Idul Adha dan Meneladani Ibrahim

Idul Adha merupakan momen yang tepat bagi kita untuk memaknai kembali makna pengabdian kepada Allah. Tidak hanya melalui ibadah qurban tetapi melalui perjalanan hidup Ibrahim dan keluarga, yang menyejarah sampai sekarang.

20914177_10211803029663198_2206129430563656441_n

Dari Ibrahim kita belajar untuk menjadi imamul muttaqin, imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Menjadi kepala keluarga yang mampu memberikan nasihat dan teladan kepada orang-orang terdekatnya, mampu membimbing keluarganya menjadi keluarga yang yakin, taat, bertawakkal dan berhajat hanya kepada Allah saja.

Tidak mudah untuk dilakukan, karena Ibrahim menunjukkan kepada kita bahwa untuk menjadi imamul muttaqin, kita harus siap untuk menjadi pribadi yang taat dan berserah diri dengan penuh keikhlasan kepada Allah walau hidupnya terus dipenuhi dengan ujian.

Continue reading

Advertisements

Terima Kasih, Mama

The Queen of My Heart

Terima kasih Mama,
Untuk setiap terjagamu yang selalu lebih awal,
Menghadap Rabb, selalu mendoakan kami,
Anak-anakmu, yang terkadang lupa mendoakanmu juga.

Terima kasih Mama,
Untuk setiap usaha terbaikmu,
Yang senantiasa mempersiapkan yang terbaik,
Memberikan yang terbaik, untuk kami,
Anak-anakmu, yang terkadang khilaf
Mempersembahkan yang terbaik juga.

Terima kasih Mama,
Untuk setiap percayamu,
Yang selalu engkau berikan,
Saat kami memilih langkah hidup,
menjalani hidup sekehendak kami,
Anak-anakmu, yang sombong ini
Membatu tanpa dengar nasehatmu

Terima kasih Mama,
Untuk setiap maafmu,
Yang selalu sedia tanpa diminta,
Saat kesalahan tercipta, khilaf melukai hati, airmata terjatuh, karena kami
Anak-anakmu, yang terkadang lupa
Mensyukuri bahwa engkau anugerah terindah.

Terima kasih Mama,
Untuk setiap hadirmu,
Di saat suka dan duka, maupun terluka menimpa
Anak-anakmu, yang terkadang tak ingat
Menyadari bahwa engkau bidadari kami

Terima kasih Mama,
Untuk rumah yang nyaman, makanan yang hangat,
pakaian yang layak, haribaan yang sejuk,
pelukan di badan, kecupan di pipi, elusan di kepala,
pesan ‘jangan lupa sholat dan mengaji’,
dan senyum yang menenangkan itu.

Terima kasih Mama,
Untuk kasih dan sayangmu..

Terima kasih Mama,
Untuk cinta sepanjang hayat, yang engkau berikan.

Terima kasih Mama,
Dan maafkan kami, Anak-anakmu yang hanya ingat,
Mengucap terima kasih, setahun sekali,
Sedang kasih, sayang, dan cintamu sepanjang tahun,
24 jam sehari, 7 hari seminggu,
engkau berikan terus menerus.
Terima kasih Mama..


Wilujeung Tepang Tahun, Mama….

Terkadang Kita Lupa

Alkisah, hiduplah seekor kelinci bersama dengan neneknya, berdua saja. Karena orang tua kelinci telah meninggal bertahun lalu, diburu pemilik tanah, itu cerita nenek, meninggalkan kelinci hanya dengan nenek, berdua saja di sarang sempit dekat danau.

Hidup berdua saja dengan nenek tentu membuat hidup mereka serba kekurangan. Hidup yang sangat sulit, bahkan untuk sekedar makan 3 kali sehari saja mereka kesusahan. Sangat kesusahan. Kelinci dan Nenek tak pernah mengeluh, mereka menjalani hari selalu dengan penuh syukur, dengan penuh semangat. Mereka tempuh hidup dengan penuh suka cita.

Satu hal yang membuat Kelinci bertahan dan terus ceria adalah dongeng nenek setiap menjelang tidur. Dongeng yang selalu memberikannya semangat untuk meraih mimpi, semangat untuk merubah nasibnya, semangat untuk menjadi seekor kelinci yang sukses. Bukan dongeng sebenarnya, itu kisah tentang paman kelinci nan jauh di pulau seberang sana. Kisah tentang paman kelinci yang telah sukses setelah mengalami berbagai macam kesulitan dalam hidup.

Nenek selalu bercerita bagaimana dulu paman kelinci semasa kecil. Dia giat bekerja, rajin beribadah, senang membantu orang tua. Bahkan nenek juga bercerita bagaimana paman kelinci bisa bersekolah, berjuang untuk bisa mendapat pendidikan seperti hewan-hewan lain yang lebih berada, berjuang untuk mendapatkan pengakuan dari tetangga-tetangga.

Continue reading

Merantaulah, dan kau kan tahu apa arti rindu sesungguhnya.

Sore itu, selepas pulang dari kantor, dengan sedikit lelah dan lesu mengendarai si abu-abu melintasi gang-gang di kampung baru. Beberapa kali terkantuk, hampir menabrak kendaraan dan pembatas jalan, mata memang sudah tidak bisa lagi dikompromi. Sampai di jalan utama, teringat bahwa di rumah belum ada ta’jil untuk maghrib ini. Maka saya bawa si abu menuju pasar di dekat rel kereta. Tepat menuju tukang gorengan.

Setelah beberapa kali ditanya mba pedagang gorengan, tentang jumlah gorengan yang hendak dibeli, akhirnya deal juga. Entah kenapa, serasa kabur, mungkin mba tersebut juga heran dengan pembelinya. Ditanya kok ngelamun terus. Ditanya kok galau terus. Beli gorengan aja kok kayak milih pasangan hidup.

Selepas beli gorengan lanjut ke rumah, masih dengan perasaan yang sama. Sampai-sampai hampir kelupaan gang senen, dan berhenti mendadak di tengah jalan, konstan membuat pengendara yang lain di belakang nge-klakson keras.

ah… bloody hell, what’s wrong with me.?

Sampai ke rumah, tak ada satupun tanda-tanda penghuni, syukur sudah duplikasi kunci, bener kata kyai, akan kerepotan kalau saya sendiri tidak membawa kunci.

Setelah dengan berat hati melepas sepatu, memasukkan si abu ke dalam rumah, dan mengganti pakaian, saya rebahkan badan di atas karpet di ruang depan. Menatap layar handphone dengan kebas.

Babeh, tangan dengan refleks menekan tombol panggil.

Continue reading