Tawadzun dalam Amanah

Terkadang kita merasa cukup dengan amanah yang bisa tuntas kita kerjakan di luar sana.
Amanah-amanah yang menghadirkan decak kagum orang, tepuk tangan dan hal-hal gemerlap lainnya.

Namun, kita mengesampingkan bahwa ada amanah yang lebih besar, yang Allah berikan langsung kepada kita.
Melalui mitsaqan ghaliza,
Disaksikan para malaikat.
Amanah yang didapat ketika ijab terbalas oleh qabul.
Amanah itu adalah istri kita.

april_2017-06-25-15-51-29-567.jpg

Kita bersibuk ria,
Membawa pekerjaan ke rumah,
Membalas chat-chat yang menurut kita penting saat makan berdua,
Mengsampingkan bahwa ada hati yang ingin didengar curhatannya,
Hati yang ingin dipahami saat diamnya,
Hati yang terus bersabar menunggu kita luang waktu.

Continue reading

Advertisements

Jodoh Itu

Bukan suatu hal yang krusial, dengan siapa kita memilih mengarungi bahtera.
Yang terpenting adalah karena siapa kita mengarunginya.
Cinta yang dimulai karena cinta pada Sang Maha Pencipta akan selalu bertahan, di atas segala kondisi apapun. Karena yang kita harap adalah ridho-Nya.

IMG_20170402_181123_262

Sedang cinta karena makhluk, terkadang tidak akan selamanya bertahan sebagaimana tidak kekalnya apa yang ada pada diri orang yang kita cintai.
Bukankah perangai bisa berubah?
Bukankah fisik juga tidak akan selamanya rupawan?
Terlebih harta yang hanya titipan?
Lagi dan lagi,
Sungguh bukan hal yang krusial dengan siapa. Terlebih penting karena siapa kita menikah.
Lalu nikmati bagaimana Allah berikan setiap kejutan,
Saat kita husnudzon bahwa Dia telah siapkan jodoh terbaik,
Saat kita percaya pada janji-Nya,
Tidak akan pernah ingkar,
Tidak akan pernah aniaya.

Aku dan Kamu

Aku dan kamu bukanlah sepasang insan yang selalu menghabiskan waktu untuk saling mengagumi.
Aku dan kamu bukan sepasang insan yang selalu mengisi waktu luang dengan menyenangkan.
Aku dan kamu terkadang saling membenci.
Aku,
Membenci sikap diam dan tertutup yang selalu hadir saat sikapku tidak sejalan dengan maumu.

IMG_20170405_014220_089
Kamu,
Membenci ketidakpekaan dan ledakan emosionalku yang tidak terkendali.
Sayang, aku tahu aku bukanlah suami yang baik.
Sama halnya seperti hidup kita yang tidak selalu berjalan dengan baik.
Kadang kita tertawa lepas, kadang kita tertegun serius menghitung pundi-pundi yang tersisa dengan penuh was-was.
Kadang kita menikmati hidangan yang memuaskan, kadang kita membuka lemari es dengan helaan nafas, memanfaatkan apa saja yang tersisa di sana.
Namun, aku bersyukur.
Allah menakdirkan aku dan kamu,
menjadi kita.
Dengan segala ketidakpastian yang aku tawarkan,
kamu senantiasa menemaniku sehingga aku tidak sendirian.
Terima kasih, sayang.
Kamu ajarkan aku arti kesabaran,
Kamu ajarkan aku kerendahan hati.
Dan bersamamu, aku belajar mencintai.