Hijrah dan Cermin

Hijrah, sebagai upaya untuk menghapus sifat-sifat jahiliyah yang ada dalam diri, sungguh bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Karena sekeras apapun kita berusaha membersihkan, pasti akan ada sisa-sisa kotoran yang menempel, ada sifat-sifat yang tidak bisa dihilangkan.

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, dari teriak marah Rasulullah kepada Abu Dzar,

“Wahai, Abu Dzar. Engkau telah menghinakannya dengan merendahkan ibunya. Di dalam dirimu terdapat sifat jahiliyah.!”

Saat Abu Dzar dengan mudahnya berkata kepada Bilal,

“Wahai anak wanita berkulit hitam.”

Mungkin kita bisa berkaca sejenak, pada Umar Bin Abdul ‘Aziz yang menangis,

Aku takut itu adalah cara jalan angkuh yang dibenci Allah

IMG-20170830-WA0012.jpg

Continue reading

Advertisements

Tentang Ican dan Ayun, Duo Unik di Kelas

Setelah beberapa waktu lalu saya mem-posting cerita tentang Evi, saya mendapat complaint dari beberapa siswa di kelas. Mereka juga ingin dibuatkan postingan yang menceritakan diri mereka masing-masing. Dan itu membuat saya pusing karena itu artinya saya harus membuat 21 cerita berbeda berdasarkan pribadi mereka.

Sayapun bingung harus memulai dari siapa. Hingga tadi sore saya melihat sebuah foto dari dua siswa paling unik di kelas XI MIPA 2, dua siswa yang biasa saya teriaki tiap hari, yang biasa saya marahi tiap hari. 2 siswa yang mengalami perubahan drastis dari awal semester.

2 siswa itu, Ayun dan Ican.

IMG_5534

Ayun dan Ican Saat Pembuatan Proyek Drama Bahasa Inggris

Ketika diminta menjadi HRT kelas XI MIPA 2, para guru mewanti-wanti saya tentang seorang siswa yang mempunyai kepribadian unik sewaktu kelas X, Muhammad Ihsan. Saya sempat tidak percaya ketika mendengar cerita mereka tentang Ican. Mana ada siswa seperti itu, sampai saya menyaksikan sendiri tingkah laku Ican.

Continue reading

Anak Abah 2.0?

Tahun akademik 2015/2016 telah berakhir. Jujur saja saya menikmati aktivitas saya belakangan ini. Sebagai guru fisika, sebagai wali kelas, sebagai tutor, dan tentu saja sebagai a father-to-be. Walaupun mulai getar-getir, khawatir malah merasa nyaman dan lupa akan tujuan awal kenapa saya menunda untuk melanjutkan studi. Afterall, I’m enjoying my life currently. 

Kegiatan yang penuh di sekolah memaksa saya mulai melonggarkan aktivitas riset dengan Pak Abe. Lumayan membuat rasa tidak enak. Harapannya, tim mengerti dengan keadaan saya yang sekarang, dan saya sendiri sadar. Kalau dengan 3 job sekaligus dalam sehari, badan rasanya sudah tidak karuan ketika pulang ke rumah. Tapi kalau soal silaturrahim, tetap jalan. Saya masih sering mampir ke dekanat untuk menyapa Abi, Mr.B, Bu Diah, dan tim yang lain. Walau memang tidak serajin dulu, setidaknya masih bisa mengobrol menjelang sore.

Balik lagi ke cerita di sekolah, para pimpinan sedang sibuk dengan penempatan tiap guru, pembagian jam mengajar, dan rolling guru antar unit. Bagian terakhir saya tidak mau ambil pusing, karena saya sudah nyaman dengan kondisi saya di unit di SMA. Akan susah sekali kalau misalnya harus pindah unit. Karena pasti harus beradaptasi dengan tim yang baru, menyiapkan perangkat baru, dan tentu saja belajar menghadapi kondisi siswa yang berbeda.

Continue reading

Mari Belajar Untuk Tidak Berasumsi

Mari belajar memandang manusia sebagai makhluk yang dinamis. Tidak adil rasanya bila kita menilai orang lain dari apa yang dia pernah lakukan di masa lalu. Everyone can learn from their mistakes and fix them in the future. All we have to do is forgive them by hating the mistakes not the person who made them.

image

Mari belajar membebaskan diri dari prasangka. Prasangka yang terlalu baik bisa melalaikan kita dan membebani orang lain, dan pada akhirnya akan mengecewakan diri kita sendiri. Prasangka buruk juga akan membebani kita dengan sikap menghakimi orang lain. Keep it balance.

Continue reading

Setahun Membersamai Mereka

“The bond that links your true family is not one of blood, but of respect and joy in each other’s life.”
-Unknown
Setahun lalu, di acara yang sama, saya datang sebagai ‘orang baru’. Dengan segala kekikukan, rasa gugup, dan malu, saya menceritakan siapa diri saya. Mereka menerima dengan senyum.

Setahun berjalan, ‘orang baru’ ini belajar banyak hal. ‘Orang baru’ ini juga sadar, Allah memberikan kesempatan membersamai mereka, yang selalu menjadi kakak, mba, abi, bunda, dan kawan dalam petualangan barunya. Dan mereka selalu menerima, baik dan buruk dalam diri, dengan senyum.
Hingga akhirnya diri ini memahami esensi bahwa untuk bisa diterima kita harus membuka diri terlebih dahulu. Membuka diri terhadap hal yang baru, amanah baru, kesibukan baru, kerumitan baru, ilmu baru, dan hal-hal lain yang membuatnya bersyukur.
13413708_10208154616215142_1619114765500091169_n

Buka Bersama Keluarga Besar SMA Global Madani, Ramadhan 1437 H

 

Setahun berlalu, saya berada di sini, masih membersamai mereka. Pedih memang, harus menerima kenyataan bahwa di antara mereka ada yang pergi. Tapi bukankah sudah menjadi takdir Allah, bahwa orang akan datang dan pergi dalam kehidupan kita, yang terpenting adalah bagaimana menjaga ikatan yang sudah terjalin agar tidak terputus.

Susah memang, tidak akan semudah saat selalu bersama. Tetapi, in sya Allah bisa diusahakan. Bukankah ada rabithah sebagai pengikatnya?

Continue reading

Ya Allah, berkahilah Bapak

“Ya Allah, berkahilah Bapak,
Lelaki yang sangat berarti bagi kami,
Yang sangat bertanggungjawab
Atas siapa dan akan menjadi apa kami.

Berkahilah dia atas keberaniannya
Untuk melakukan hal-hal yang menjauhkan kami dari masalah,
Yang membuat kami santiasa berbuat hal yang benar,
Yang membantu dalam pembentukan karakter kami,
Walaupun hal itu terkadang membuat kami marah.

Dan berkahilah dia yang terus menyemangati kami untuk selalu melakukan yang terbaik,
Atas setiap amanah yang ditawarkan hidup kepada kami.

Berkahilah dia atas usahanya menjadi pelindung kami,
Yang terus berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap ujian hidup,
Yang terus membuat kami percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja,
Dan membuat semuanya baik-baik saja.

Berkahilah dia atas usahanya menafkahi orang-orang yang paling dia cintai,
Atas usahanya menyediakan makanan yang hangat, pakaian yang layak, dan tempat tinggal yang teduh, bagi kami.
Atas kesabarannya menginvestasikan waktu dan hidupnya, untuk kami.

Berkahilah dia atas caranya mengajak kami untuk memandang hidup,
Sebagai sebuah petualangan,
Yang harus dihadapi dengan senyuman.
Yang harus dijejaki tiap liku dan undakannya,
Yang harus diambil pelajarannya.

Berkahilah dia yang mengajari kami bahwa hidup bukanlah cita-cita akhir,
Ada cita-cita tertinggi yang menjadi tujuan paling utama,
Berkumpul di surga-Mu.

Berkahilah lelaki panutan kami,
Suri taudalan kami,
Pahlawan kami.

Ya Allah, berkahilah Bapak.”

Tentang Sebuah Proses …

Kebahagiaan paling tinggi adalah kenyataan bahwa kita dicintai, meski bagaimanapun keadaan kita.– Unknown

4 Januari 2016

Seminggu telah berlalu, rasanya melihat senyummu di balik pintu, membuat dinginnya pagi ini tidak terasa. Berat untuk memulai kembali aktivitas dan berpisah.
“Apa lagi A yang ketinggalan?”
“Helm Yang”
“Ah, pasti pengen ketemu lagi kan?”
Saya hanya tersenyum menerima helm yang kamu berikan.
“Aa berangkat ya yang”
Ah.. Beda rasanya, sungguh beda antara berangkat kerja dua minggu yang lalu dengan hari ini. Sungguh beda. Sepanjang perjalanan saya terus berpikir, is it a dream? am I dreaming?

Continue reading