Manfaat Storytelling pada Bayi

Beberapa riset tentang reading and sharing books with babies telah banyak dilakukan, dan semuanya menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara perkembangan kecerdasan dan otak dengan kebiasaan membacakan cerita dan buku pada bayi.
Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Saloni Krishnan dan Professor Mark H. Johnson, Centre for Brain and Cognitive Development di Birkbeck, University of London.

IMG_20170312_060154_620

Mereka menemukan bahwa kebiasan orang tua untuk membacakan buku pada bayi usia 3-4 bulan, dimana pada usia tersebut bayi mulai mengalami perkembangan aktivitas visual dan skill perhatian dasar, memberikan dampak positif pada kemampuan berkomunikasi dan berbahasa pada tahapan usia selanjutnya.
Diana Gerald, CEO dari Book Trust, mengatakan bahwa membacakan buku pada bayi akan membangun ikatan yang kuat antara orangtua dengan bayi tersebut. Selain itu, hal ini juga memberikan peluang perkembangan kecerdasan berpikir lebih cepat, sehingga mampu meningkatkan skill-skill kecakapan hidup lebih baik.

Jalan ini

Saya membayangkan diri saya bertahun lalu; polos, dekil, tidak pintar-pintar amat, dan bercita ingin menjadi dokter. Hingga saya dihadapkan dengan kenyataan bahwa menjadi tenaga medis itu bukan perkara mudah. “Jadi guru fisika saja.” Maka bertahun saya habiskan untuk belajar menjadi guru. Tapi passion itu belum muncul juga. Hey, it’s okay. Kelak ada masanya gairah itu muncul, lagipula mengikuti apa kata orangtua tidak ada ruginya.
Sampai tiga bulan pengalaman bermukim di Cahyou Randu. Di antara kebun karet dan singkong, menenteng triplek whiteboard yang dibagi 6, dari dusun ke dusun, mengajar IPA dan matematika untuk anak sekolah dasar, setiap sore. Gairah itu muncul.
Perjalanan Cahyou Randu ke Pagar Dewa, di antara perkebunan sawit dan tanah-tanah kosong. Jalan yang berbatu. Gairah itu makin menyengat, “Di Indonesia pasti masih banyak daerah-daerah yang susah aksesnya, bagaimana anak-anak di sana belajar?” Allah menjawab dengan memberikan pengalaman langsung. Satu tahun hidup di selatan Indonesia, merasakan sendiri perjuangan pendidikan di sudut nusantara. Di antara indahnya alam ciptaan Yang Maha Kuasa, saya belajar banyak hal; toleransi, budaya, bahasa, dan lainnya. Hingga gairah itu terus menyengat, menunjukkan arti dari pengabdian yang sebenarnya.

IMG_20170313_213050_543
Gairah itu membawa saya ke Tanah Pasundan, di antara Rusunawa, Gedung Jica, Jalan Belitung No 8, untuk belajar kembali, untuk memahami kembali esensi menjadi seorang guru. Hingga gairah itu membakar hati, hingga air mata meleleh, bahwa menjadi guru menghadirkan tanggung jawab moral yang besar.
Gairah itu masih ada sampai saat ini, terkadang redup, terkadang menyala terang.
Saya tahu, ketika saya terduduk sebentar menunggu siswa mencatat, melemparkan lelucon garing, yang biasanya direspon dengan tatapan bermakna, “Apa sih, Bah?” Atau ketika saya terduduk mendengarkan curahan hati dan celotehan mereka.
Saya tahu, saat-saat seperti itu menjadikan gairah itu semakin membara.
Saya ingin terus seperti ini, memberikan yang terbaik yang saya bisa kepada siswa. Mendidik sekaligus terdidik. Memberi teladan sekaligus meneladani.
Menjadi guru seutuhnya.
Yeah, I wanna be remembered as Naufal who teaches.

Ketika Sosok Itu Hadir

april_2017-03-24-17-49-36-749Yakinlah,
Saat sosok mungil tersebut Allah hadirkan ke dalam kehidupan kita,
Akan ada banyak hal yang berubah.
Tidak hanya sekedar perubahan waktu tidur,
Perubahan skala prioritas,
Perubahan kebiasaan,
Tapi juga perubahan cara pandang kita terhadap dunia.
You just found yourself take anything into consideration.
You pray a lot.
Hope a lot,
Not for yourself,
but for your child,
Your family. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau… “(Q. S 2 : 128)

Hijrah

Kehidupan bagi seorang muslim haruslah menunjukkan grafik linear, dimana semakin hari harus semakin naik, kalaupun harus turun, maka akan naik kembali lebih baik dari sebelumnya.

Maka ketika ada yang menyinggung masa lalu kita,
Mulai dari perilaku yang tidak baik,
Aktivitas yang pernah kita lakukan,
Pemahaman yang tidak lurus,
Dan lain sebagainya.
Tak perlulah kita marah.
Justru bersyukur.
Artinya ada yang mengingatkan keadaan kita dulu dan alangkah meruginya kita jika kembali seperti keadaan tersebut.FB_IMG_1473594513218.jpg

Akan tetapi,
Jelaskan juga jika mereka mengenal kita berdasarkan apa yang mereka ketahui bertahun lalu, sungguh mereka belum tahu bahwa waktu bisa mengubah seseorang,
Jauh berbeda dari sebelumnya.

Bahwa setiap orang punya bab dalam hidupnya yang dia sesali pernah lakukan,
Takkan dia lupakan,
Dan tentu saja tak ingin dia ulangi kembali.
“Be a better person.”

Jelaskan juga pada mereka,
Sepeda yang kita kayuh sudah jauh melampui apa yang mereka ketahui tentang kita.

Terakhir,
Senyumin aja lalu bilang, “om move on om.”

Generasi Ke-4

AlhamduliLlah, walau tidak dari awal mereka masuk, 2 tahun akademik saya membersamai mereka.
Dari Camp, Tour, sampai Homestay (yang terakhir ini cuma jemput saja hehehe).

62 nama, punya karakter berbeda, hanya saja saya yakin, tiap generasi punya ciri khas tersendiri, dan generasi keempat ini punya warna yang unik.
Yang terkadang membuat senyum-senyum sendiri kalau ingat bahwa ada saja tingkah yang mereka lakukan.
16708452_10210226087440628_4151012868267959044_n
Yang membuat kami bangga adalah mereka mengalami perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik.
Sungguh, kalau ditanya ridho atau nda terhadap mereka,
Saya 99.99% ridho, karena mereka sudah mau berusaha untuk menjadi pribadi yang sholeh-sholehah dan berbakti pada orang tua serta guru.
(Jangan tanya kemana 0.01%, anggap saja itu keselnya kami kalau mereka diminta segera turun untuk shalat masih suka ngobrol dan ngumpul di kamar mandi. Dulu benerin rambut, sekarang cuci muka berjamaah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

AlhamduliLlah ‘alla kulli hal, in sya Allah generasi keempat ini generasi hebat, sama seperti Hokage keempat yang hebat (apa sih), sama seperti generasi sebelumnya, dan juga generasi setelahnya.

Maka Berlombalah dalam Kebaikan

Rabu pagi, selepas pelajaran Fisika, first break time. “Eh besok puasa yuk?” “Yuk, nanti malam kita sahur bareng.. Bangunin geh.” “Mau ikutan sih.. Bangunin ya.” “Iya kamu aja yang bangunin, saya susah bangun kalau malam.” Beberapa menit kemudian, setelah A minta dibangunkan oleh B. C jangan dibangunkan oleh D. E harus ditelepon, dan bla-bla-bla, akhirnya jadilah bagan jarkom kelas. Saya memperhatikan, dan memberi pendapat seperlunya. “Nanti sore share nope masing-masing di grup ya.” Sore harinya grup ramai, “telepon aja sih. Kouta saya mau abis.” “kamu bangun langsung aja nanti. Gak usah dibangunin.” “telepon ke no ibu saya aja ya.” Saya senyum-senyum saja, jadi silence reader.

16298970_10210142047539683_8536635935232540417_n
Menjelang subuh, notif penuh oleh obrolan. “Ada-ada aja, sahur kok pake sarden. Nanti haus loh.” “Si F udah bangun belom?” “Ngantuk oy” “shalat-shalat. Baru sahur.” Saya kembali senyum-senyum sendiri.
Pagi hari, “Kami semua puasa hari ini, Bah. Cuma D, W, gak puasa lagi udzur.”
“Saya gak sahur Bah, kirain semalam cuma tahajud aja.” Saya tersenyum, AlhamduliLlah.
Siang hari, para siswa tergeletak di belakang kelas, lemas. Para siswi beraktivitas as usual, lebih keliatan segar dari para siswanya.
Saat maghrib, “Selamat berbuka.” “Mantap.” Syukur dalam hati dan berdoa, semoga amal ibadah kalian diterima di sisi Allah, dan apa yang kalian hajatkan Allah kabulkan semua.

Social And Emotional Learning (SEL) Skill : Apa dan Mengapa?

Today’s students need to be equipped with SEL skills alongside traditional academic learning in order to compete in future markets. Teaching SEL skills will benefit the businesses, economy and society of the future as well as individuals. –Adam Shirley

Setelah bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun lalu, banyak terjadi pelonjakan jumlah tenaga kerja asing yang mulai mencari mata pencaharian di negara kita. Selain itu, dengan dibebaskannya visa kunjungan bagi beberapa negara juga menambah melonjaknya tenaga asing yang masuk ke negera ini.

Pelonjakan jumlah tenaga asing yang masuk sudah menjadi rahasia umum bagi kita, dimana media massa sudah banyak memberitakan bagaimana hal tersebut terjadi. Hal ini bisa menjadi bumerang bagi negara kita. Alih-alih memperbanyak investor yang datang, hal ini akan mengakibatkan makin banyaknya pengangguran yang ada. Mengingat masih kurangnya kemampuan bersaing yang dimiliki oleh sebagian besar masyarakat kita.

equrfocfhn_dlunqjmebhgivqhatpsbj9v1onj2hw40

source : World Economy Forum

Continue reading