Akan tetapi,
Jelaskan juga jika mereka mengenal kita berdasarkan apa yang mereka ketahui bertahun lalu, sungguh mereka belum tahu bahwa waktu bisa mengubah seseorang,
Jauh berbeda dari sebelumnya.

Bahwa setiap orang punya bab dalam hidupnya yang dia sesali pernah lakukan,
Takkan dia lupakan,
Dan tentu saja tak ingin dia ulangi kembali.
“Be a better person.”

Jelaskan juga pada mereka,
Sepeda yang kita kayuh sudah jauh melampui apa yang mereka ketahui tentang kita.

Terakhir,
Senyumin aja lalu bilang, “om move on om.”

Kota Agung dan Berhijrah

Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat… Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus ke berapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Peta itu…. bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sungguh Indah. Sama sekali tidak rumit. — Tere Liye

“Jadi lu mau ikut gw balik, Uq?”
“Bolehlah, gw pengen maen ke Banten, pengen kenal ortu lu juga Bang, Kali aja kalau lu kenapa-kenapa, ortu lu nanti ngehubungi gw”

Ini anak, pikirannya ada-ada aja, lagian juga kalaa ada apa-apa, ortu saya pasti menghubungi kakak saya yang di Tulang Bawang. Kami berjalan menyusuri dermaga yang ketiga, dermaga yang belum rampung, terlihat dari masih banyaknya berkarung-karung pasir dan timbulnya besi penopang dermaga.

“Kayak si Hanif, dia kan kalua pergi sama ceweknya sampai malam, ortunya nelepon gw, nanyain dia kemana” Faruq duduk di pinggiran dermaga, saya mengikuti, duduk di sampingnya. “wah, si Hanif punya cewek juga, Uq?” Saya agak heran, mengingat kawan sebangku Faruq itu setelannya bukan seorang yang berpacaran.
“Punya lah Bang, dia itu ahli banget ganti-ganti cewek. Banyak duit juga dia itu, ke Mall aja maenannya. Dia itu ponakannya Rektor”
“Ooooo….” Saya merasakan nada tidak senang saat Faruq menjelaskan, ya namanya anak muda.
“Kawan-kawan gw itu, Bang. Tajir-tajir, tapi ya itu, diajak sholat jama’ah itu susah banget. Kemaren-Kemaren aja dia orang rajin solat dhuha, sholat dzuhur berjamaah karena mau UN dan SNMPTN. Dulu-dulu mah gw ajakin ada aja alasannya”. Saya menahan tawa, aktivis rohis SMANDA senewen. “Ooo….”

Continue reading