Jealousy

Saat satu tahun akademik saya lewati pertama kali di Sekolah Global Madani sebagai Homeroom Teacher (HRT), saya harus menghadapi jealousy syndrome dari anak-anak yang tidak lagi menjadi bagian dari kelas saya di tahun akademik berikutnya.

Sejujurnya saya merasa geli melihat tingkah mereka saat itu. Ada yang bilang saya pilih kasih, nda care lagi, bahkan sampai ada yang menampilkan prilaku ‘ngambek’ yang parah. Tapi, seiring berjalannya waktu, akhirnya mereka paham bahwa siapapun HRT-nya, menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri adalah tanggung jawab diri sendiri, bukan karena diminta oleh HRT.
Foto Ahmad Naufal Umam.
Satu tahun akademik terlewati kembali. Mereka lulus dengan baik. Saya bangga dengan pencapaian akademik dan perilaku mereka, baik yang menjadi bagian dari kelas saya maupun yang tidak.

Continue reading

Advertisements

And This Is The End Of The Term…

“It is hard to convince a high-school students that they will encounter a lot of problems more difficult than those of algebra and geometry.”

Edgar Watson Howe

Setelah circle time pagi ini dan anak-anak sudah turun ke Al-Madani untuk seminar Social Media, saya mulai merapikan meja HRT yang sudah berantakan semenjak berakhirnya UAS. Ya, Raport juga sudah masuk ke Principal untuk ditandatangani, jadi tidak ada salahnya berbenah ‘sedikit’, biar nanti bisa nyantai saat closing time.

Meja HRT mulai saya geser, setiap bagian mulai saya sisihkan, satu persatu. Mulai saya sortir mana berkas yang masih dibutuhkan, mana yang bisa menjadi scrap paper, mana yang harusnya sudah dibuang. Saya sortir satu persatu. Seperti biasa, ternyata saya lebih banyak menyimpan hal-hal yang memang sudah tidak dibutuhkan lagi. hehehe..

Proses tidy up yang lumayan mengundang flashback, tiap berkas yang saya baca seperti mozaik-mozaik yang saya susun selama saya menjadi physic teacher di Global Madani, selama saya menjadi homeroom teacher kelas XI MIPA 2, selama saya mendapat amanah menjadi Abah bagi 22 siswa yang luar biasa.

Sungguh, saya sangat bersyukur Allah memberikan kesempatan yang luar biasa ini, karena saya mempelajari banyak hal dari pengalaman ini. Memperkaya hidup saya dengan seabrek ilmu, cerita, hikmah, yang saya yakin akan berguna bagi kehidupan saya di masa yang akan datang.

“Perbaiki diri terlebih dulu, sebelum meminta anak didik kita memperbaiki diri”

22 anak-anak ini mengajari saya hal tersebut.

Berbagai pengalaman yang terjadi selama term ini menguatkan keinginan saya untuk terus menjadi guru, terus melakukan interaksi langsung dengan siswa. Berusaha memperbaiki negeri ini melalui mereka. Walau saya tahu, diri saya sendiri masih perlu banyak berbenah.

Ya, banyak sekali yang saya harus benahi.

Ah, asa teu nyambung sama qoute di awal. hehehe…

Afterall, this is the end of this term. I really excited for what will happen on next term.